Tafsir suna
Tafsir suna

Mengenal Tafsir Raudhatul Irfan Fi Ma’rifati al-Qur’an, Tafsir berbahasa Sunda Karya K.H. Ahmad Sanusi

K.H. Ahmad Sanusi adalah seorang ulama terkemuka di Indonesia, beliau adalah sosok Kyai yang jenius yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, beliau menjadi rujukan penting perkembangan keilmuan Islam di Indonesia khususnya di Jawa Barat karena telah melahirkan Kyai-kyai besar yang berpengaruh di tanah jawa ini.

Beliau merupakan sang pemikir dan pejuang yang gigih menentang kekuasaan Belanda hingga ia bersama sejumlah Kyai lainnya seperti KH. Wahid Hasyim, Moch. Yamin dan Kyai lainnya yang terlibat dalam merumuskan berdirinya negeri ini. Beliau patut mendapat penghargaan yang selayaknya, apalagi keilmuan yang dimiliki oleh KH. Ahmad Sanusi adalah salah satu rujukan bagi ulama besar di Jawa Barat seperti KH. Zainal Musthafa, KH. Choer Affandy, KH. Abdullah bin Nuh serta nama besar Kyai lainnya yang pernah berguru pada KH. Ahmad Sanusi.

Salah satu karya beliau yang paling menonjol adalah Tafsir Raudhatul ‘Irfan yang menggunakan bahasa Sunda yang terdiri dari matan (teks al-Qur’an), terjemahan matan dan syarah. Kemudian disisipi dengan masalah tauhid yang cenderung beraliran ‘Asy’ari dan masalah fiqh yang mengikuti mazhab Syafi’i.

 Riwayat Hidup dan Latar Belakang Keluarga K.H. Ahmad Sanusi

Dalam Daftar Orang-orang Indonesia Terkemoeka di Djawa tertulis Ahmad Sanusi lahir pada malam Jum’at, tanggal 12 Muharram 1306 H, bertepatan dengan tanggal 18 September 1888 di Desa Cantayan, Onderdistrik Cikembar, Distrik Cibadak, Afdeeling Sukabumi. Ahmad Sanusi merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara ibunya bernama Empok dan Ayahnya bernama K.H Abdurrahim bin H. Yasin (Ajengan Cantayan, Pemimpin Pondok Pesantren Cantayan).

Menurut catatan K.H Muh. Junaedi Mansur, silsilah keturunan K.H Ahmad Sanusi adalah keturunan dari Suria Dadaha Dalem Sawidak Sukapura (Tasikmalaya). Akibat timbulmya pertentangan pemerintah Jajahan Belanda, maka berpindah H. Yasin bin Idham bin Nur Sholih dari Tasikmalaya ke Sukabumi, kemudian ia mendirikan pesantren dan menjadi amil desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Sukabumi.

Baca Juga:  Maqashidus Syariah sebagai Nalar Ushuli dalam Sikap Moderasi (1) : Memahami Pengertian Maqashidus Syariah

Sebagai seorang anak ajengan, sejak kecil Ahmad Sanusi beserta seluruh saudaranya didik di alam lingkungan religius, proses pendidikan agama yang diterima Ahmad Sanusi dilakukan secara langsung oleh orang tuanya yang pada waktu itu telah mendirikan sebuah Pesantren Cantayan.

Seperti halnya di daerah lain, dalam kehidupan sehari-harinya pun, Ahmad Sanusi mendapat perlakuan istimewa dari para santri dan masyarakat sekitarnya. Hal tersebut disebabkan oleh rasa hormat mereka kepada kyai atau bentuk istilah lokal dipanggil dengan sebutan ajengan. Rasa hormat yang begitu tinggi yang diberikan masyarakat kepada kyai atau ajengan karena didorong oleh keadaan ilmu Agamanya.

Masa Pendidikan K.H. Ahmad Sanusi

Proses pendidikan awal K.H. Ahmad Sanusi diberikan langsung oleh Ayahnya, K.H. Abdurahim. Pendidikan tersebut meliputi membaca al-Qur’an dan menghafalkannya, praktik Ibadah, dan keilmuan yang lainnya hingga menggembala hewan-hewan. Menarik, hewan-hewan yang harus digembalakan Sanusi disesuaikan dengan umur beliau.

Ketika menginjak usia tujuh tahun, dirinya diberi tugas untuk menggembalakan kambing. Tugas ini dijalani oleh Ahmad Sanusi sampai ia berusia sepuluh tahun. Selama lima tahun kemudian, dari umur sepuluh tahun hingga lima belas tahun, ia diberi tugas untuk menggembalakan kerbau. Baru ketika beliau menginjak usia 15 tahun ditugaskan menjaga kuda, memotong rumput, dan membersihkan kandangnya. Namun demikian, pendidikan keagamaan yang lebih serius baru dijalani Ahmad Sanusi pada saat dirinya berusia sekitar 16,5 tahun.

Sejak awal 1905 Ahmad Sanusi masantren diberbagai pesantren baik yang ada di Sukabumi maupun di luar Sukabumi. Sanusi setidaknya mesantren di Sembilan pesantren. Waktu yang diperlukan oleh Ahmad Sanusi untuk menimba ilmu di pesantren sekitar 4,5 tahun. Dengan demikian, kegiatan masantren yang dijalani Ahmad Sanusi di sebuah pesantren rata-rata selama enam bulan di setiap pesantren. Setelah melanglang-buana ke berbagai pesantren.

Baca Juga:  Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (3) : Kisah Raja Sulaiman dan Ratu Balqis

 Pada tahun 1909, akhirnya Ahmad Sanusi kembali ke Sukabumi dan masuk ke Pesantren Babakan Salawi Baros Sukabumi. Ketika nyantri di Babakan Salawi Ahmad Sanusi bertemu dengan seorang gadis yang bernama Siti Djuwariyah putri Kyai Haji Affandi dari Kebun Pedes, akhirnya beliau menikahi gadis tersebut.

Belajar di Mekkah al-Mukarromah

Beberapa bulan kemudian setelah menikah. Pada tahun 1910 Ahmad Sanusi beserta istri berangkat ke Mekkah al-Mukarromah untuk menunaikan ibdah haji ia beserta istri tidak langsung pulang kekampung halaman, namun mereka bermukim di Mekkah al-Mukarromah selama 5 (lima) tahun untuk memperdalam pengetahuan agama Islam.

Sistematika Tafsir Raudhatul Irfan Fi Ma’rifat al-Qur’an

Adapun langkah-langkah K.H. Ahmad Sanusi dalam menafsirkan ayat yakni pertama, Menerjemahkan secara harfiyah ke dalam bahasa sunda. Kedua, Menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan tartib susunan al-Qur’an mushaf Utsmani. Ketiga, Maksud dijelaskan di sisi kanan dan kiri matan teks al-Qur’an dan terjemahan. Setiap ayat al-Qur’an diulas dengan sangat sederhana, tanpa ada upaya untuk memberikan pengkayaan dengan wawasan yang lain, sehingga pembahasan yang dilakukan hanya menekankan pada pemahaman yang ringkas dan bersifat global.

Keempat, Mengemukakan asbabun nuzul, jumlah ayat, serta huruf-hurufnya. Kelima, Tidak banyak mempersoalkan segi bahasa, seperti nahwu dan balaghah, tetapi lebih mengutamakan soal makna. Keenam, Tidak sampai terperosok masuk ke persoalan paling detail, atau soal-soal yang bersifat partial (juz’iyyat), tetapi langsung memasuki masalah yang bersifat universal (kulliyat).

Aspek Metodologis Tafsir Raudhatul Irfan Fi Ma’rifat al-Qur’an

 Dalam menafsirkan al-Qur’an, K.H. Ahmad Sanusi menggunakan bentuk penafsiran bi al-Ra’yi, yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang didasarkan pada ijtihad mufassirnya. Tafsir bi al-Ra’yi memberikan mufassir kebebasan, sehingga mereka lebih otonom berkreasi dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an selama masih dalam batas yang diizinkan oleh syara’ dan kaidah-kaidah penafsiran yang mu’tabar.

 Adapun metode tafsir yang digunakan oleh K.H. Ahmad Sanusi adalah metode ijmali. Hal ini dapat kita lihat ketika beliau mengungkapkan ayat secara ringkas dan global tetapi cukup jelas. Karenanya tafsir yang menggunakan metode ini terasa lebih praktis dan mudah dipahami.

Baca Juga:  Kisah Khalifah Ustman: Fitnah Membawa Tragedi

Corak Tafsir Raudhatul Irfan Fi Ma’rifat al-Qur’an

Corak tafsir ini adalah kecenderungan yang dimiliki oleh masing-masing mufassir, yang kemudian menjadi pandangan atau trand mark mereka dalam tafsirnya sekaligus warna pemikiran mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Jika dicermati dengan seksama atas tafsir ini, maka corak penafsiran yang digunakan oleh K.H. Ahmad Sanusi dalam tafsir Raudhatul Irfan fi Ma’rifati al-Qur’an ini bersifat umum. Artinya penafsiran yang diberikan tidak didominasi oleh suatu warna atau pemikiran tertentu, semua menggunakan pemahaman ayat secara netral tanpa membawa pesan khusus, seperti Aqidah, fiqih, dan tasawuf. Tetapi menjelaskan ayat-ayat tentang hukum-hukum fiqih dijelaskan jika terjadi kasus-kasus fiqhiyyah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Begitu juga dengan ayat-ayat muamalah, teologi, tasawuf, dan lain-lain.

Contoh Tafsir Bahasa Sunda Raudhatul Irfan fi Ma’rifat al-Qur’an

Surat Qaf ayat 16

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

Artina: Jeung nyata geus ngadamel aing kamanusa jeung aing uninga kana perkera anu di harewoskeun eta perkara kuhatena, jeung aing teh leuwih deukeut kamanusa tibatan urat beuheungna. Katerangan: Anu ngajadikeun manusa serta uninga kana kareunteus hatena Allah leuwih deukeut kalawan rahmatna timbang urat beuheungna.

Terjemahan Bahasa Indonesia Artinya: Dan sungguh, Allah sudah menciptakan manusia dan Allah mengetahui perkara yang dibisikkan oleh hatinya dan Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Keterangan: Allah yang menjadikan manusia dan mengetahui yang dibisikkan hatinya, karena rahmat Allah lebih dekat daripada urat nadinya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar