Muhammad bin Abdul Wahab
Muhammad bin Abdul Wahab

Mengenal Tokoh Wahabi (1): Muhammad Bin Abdul Wahab

Wahabi, adalah kelompok yang disepakati berkarakter radikal. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai fatwa-fatwa tokoh mereka yang tercatat dalam manusikrip kitab-kitab mereka sendiri serta sejarah pergerakan sejak munculnya pada abad ke 18 hingga sekarang yang tidak bisa dipungkiri. Sebab itu, sejak munculnya aliran ini, para pemuka agama dari generasi ke generasi menolak serta menentangnya secara terang-terangan. Karena ajaran yang disebarkan oleh Wahabi dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam yang berkarakter rahmatan lil alamin.

Setelah umat Islam sepakat bahwa Wahabi beraliran radikal, maka penting sekali mengenal tokoh-tokoh dari mereka. Lebih-lebih di zaman yang serba canggih saat ini, di mana ilmu agama dapat diserap melalui internet tanpa mengetahui siapa yang menyampaikannya.

Istilah nama Wahabi sebenarnya penisbatan kepada pendirinya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab, lahir pada tahun 1701 M di desa Najd. Ia tumbuh dan besar di kalangan keluarga yang bermadzhab Hanabilah. Ayahnya Syeikh Abdul Wahab merupakan seorang ulama terkemuka yang disegani di daerahnya. Begitu juga saudaranya, Sulaiman bin Abdul Wahab.

Sejak kecil, ayahnya sudah melihat tanda-tanda buruk pada Muhammad bin Abdul Wahab. Ini berangkat dari keengganan Muhammad bin Abdul Wahab mempelajari Fiqh sesuai dengan leluhurnya yang bermadzhab Hanbali. Bahkan pada suatu ketika, ayahnya mengajarinya berbagai ilmu agama, namun Muhammad bin Abdul Wahab menentangnya, dianggap banyak yang mengandung syirik dan bid’ah, sehingga terjadilah perselisihan di antara keduanya[1].

Syaikh Muhammad bin Abdillah, salah satu mufti Makkah yang berfaham Wahabi mengatakan  bahwa ayah Muhammad bin Abdul Wahab sering kali marah kepadanya dan mewanti-wanti umat yang hidup saat itu untuk berhati-hati dengan anaknya ini, suatu saat akan ada malapetaka yang akan muncul darinya[2].

Baca Juga:  Mengenal Tokoh Wahabi (6) : Nashiruddin Albani

Apa yang dikhawatirkan oleh ayahnya, Syeikh Abdul Wahab benar-benar terjadi. Ketika ayahnya sudah wafat, Muhammad bin Abdul Wahab secara terang-terang mendakwahkan ajarannya yang penuh dengan kesesatan dan kekerasan. Membid’ahkan banyak tradisi yang sudah dibangun sejak genarasi Salaf dan diamalkan oleh keluarganya. Sampai-sampai dengan sombongnya ia mengatakan bahwa seluruh umat yang berada di bawah langit selama ini telah syirik kepada Allah swt. Dalam kitab Ad Duror As Saniyah diceritakan:

إِنَّمَا اَدْعُوْكُمْ إِلَى التَّوْحِيْدِ وَتَرْكِ الشِّرْكِ بِاللهِ. وَجَمِيْعُ مَا هُوَ تَحْتَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ مُشْرِكٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَمَنْ قَتَلَ مُشْرِكًا فَلَهُ الْجَنَّةُ

Artinya: “Hanyasaja aku mengajak kalian kepada tauhid dan meninggalkan syirik kepada Allah. Semua yang berada dibawah tujuh langit ini sudah musyrik secara mutlak, dan barang siapa membunuh orang musyrik maka baginya adalah pahala”[3]

Tidak luput dari serangan pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahab, adalah para ulama’ Fiqh. Bukti ini dituturkan sendiri oleh salah satu ulama’ Wahabi, Ibn Qashim al Ashimi dalam kitabnya Ad Durar As Saniyah Fil Kutubin Najdiyah.

وَمِنْ أَدِلَّةِ شَيْخِ الْإِسْلَامِ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ (التوبة: 31) فَسَّرَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَ الْأَئِمَّةُ بَعْدَهُ، بِهَذَا الَّذِيْ تَسُمُّوْنَهُ اَلْفِقْهَ، وَهُوَ الَّذِي سَمَّاهُ اللهُ شِرْكاً، وَاتَّخَاذَهُمْ أَرْبَاباً

Artinya: “Dan di antara dalil-dalil Syaikhul Islam (Muhammad bin Abdul Wahab) yaitu “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah (At Taubah: 31)”, Rasulullah saw dan para imam setelahnya menafsirkan dengan ilmu yang disebut dengan Fiqh. Fiqh itulah yang Allah sebut dengan syirik dan ulama’nya sebagai Tuhannya”[4].

Karena inilah, Muhammad bin Abdul Wahab ditentang oleh banyak ulama’ yang hidup semasanya. Di antara ulama’ yang menentangnya yaitu saudara kandungnya sendiri, Sulaiman bin Abdul Wahab dengan karangan kitabnya yang berjudul Fashl al Khitab fi Radd ala Muhammad ibn Abdul Wahab. Ulama’ lain yang juga menentangnya yaitu Syeikh Ahmad Zaini Dahlan dengan kitabnya Fitnah al Wahabiyah, Syeikh Ibn Abidin al Hanafi dengan kitabnya Hasyiah Radd al Mukhtar, dan ulama’-ulama’ lainnya.

Baca Juga:  Khaled Abou El-Fadl dan Pemikirannya tentang Otoritas Fatwa Ulama

Itulah sepintas tentang kehidupan Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabi yang mengandung masalah sejak kecil hingga ia meninggal.

Wallahu a’lam

[1] Utsman bin Bisy, Unwan al Majdi, Juz 1, Hal 8

[2] Muhammad bin Abdillah, As Sahab Al Wabilah Ala Dharaih Al Hanabilah, Hal 275

[3] Ahmad Zaini Dahlan, Al Durar Al Saniyah fi Al Raddi ala Al Wahabiyah, Hal 46

[4] Ibn Al Ashimi, Al Durar Al Saniyah Fi Kutubi Al Najdiyah, Juz 3, Hal 56

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …