menghargai waktu
menghargai waktu

Waktu Tidak Bisa Diulang, Menghargai Waktu itu Sikap Islami

Banyak di antara kita begitu menyia-nyiakan waktu. Begitu panik dan menyesal ketika waktu telah usai. Saat lengang disikapi dengan santai, saat mendesak seakan ingin mati mendadak. Pada akhirnya, sesal adalah buah dari cara kita tidak menghargai waktu.

Waktu bukan sesederhana jam. Jam 6, jam 7, jam 10 hanyalah alat bantu yang mempermudah manusia untuk menata diri dan mempersiapkannya dengan baik. Jam hanya cara mengkalkulasi secara matematis siklus waktu agar tertata dengan baik. Namun, sesungguhnya waktu adalah satu dimensi selain ruang yang wajib diperhatikan jika anda tidak ingin menyesal.

Al-quran begitu menghargai waktu dengan mengutip siklus waktu dalam beberapa ayat, bahkan menamakan beberapa surat dengan dimensi waktu. Demi masa. Sesungguh manusia benar-benar dalam kerugian (Al-ashr 1-2). Demi malam apabila menutupi, demi siang apabila terang benderang (Al-Lail 1-2). Demi waktu dhuha dan demi malam apabila telah sunyi (Ad-Dhuha 1-2). Demi fajar, demi malam yang sepuluh (Al-Fajr 1-2).

Waktu adalah dimensi yang sangat penting bagi manusia. Islam menghubungkan seluruh ibadah, bahkan yang terpenting, shalat, dalam dimensi waktu agar manusia menghargai waktu. Dari subuh hingga dhuhur apa yang telah kamu perbuat untuk kemanfaatan manusia. Dari dhuhur hingga ashar adakah dosamu yang telah kamu perbuat. Dari ashar hingga menutup malam sudahkah anda menyiapkan diri untuk menyesali dan bertaubat. Dari magrib hingga isya’ untuk menutup mata sejenak, adakah khilaf dan dosa kepada orang lain yang belum kamu mintakan maaf.

Menghargai waktu sangat penting dalam Islam. Nabi pernah mengingatkan dalam sebuah hadist yang sangat populer diriwayatkan Imam Baihaqi. Dengan waktu persiapkankanlah masa hidupmu dengan kebaikan sebelum tiba matimu. Manfaatkan sehatmu dengan kebaikan sebelum sakitmu akan memberatkanmu. Masa senggangmu manfaatkan dengan baik sebelum kamu akan beralasan dengan sejuta kesibukan. Masa mudamu harus menjadi kesempatan meraih kesuksesan dan kebaikan sebelum tiba sesal di masa tuamu. Dan ingat ketika kayamu sebelum Allah menegor dengan masa miskinmu.

Baca Juga:  Hadist Qudsyi: Sifat Sombong itu Milik Allah, Manusia Jangan Memilikinya

Waktu sekali lagi bukan sekedar jam, tetapi masa kondisi tertentu yang penting dimanfaatkan oleh manusia sebelum masa itu berganti. Menyiapkan sejak awal, menghitung waktu, dan memanfaatkan waktu adalah sikap islami.

Waktu sangat berharga karena ia tidak bisa diulang. Waktu adalah salah satu dimensi manusia yang harus dimanfaatkan dengan baik. Menyesal akan datang ketika kita menyia-nyiakan walaupun sedetik. Manfaatkan waktu dengan baik untuk kebaikan agar menjadi yang terbaik.

Allah sudah memberikan waktu di dunia, manfaatkan. Jangan pada akhirnya kita seperti ahli neraka yang menyesal dan memohon kepada Tuhan agar waktu bisa diulang kembali.

“Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Allah berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.”  (Al Muminun ayat 106-108).

Mari mulai hargai waktu. Dari detik, menit, jam, bulan dan tahun, manfaatkan dengan baik untuk kebaikan agar anda menjadi manusia terbaik!

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Standarisasi Dai MUI ke

Dai Harus Siap Hadapi Fenomena Dakwah

Jakarta – Para dai harus siap menghadapi fenomena dalam berdakwah. Salah satu fenomena dalam berdakwah …

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf

R20 Rekonsiliasikan Hindu-Islam di India

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Religion 20 (R20) di Bali, 2-3 …