Islam Kaffah Mengembalikan Fitrah Manusia
apa itu islam kaffah

Menuju Islam Kaffah : Berislam di Level Keyakinan, Pengamalan dan Kehadiran

Bagaimana berislam yang baik? Kita harus berislam secara kaffah! Apa maksudnya? Ya Islam yang harus menyeluruh diterapkan baik dalam kehidupan individu maupun sosial bahkan kenegaraan. Begitu lantang disuarakan tentang berislam secara kaffah. Poin besar yang ingin dituju sebenarnya adalah bagaimana Islam menjadi dasar politik dan kenegaraan.

Sesungguhnya pemikiran itu bukan kaffah, tetapi parsial dengan terus memperalat Islam untuk kepentingan politik. Mengukur Islam kaffah dengan penerapan syariat Islam di berbagai sektor adalah menjadi salah kaprah. Ajakan menuju Islam kaffah adalah pada diri seseorang untuk meyakini, mengamalkan dan menghadirkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian kaffah yang menyeluruh adalah Islam dengan unsur keyakinan, pengamalan dan kehadiran. Tidak dikatakan kaffah jika hanya berhenti pada tingkat keyakinan, sementara ia lalai dalam pengamalan. Bahkan tidak cukup dikatakan kaffah jika hanya pada level keyakinan dan pengamalan sementara ia belum pada level kehadiran. Bagaimana sebenarnya pengertian kehadiran?

Sejatinya pengajaran Islam secara kaffah ini terdapat melalui pengajaran langsung Rasulullah dari malaikat Jibril. Hadist yang begitu populer yang diriwayatkan oleh salah satunya imam Muslim tentang Malaikat Jibril yang menanyakan kepada Nabi tentang beberapa hal. Nabi ditanya tentang keimanan, keislaman dan terakhir tentang ihsan.

Jika kita pahami secara baik inilah sebenarnya elemen berislam secara kaffah yang diajarkan oleh Rasulullah. Berislam pertama kali harus dimulai dengan keyakinan. Keyakinan inilah yang diyakini oleh umat Islam sebagai rukun iman. Menjadi Islam harus dimulai dengan ikrar dalam diri tentang doktrin keyakinan tentang Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, takdir dan hari akhir.

Islam di level keyakinan tentu bisa jadi memiliki kesamaan secara subtantif dengan agama lain tentang keyakinan kepada Tuhan, Rasul, Malaikat dan hari kiamat. Namun, Islam di level pengamalan menjadikan berislam menjadi lebih sempurna. Inilah yang dikenal dengan rukun Islam. Rukun pengamalan menjadi muslim. Yakin saja kepada elemen-elemen keimanan dalam Islam tetapi tidak mengamalkan ritual Islam juga bukan muslim yang sejati.

Baca Juga:  Kisah Dahsyatnya Kekuatan Doa Ibu

Namun, apakah dengan keyakinan dan pengamalan sudah cukup dikatakan sebagai muslim yang kaffah? Lalu, di sinilah Jibril menanyakan kepada Rasulullah dengan kalimat tanya sebagai bentuk pengajaran kepada sahabat yang hadir kala itu. Jibril menanyakan tentang elemen terakhir untuk menuju Islam yang kaffah. Apa itu ihsan?

Rasulullah menjawab dengan satu kalimat indah yang sebenarnya ini menjadi puncak dari Islam kaffah. Beginilah jawaban Rasulullah :

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim).

Berislam bukan sekedar menegaskan keyakinan dan mengamalkan ibadah, tetapi Islam harus dilengkapi dengan ihsan. Ihsan adalah perspektif kehadiran Tuhan dalam diri umat Islam. Tidak cukup yakin dan beramal, jika tidak memilih rasa kehadiran Tuhan. Keyakinan hanya menjadi abstrak jika tanpa ihsan. Amal pun hanya menjadi hiasan dunia jika tidak ada ihsan melalui rasa kehadiran Tuhan dalam setiap ibadah.

Praktek yang sangat sederhana dari ihsan adalah seperti manusia yang sedang belanja di pusat perbelanjaan. Seakan ia tidak pernah melihat kehadiran orang yang memantau tetapi ia sadar dengan adanya CCTV yang sedang memantaunya. Ia tidak bisa melihat dibalik itu, tetapi ia sadar sedang dilihat oleh orang lain.

Keyakinan terhadap adanya Allah akan menjadi abstrak jika seseorang muslim tidak merasakan kehadiran Tuhan. Allah hanya menjadi kata dalam dzikir, tetapi tidak hadir dalam diri seseorang. Pengamalan ibadah jika tidak dilengkapi oleh ihsan seperti perilaku yang hanya ditujukan pada hal duniawi. Shalatmu bukan karena kehadiran Allah, tetapi sekedar kewajiban dan lebih parah untuk hanya dilihat orang.

Baca Juga:  Apakah Ada Muslim Radikal? Inilah Cirinya Menurut Rasulullah

Ihsan dengan kalimat “engkau menjadi hamba sahayanya Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia selalu melihatmu:, adalah puncak dari cara berislam secara kaffah. Menjadi muslim yang kaffah tidak cukup dengan keyakinan dan pengamalan, tetapi marilah menuju kepada kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Islam Kaffah

Islam Kaffah