Makna Wudhu
Makna Wudhu

Menginjak Benda Najis, Batalkah Wudhu’nya?

Assalamulaikum Wr Wb

Bagaimana hukumnya jika seseorang melaksanakan shalat, setelah ia berwudhu dan kondisi kakinya basah. Kemudian ia melewati atau menginjak lantai yang kering, tetapi lantai tersebut terdapat najis yang bersifat hukmiyyah. Apakah wudhu’ tersebut batal atau tidak?

Terima kasih

Somad, Makassar


Walaikum salam warahmatullahi wabarakutuh

Untuk menjawab pertanyaan saudara, saya akan memaparkan beberapa hal yang membatalkan wudhu’. Dalam kitab kitab fikih bermadzhab Syafii. Hal hal yang membatalkan wudhu’ itu ada enam hal. Pertama, setiap sesuatu yang keluar dari kemaluan depan dan kemaluan belakang. Hal ini didasarkan kepada firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. QS: al-Maidah 6.

Dr. Musthafa Dib al-Bugha memberikan penafsiran terhadap “min al-ghaith” (dari tempat buang air) dengan seseorang yang telah selesai buang air besar atau kecil.

Baca Juga:  Komentar Fikih Soal Membuat Patung

Nabi bersabda:

عن همام بن منبه ، أنه سمع أبا هريرة ، يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا تقبل صلاة من أحدث حتى يتوضأ ” قال رجل من حضرموت : ما الحدث يا أبا هريرة ؟ ، قال : فساء أو ضراط

Dari Hammam Ibn Munabbah bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: shalat seseorang yang sedang berhadats tidak akan diterima oleh Allah kecuali ia berwudhu’. Seorang laki laki dari Hadramaut bertanya apakah hadats itu wahai Abu Hurairah? Ia menjawab: hadats itu adalah berkentut: HR. Al-Bukhari, 134

Kedua, tidur dengan posisi pantat yang bergerak gerak. Ketiga, hilang akal sehat. Keempat, bersentuhan kulit antara wanita pria yang bukan mahramnya. Kelima, menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan. Keenam, menyentuh bundaran anus. Al-Tadzhib Fi Adillah Matn al-Ghayah Wa al-Taqrib, 22-23

Tidak dijumpai pendapat ulama’ madzhab yang mengatakan bahwa menginjak atau bahkan menyentuh benda najis itu membatalkan wudhu’. Maka bisa disimpulkan bahwa seseorang yang menginjak benda najis (najis ‘ainiyyah ataupun najis hukmiyyah) tidak membatalkan wudhu’nya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Wassalamua’alaikum awarhamatullahi wabarakatuh

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo

Bagikan Artikel

About Islam Kaffah