nilai puasa
puasa

Menuju Puasa Panca Indra dan Batin

Puasa adalah menahan diri dari lapar dan haus serta hal-hal yang mampu membatalkannya mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Dengan berpuasa bisa menjadi salah satu cara berupaya untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah.  

Puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan maksiat saja, tetapi puasa mempunyai tujuan yang mulia dan suci, dalam berpuasa kita dilatih agar dapat mengontrol dan mengendalikan diri yang dapat memberikan ketenangan, di mana ketenangan hidup ini akan memberikan mental yang sehat bagi manusia.

Puasa merupakan tempat manusia belajar tentang moralitas serta dapat dijadikan sebagai sarana latihan berbagai macam sifat terpuji. Puasa juga digadang-gadang sebagai jihad melawan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita.

Manusia memiliki sifat dasar serakah, karenanya perlunya sikap untuk mampu membentengi diri supaya mampu mengendalikan sifat buruk tersebut dengan berpuasa. Puasa hakikatnya merupakan peribadatan yang dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk pengendalian hawa nafsu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Seperti, pikiran negatif, marah, dendam, iri hati, dan sikap bermusuhan terhadap sesama. Ditinjau dari sisi psikologis, ibadah puasa merupakan proses pengendalian diri terhadap keinginan-keinginan tertentu yang tidak dianjurkan untuk dilakukan pada saat berpuasa.

Puasa merupakan proses latihan dalam mengendalikan diri dan juga bersabar. Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Sabar untuk tidak makan-minum dan mengendalikan panca indera untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah. Serta sabar dalam mengelola hati agar senantiasa mengingat Allah.

Namun banyak dari umat muslim yang tergolong dalam puasa yang merugi yakni orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit. Rasulullah sabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani).

Baca Juga:  Jalaludin Rumi dan Hakikat Haramnya “Musik”

Sederhananya, orang yang hanya merasa lapar dan dahaga saat berpuasa adalah mereka yang masih tetap melakukan perbuatan maksiat, dan tidak mampu melihat kebaikan puasa. Meski demikian, puasa orang tersebut tetap sah sebagai penggugur kewajiban.

Seharusnya jika ada persoalan yang mendera kita sebagai seorang umat, mestinya kita bisa mengendalikannya ketika datangnya bulan Ramadan. Puasa dijadikan pengendalian nafsu dan penyadaran diri. Pengendalian diri merupakan satu aspek penting dalam kecerdasan emosi atau penguasaan diri yang perlu dilatih sejak dini.

Di dalam bulan suci Ramadan ini, marilah kita berlomba-lomba dalam menunaikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya agar kita dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt serta menjadi insan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Bagikan Artikel ini:

About Triyanto S

Avatar of Triyanto S

Check Also

keragaman

Pelajaran Berharga dari Rasulullah : Jika Sesama Manusia Kenapa Tidak Dihormati Apapun Agamanya

Kerap sekali umat saat ini begitu ingin menunjukkan marwah Islam dengan muka sangar dan berapi-api. …

makna wudhu

Jangan Menyepelekan Wudhu’ Sambil Ngobrol, Inilah Misteri Spiritual Setiap Gerakan Wudhu

Dalam kenyataan sehari-hari banyak kita jumapi orang yang sedang berwudhu terkadang sambil asik berbincang. Seolah tidak ada waktu lain di luar itu untuk bersenda gurau dengan membincangkan sesuatu. Sebagai proses untuk menyucikan diri tentang wudhu secara fikih memang sebagai syarat. Namun, ada makna penyucian yang semestinya seorang hamba perlu pahami.