harta dan anak
harta dan anak

Mengubah Harta dan Anak sebagai Ujian Menjadi Anugerah

Harta dan anak merupakan sebuah anugerah besar yang datang dari Allah sekaligus menjadi cobaan dan juga ujian bagi semua orang. Baik harta dan anak keduanya menjadi petaka ketika semakin menjauhkan diri dari Allah. Sebaliknya keduanya akan menjadi anugerah ketika menjadi perantara medekatkan diri kepada Allah.

Pertanyaannya, tidak bolehkah kita bersenang-senang dengan anugerah baik harta dan anak? Bukankah anugerah harus dinikmati dan disyukuri? Dalam surat al-Anfal ayat 28 Allah memperingatkan, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Anak dan harta bukan petaka, tetapi cobaan dan ujian. Ia akan menjadi anugerah ketika mampu menjadi media yang menghantarkan kepada pahala. Sebagai anugerah, harta dan anak harus mampu menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Dan jika sebagai ujian, anak dan harta akan mampu menjauhkan kita dari Allah karena cinta dan takut yang berlebihan kepada selain Allah dan selalu merasa takut kehilangan apa yang kita miliki.

Rasa cinta yang berlebihan kepada harta dan anak akan mampu membuat sorang mukmin tergelincir sampai Allah menyebutnya tidak lagi sebagai ujian, tetapi sebagai musuh. Karena kecintaannya kepada anak mampu menjerumuskannya kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sehingga di akhirat kelak peran seorang anak bukan membantu meringankan beban dosa orang tuanya, melainkan justru memberatkannya.

Dan apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah. Kebanggaan harta dunia semacam ini yang akan nantinya menjadi boomerang di akhiratnya kelak.

Karena itulah, perlunya kita berhati-hati ketika menerima anugrah dari Allah, kita harus mampu memahami tugas dan tanggungjawab seorang orang tua dengan memberinya pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang shaleh, dan membekalinya dengan ajaran agama. Karena agama yang nantinya akan menuntun mereka di masa depan, supaya anak tidak serta merta menuruti hawa nafsu, sehingga enggan untuk melaksanakan perintah agama.

Orang tua harus menyadari bahwa anak merupakan penerus orang tua, itulah alasan mengapa orang tua wajib untuk mendidik anaknya dengan tegas dan memberikan edukasi tentang agama. selain itu larangan untuk berlebihan dalam mencintai anak, karena anak juga merupakan cobaan dari Allah. Anak sebagai amanah harus dijaga dengan sebaik-baiknya, dipenuhi hak-haknya, disayang, dirawat, dididik agar memiliki masa depan yang cerah dan membahagiakan orang tuanya.

Pentingnya pendidikan agama dengan mengenalkan siapa Tuhannya, siapa Rasulnya, serta mengapa manusia diwajibkan untuk beribadah, penting untuk membekalinya dimasa depan, sehingga anak tidak mudah terbawa arus lingkungannya kelak.

Begitu pula Allah mempercayakan harta kepadamu juga salah satunya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, karena terdapat 2,5 persen harta anak yatim dan fakir miskin dalam harta kita. Islam memberikan perlakuan khusus kepada mereka para fakir miskin dan anak yatim. Islam memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa memperhatikan nasib mereka, berbuat baik kepada mereka. Terlebih jika mau menjadi orangtua angkat bagi anak-anak yang membutuhkan.

Kapan Harta dan Anak Menjadi Anugerah?

Umat Islam harus membalik cobaan menjadi tantangan dan menjadikan ujian menjadi anugerah. Bagaimana caranya? Dalam hadist disebutkan bahwa, “Jika meninggal Anak Adam, akan terputus semua amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang selalu mendoakannya” (HR Muslim).

Harta dan anak bukan lagi sebagai cobaan, tetapi sarana yang menjadi amal dan pahala kita tidak pernah berhenti sekalipun sudah meninggal. Ketika meninggal dunia, semua amalan kita di dunia akan terputus kecuali kita mampu memaksimalkan harta sebagai ujian menjadi anugerah pahala yang tidak pernah berhenti. Bagaimana?

Diinfakkan, disedekahkan dan diberikan kepada berhak. Pahala itu terus mengalir sebagaimana orang terus memanfaatkan harta yang telah kita berikan. Menyumbangkan harta untuk masjid, lembaga pendidikan, fakir miskin dan mereka yang membutuhkan akan terus mengalir dari mereka yang terus merasa bermanfaat dari pemberian kita.

Begitu pula, anak yang kita didik dengan baik akan menjadi lampu penerang kita di alam kubur. Anak bukan saja menjadi pewaris keluarga, tetapi juga anugerah bagi keluarga. Anak yang shaleh akan terus memberikan yang terbaik dalam Tindakan kebaikan. Amal kebaikan dan doa yang terus mereka panjatkan kepada orang tuanya akan menjadi pahala yang terus dinikmati oleh orang tua.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

Cheng Ho

Cheng Ho : Islamisasi Nusantara dari Perpaduan Islam dan China

Di Indonesia, sentimentasi anti China merupakan salah satu konstruksi sejarah paling kejam. Letupan besar dari …

dispensasi nikah

Dispensasi Nikah : antara Mencegah atau Mengafirmasi Pernikahan Dini?

Mengagetkan di Indramayu, terdapat ratusan anak di bawah umur kisaran usia 19 tahun mengajukan dispensasi …

escortescort