syekh as shabuni
syekh as shabuni

Mengenang Syekh Muhammad Ali Al- Shabuni; Ulama Ahli Tafsir Penerus Tradisi Ulama Salaf

Pegiat ilmu keislaman pastinya telah familiar dengan nama Muhammad Ali al-Shabuni. Ulama pakar tafsir dengan segudang karya tulis. Ia meniru dan melanjutkan tradisi ulama salaf yang “tajam penanya, bukan nyaring mikrofonnya”.

Pemikirannya dituangkan dalam karya-karya ilmiah bermutu tinggi dan diakui. Sehingga dengan sendirinya beliau menjadi masyhur. Tidak seorangpun di dunia yang tidak mengakui keilmuannya, terutama di bidang ilmu tafsir. Dan, perjalanan hidup Muhammad Ali al-Shabuni berakhir pada hari Jum’at kemarin, 19 Maret 2021/6 Sya’ban 1442 H, di kota Yaleppo, Turki.

Dunia Islam berkabung. Ulama yang menjadi panutan umat Islam itu telah tiada. Kita tentu merasa sangat kehilangan ditinggalkan oleh seorang ulama besar di zaman ini. Kecuali kalau di hati kita tertampung sifat orang munafik maka kematian beliau seakan biasa saja. “Siapa yang tidak susah dengan meninggalnya seorang ulama, ia termasuk orang munafik”.

Beliau istiqamah dengan tradisi ulama salaf yang memajukan peradaban Islam dengan ilmu. Keilmuan pun dituangkan dalam bentuk karya tulisan sehingga umat tidak terpotong-potong dalam memahami Islam. Keterpotongan pemahaman Islam karena umat lebih suka mendengarkan sepotong-potong keilmuan melalui ceramah tanpa mengiringi dengan bacaan dari kitab para ulama.

Biografi Singkat Syaikh Ali al Shabuni

Ia lahir di Madinah tahun 1347 H/1928 M. Nama lengkapnya Muhammad Ali bin Ali bin Jamil al Shabuni. Sejak kecil beliau telah beradaptasi dengan lingkungan keilmuan karena memang seluruh keluarganya adalah orang-orang terpelajar. Masa kecil, beliau dididik langsung oleh ayahnya, Syaikh Jamil al Shabuni. Kemudian beliau berguru kepada Syaikh Muhammad Najib Sirajuddin, Syaikh Ahmad al Shama, Syaikh Muhammad Said al Idlibi, Syaikh Muhammad Raghib al Tabbakh, dan Syaikh Muhammad Najib al Khayatah.

Baca Juga:  Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (2) : Nabi Sulaiman dan Perempuan Korban Pemerkosaan

Perjalanan Mencari Ilmu

Di samping menempuh studi formal, beliau juga aktif mengikuti majelis-majelis ilmu yang diadakan di masjid-masjid. Setelah menyelesaikan studi di tingkat dasar, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Madrasah al Tijariyah. Kemudian melanjutkan studi di Khasrawiyya, sekolah khusus ilmu syari’ah di Aleppo.

Kemudian melanjutkan studi di Fakultas Syari’ah Universitas al Azhar, Mesir. Selesai strata satu, beliau melanjutkan studi di Universitas yang sama dan berhasil mendapatkan gelar Magister konsentrasi peradilan syariah (Qadha al Syar’iyyah).

Dari Mesir, beliau pulang ke kampung halaman dan menjadi pengajar di beberapa sekolah menengah atas di Aleppo. Sejak itu beliau dikenal sebagai ulama dengan keilmuan yang tak diragukan. Wajar kalau dua universitas beken menawari beliau sebagai dosen. Yakni, Fakultas Syari’ah Universitas Ummul Quro dan  Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz.

Beliau menjalani aktivitas sebagai dosen di dua universitas tersebut selam kurang lebih dua puluh delapan tahun. Selama itu pula, beliau dikenal sebagai sosok ulama yang ahli tafsir. Sehingga Universitas Ummul Quro menganugerahkan gelar kepada beliau sebagai guru besar ilmu tafsir.

Karya-karya Syaikh Muhammad Ali al Shabuni

Diantaranya karya-karya beliau adalah, Rawa’i al Bayan fi Tafsir Ayat al Ahkam min al Qur’an, al Tibyan fi Ulum al Qur’an, Shafwah al Tafasir, Qabasun min Nur al Qur’an, Syarah Riyadhu al Shalihin, Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, Mukhtashar Tafsir al Thabari, Rislah fi Hukmi al Tashwir.

Tentu saja masih banyak karya-karya beliau yang lain.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri