ulama salaf dan khalaf
ulama salaf dan khalaf

Mengenal Ulama Salaf dan Khalaf

Definisi Salaf dan khalaf

Dalam kitab Tuhfah al Murid dan Kitab Raudlah al Ulama dijelaskan tentang definisi ulama. Dalam bahasa Arab, kata ulama merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim yang memiliki arti  “orang yang tahu atau mempunyai pengetahuan”. Dari arti bahasa ini, maka ulama berarti orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang lain yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah.

Dalam Islam, berdasar pada fakta sejarah yang ada, ulama terbagi menjadi dua kategori besar, ulama salaf dan ulama khalaf. Klasifikasi yang demikian berdasar pada masa atau periode tertentu, yaitu periode ulama salaf dan ulama khalaf. Ulama generasi awal dan ulama generasi akhir. Ada jarak dan batas waktu pemisah. Istilah ini tidak hendak memisah atau memutus akar terjemahan Islam dari Rasulullah yang diwariskan kepada ulama salaf, namun hanya sekadar sebutan yang didasarkan atas masa tertentu. Ulama khalaf adalah penerus ulama salaf.

Siapakah ulama salaf itu?. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Tuhfah al Murid bahwa yang termasuk ulama salaf adalah para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, terutama empat imam madhab. Yakni, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Dari sini bisa disimpulkan, ulama salaf adalah para ulama yang hidup pada era para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Sedangkan ulama khalaf adalah mereka yang hidup setelah masa tabi’it tabi’in.

Berdasarkan pada tarikh, imam empat madhab  yang terakhir adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang lahir di Bagdad pada bulan Rabi’ul akhir tahun 164 H/780 M, dan wafat pada Rabi’ulawal tahun 241 H/855 M. Dengan demikian, maka masa ulama’ salaf kira-kira berakhir sekitar tahun 241 H atau 855 M. Dan setelahnya, termasuk ulama khalaf .

Baca Juga:  Belajar Prinsip Dakwah Melalui Surat al-Ghasiyah

Pendapat lain mengatakan masa pemisah antara periode ulama salaf dan khalaf dibatasi dengan masa atau kurun tertentu. Paling tidak, ada tiga pendapat soal batas waktu ini sebagaimana penjelasan dalam kitab Raudlah al Ulama. Pertama, ulama salaf adalah ulama yang hidup sebelum tahun 300 Hijriyah dan ulama khalaf adalah ulama yang hidup setelah tahun tersebut. Kedua, ulama salaf hidup sebelum tahun 400 hijriyah. Sedangkan ulama khalaf hidup setelah tahun 400 hijriyah. Dan yang ketiga, berpendapat  bahwa ulama salaf adalah mereka yang hidup sebelum tahun 500 Hijriyah, sementara ulama khalaf adalah ulama yang hidup setelah tahun 500 Hijriyah.

Pengkaburan Istilah Salaf dan Khalaf

Islam dan wacana keislaman kembali tercoreng dengan munculnya golongan yang melakukan klaim dan mentasbihkan diri lebih memahami manhaj salaf dibanding para ulama sebelum mereka, yakni ulama yang di sebut “khalaf”. Dengan bahasa lain, tidak mengakui ulama khalaf seperti empat imam madhab, meloncati ulama khalaf dan seolah-olah memijakkan kaki di ranah ulama salaf. Mereka menamakan diri   dengan nama “salafi”, yaitu orang yang mengikut jejak salaf.

Golongan intelektual setengah matang ini muncul dalam lapangan intelektual Islam. Dan dengan sangat terpaksa kemudian menciptakan terminologi-terminologi baru untuk mengelabui golongan yang lebih jahil dan lebih awam. Lalu, mereka membuat dan menggunakan istilah tertentu  dengan takrif atau definisi baru yang menyimpang dari penggunaan asalnnya. Tujuannya tidak lain untuk mendominasi dan memonopoli istilah tersebut. Maka, muncullah terminologi seperti “salafi”, “khalafi” dan sebagainya.   Padahal, sebelumnya, para ulama hanya menggunakan istilah salaf dan khalaf saja. Salafi  menurut golongan baru ini adalah “orang-orang yang mengikuti manhaj salaf”. Sedangkan istilah Khalafi adalah “orang yang tidak mengikut manhaj salaf”.

Baca Juga:  Menguak Keistimewaan Bulan Maulid di Mata Para Sahabat Rasulullah

“Manhaj Salafi” yang tidak Salafi

Istilah yang dibuat-buat ini sangatlah jauh sekali dari sebenarnya. Seperti definisi yang telah tersebut di awal, istilah salaf dan khalaf digunakan oleh para ulama sebelum munculnya golongan ini mendefinisikan salaf sebagai generasi yang hidup dalam kurun pertama sehingga kurun ketiga hijrah, atau sampai kurun kelima hijrah. Pendapat paling unggul adalah sampai kurun ketiga hijrah. Sedangkan generasi ulama yang hidup setelah kurun ketiga atau kelima hitungan hijriyah adalah ulama khalaf. Maka, istilah salaf dan khalaf dalam penggunaan asal dari para ulama tidak pernah di maksudkan  sebagai suatu perbedaan manhaj, tetapi lebih di maksudkan pada perbedaan tempo masa.

Lalu, istilah ini dijajah oleh golongan yang mengaku sebagai salafi, menamakan diri sebagai kelompok salafi dan memberi nama selain mereka dengan khalafi. Golongan ulama yang berlainan faham dengan mereka dianggap tidak mengikuti salaf walaupun para ulama tersebut adalah mayoritas ulama Islam. Bahakan tidak hanya sampai disitu, mereka mengaku lebih memahami tradisi salaf di banding Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, seorang imam mujtahid, ahli fikih, ahli ushul fikih dan mudir sebuah madrasah terbesar di zaman beliau, Madrasah Nizhamiyyah. Mencengangkan bukan?. Walaupun faktanya berbalik sembilan puluh derajat.

Pada situasi yang lain, muncul pula seorang insan dengan keilmuan yang kerdil, tidak mengenal perbedaan antara mubtada  dengan khabar, mengaku lebih mengikut al Qur’an dan Sunnah dalam masalah aqidah, di banding Ibn Hajar al Asqalani, pensyarah kitab Sahih Bukhari, hanya dikarenakan Imam Ibn Hajar mempunyai pendirian dengan aqidah manhaj al Asy’ari.

Maka, tidak perlu mengaku “salafi” supaya dinilai sebagai pengikut salafus shaleh. Karena takaran untuk disebut pengawal ulama salaf terlalu jelas, yaitu dengan memahami agama mengikut pemahaman mereka, merujuk kitab-kitab ulama salaf sendiri. Bukan sekadar merujuk satu dua tokoh yang ada kemudian mengaku bahwa hanya mereka saja yang memahami salaf.

Baca Juga:  Demokrasi Sudah Tidak Haram?

Ini adalah suatu ironi dan kepincangan, menjelaskan tentang manhaj salaf namun rujukannya bukan ulama salaf. Oleh karena itu, perbanyaklah bahan kajian agar jujur dalam membuat suatu kajian. Menghormati ulama adalah bagian penting menghormati pewaris Nabi. Caranya adalah dengan mempelajari kitan dan khazanah keilmuan klasik dan selalu mendudukan mereka sebagai ulama yang menyumbangkan kemajuan dalam Islam.

Wallahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

duduk di kuburan

Saat Ziarah, Bolehkah Duduk di Kuburan?

Meskipun arus puritanisasi  mengklaim ziarah kubur adalah ritual bid’ah, tapi tidak banyak muslim nusantara yang …

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …