menghantar jenazah
menghantar jenazah

Menghantar Jenazah dengan Dzikir Keras?

Menghantar jenazah, dalam hukum fikih tidak termasuk kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Kewajiban yang harus dilakukan hanya ada empat; memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan. Karena sifatnya yang kolektif, maka kewajiban ini cukup dikerjakan oleh sebagian umat Islam saja yang ada di tempat itu.

Namun, Rasulullah memotivasi umatnya untuk menghantar jenazah sampai ke kuburan hingga proses penguburan selesai. Ini, seperti hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah. Bahwa, ada pahala dua qirath bagi orang yang mengiringi jenazah sampai proses penguburan selesai. Satu qirath setara dengan gunung Uhud. Sementara, bagi orang yang hanya menshalati dan tidak ikut mengantarkan sampai ke lokasi pemakaman hanya mendapatkan satu qirath.

Ibnu Hajar al’Asqalani dalam karyanya Fathul Bari menjelaskan, syarat untuk mendapatkan dua qirath harus menghantarkan dan mengiringi jenazah sepanjang jalan. Bersama-sama jenazah. Tidak masuk dalam konteks hadis ini apabila seseorang menshalati lalu beranjak ke lokasi pemakaman sendirian, baik tiba lebih dulu maupun terlambat.

Pahala dua qirath adalah pahala yang sangat besar. Syaratnya, sebagaimana ibadah yang lain, tentu harus berdasar keimanan tulus dan hanya mengharapkan ridha Allah. Berangkat dari motivasi Nabi tersebut, semangat umat Islam untuk menghantarkan jenazah saudara seiman yang meninggal begitu tinggi. Dan, dalam perjalanan menuju ke pemakaman mereka bersama-sama berdzikir dengan suara yang keras. Kalimat tauhid yang pada biasanya mereka lantunkan.

Dzikir sambil menghantar jenazah ke pemakaman ini lalu dipersoalkan secara fikih, boleh atau tidak? Sebab, ketika berada di dekat jenazah ada larangan membuat kegaduhan-kegaduhan dengan suara yang keras. Bahkan, berdzikir sekalipun.

Dalam Sunan al Kubro li al Baihaqi (4/124) termaktub hadis Nabi, “Para sahabat Nabi tidak menyukai mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang dan ketika dzikir”.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Sesuatu yang Gugur Tidak akan Kembali

Berdasarkan hadis ini, konsensus ulama bermufakat bahwa segala bentuk kegaduhan dan keributan didekat jenazah hukumnya makruh. Baik itu dzikir, membaca al Qur’an atau membaca shalawat. Sebab, yang dianjurkan disaat melayat jenazah adalah tafakur tentang kematian dengan segaka keterkaitannya. Keterangan tentang hal ini salah satunya ada dalam kitab Hasiyah al Jamal ‘ala al Manhaj (2/168).

Lebih lanjut, Syaikh Nawawi al Bantani dalam kitabnya Nihayatu al Zain (153) menjelaskan, makruh membuat kebisingan dan keributan di dekat jenazah. Sebab, pada saat itu yang dianjurkan adalah tafakur tentang kematian dan perjalanan setelahnya. Mengutip pendapat Imam al Qalyubi, termasuk membaca al Qur’an, dzikir dan membaca shalawat. Akan tetapi, menurut Imam al Mudabighi hukum ini hanya berlaku pada masa awal-awal Islam. Maka, untuk saat ini, berdzikir, membaca al Qur’an dan membaca shalawat dengan suara nyaring (batas normal) tidak mengapa. Justru, lanjut al Mudabighi hal itu merupakan syiar Islam untuk mengingat kematian.

Lalu, bagaimana dengan melantunkan dzikir semisal “La Ilaha Illallah” dengan suara sedikit keras disaat berjalan mengiringi jenazah ke pemakaman?

Dengan bijak, Ibnu ‘Allan dalam karyanya al Futuhat al Rabbaniyah (4/183) mengutip pendapat Ibnu Ziyad menulis, menyibukkan diri dengan membaca dzikir bersama-sama lebih utama daripada membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi. Ini adalah pendapat yang dipilih sebagai bentuk alternatif menghindari resiko atau mudharat yang lebih besar.

Ibnu ‘Allan sendir sepakat dengan suara mayoritas ulama yang menganjurkan diam, tafakur terhadap kematian dan segala akibat setelahnya disaat mengiringi jenazah ke pekuburan. Namun, kenyataannya, jika diam dan menganjurkan para pengiring untuk tafakur, yang terjadi justru pembicaraan-pembicaraan yang sifatnya duniawi. Terjadi obrolan-obrolan kecil yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, menganjurkan mereka untuk berdzikir dengan suara agak keras menjadi alternatif yang lebih baik daripada berbicara soal keduniawian. Karena perbincangan masalah duniawi bisa berakibat pada kemungkaran. Sepeti ghibah, fitnah dan semacamnya.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …