Metode Dakwah Sunan Gunung Djati Dalam Proses Islamisasi

0
1403

Riwayat Singkat

Sunan Gunung Jati merupakan cucu dari raja Padjajaran yakni Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan anak dari Nyai Lara Santang atau Syarifah Muda‟im yang menikah dengan sultan Mesir bernama Syarif Abdillah.[1]

Syarif Hidayatullah dilahirkan di Mesir pada tahun 1448 M dan wafat di Gunung Jati, Cirebon. Ia banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa terutama di Jawa Barat. Dari Cirebon Sunan Gunung Jati mengembangkan agama Islam ke daerah lain di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.

Ia meletakkan dasar pengembangan Islam dan Perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. Menurut “Carita Purwaka Caruban Nagari” Sunan Gunung Jati mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa seperti Demak dan Pajang ia diberi gelar Raja Pandita karena kedudukannya sebagai raja dan ulama.[2]

Cara Dakwah

Banyak metode yang digunakan Sunan Gunung Jati untuk menarik minat masyarakat agar memeluk Islam mulai dari perdagangan, perkawinan, jalur politik, dakwah, hingga penaklukan. Akan tetapi untuk memudahkan penulisan, maka proses Islamisasi Sunan Gunung Jati akan difokuskan para metode berdakwah beliau.

Metode berdakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati sangat unik. Dengan mengadaptasi tradisi Cirebon, dakwah yang dilakukan beliau dilakukan dengan cara-cara yang menarik perhatian, di antaranya dengan menggunakan pepatah-pepitih yang sampai saat ini masih sering didengar masyarakat Cirebon.[3]

Dalam naskah-naskah tradisi Cirebon, diketahui banyak metode yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam proses Islamisasi. Sunan Gunung Jati adalah seorang propagandis Islam di Jawa Barat (the propagator of Islam in West Java), dalam aktivitasnya ia melakukan perjalanan dakwah kepada penduduk Pulau Jawa bagian barat untuk menganut Islam.[4]

Dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam pengislaman masyarakat Cirebon banyak dijumpai keajaiban, keanehan, dan tidak rasional. Oleh karena itu, pembatasan metode dakwah dalam penulisan ini menjadi dakwah yang umumnya dilakukan para walisongo dalam mengislamkan tanah Jawa yaitu metode struktural dan metode kultural.

Sebagai seorang Sultan, Sunan Gunung Jati memiliki lelaku sebagai penguasa wilayah Kesultanan Cirebon. Oleh karena itu, pengislaman terhadap masyarakat menjadi lebih mudah. Sunan Gunung Jati sebagai ulama adalah perannya mengubah kultur atau budaya masyarakat Cirebon yang dulunya kental dengan ajaran Hindu-Budha menjadi bernilai Islamiyah.

Sarana Dakwah

Metode dakwah Walisongo adalah hasil dari pemikiran matang dalam pengembangan Islam ditanah Jawa, tanah yang pernah dipengaruhi kebudayaan Hindu-Budha. Di luar alasan dogmatis, ada pula beberapa alasan rasional yang membawa keuntungan bagi posisi dan kedudukan para wali dalam bentangan kultural sehingga menjadi faktor penting bagi reputasi mereka.

Keberhasilan dakwah walisongo juga tidak lepas dari latar belakang mereka sebagai orang terpandang ataupun bangsawan, begitupun Sunan Gunung Djati yang memiliki garis keturunan yang baik dari ayah maupun ibu tentu dengan sendirinya mempunyai status sosial yang tinggi.

Kedudukan sebagai tumenggung dan kesolehan yang dimiliki merupakan faktor pendukung dakwahnya. Kemapanan ekonomi, jabatan dan kesalehan yang dimiliki Sunan Gunung Djati memungkinkan memobilisasi masyarakat agar masuk ke agama yang dibawanya yaitu Islam.

Selain sebagai sultan, dalam naskah-naskah tradisi Cirebon, dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Djati sering tampil sebagai seorang tabib. Oleh karena itu, banyak naskah yang menceritakan berbagai cerita terkait pengislaman yang dilakukan dengan Sunan Gunung Djati tampil sebagai tabib. Meskipun terkadang kurang masuk akal, akan tetapi bisa menjadi gambaran betapa besar kharisma Sunan Gunung Djati.

Sunan Gunung Djati memiliki metode yang khas terutama dalam bidang kesehatan. Pengobatan lahir harus diatasi dengan obat-obatan maddiyah (lahiriah) seperti daun-daun dan akar-akaran, serta kesehatan dan pengobatan batin diatasi dengan pengobatan spiritual yang awalnya menggunakan jampi-jampi dan mantra-mantra diubah menjadi do’a-do’a (Islam).[5] Pengobatan Sunan Gunung Djati mungkin terdengar biasa, tapi pada zamannya sangat mungkin seorang tabib adalah merupakan orang berilmu sehingga mampu mempengaruhi masyarakat.

Sunan Gunung Djati diyakini mempunyai ilmu agama mulai dari ilmu fiqih, syari’ah, bahkan tasawuf. Oleh karena itu, beliau diyakini menjalankan metode dakwah dengan jalur tasawuf di mana inti ajarannya adalah pemujaan diri kepada Allah SWT baik dilahir maupun di batin.

Cara dakwah dengan metode tasawuf dianggap sangat efektif dan mudah diterima masyarakat.

Secara halus nilai-nilai Islam diajarkan Sunan Gunung Djati dengan keberagaman kultur yang ada di Cirebon sebelum masuk Islam. Sunang Gunung Djati mengajarkan empat tingkatan ibadah yaitu Syare’at, tarekat, hakikat, ma’rifat ke dalam bentuk kesenian agar mudak merasuk di masyarakat.

Secara sederhana untuk Syariat dilambangkan dengan wayang, yang mana wayangnya sebagai bentuk perwujudan dari pada manusia dan dalangnya adalah simbol daripada Allah SWT; Tarekat di simbolkan dengan barong, hakekat di simbolkan dengan topeng; dan marifat disimbolkan dengan Ronggeng. Seperti yang kita tahu bahwa keempat kesenian yang  mengisyaratkan sebagai empat tahapan dalam Islam tadi adalah empat jenis pertunjukan seni masyarakat Jawa (Cirebon).


[1] Sunan Gunung Jati bukan Faletehan, Bakombudpar kabupaten Cirebon, hlm. 2.

[2] R.H. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cerbon 1479-1809 hlm. 61.

[3] Dadan Wildan, Sunan Gunung Jati. (Ciputat: Salima, 2012), hlm. 244.

[4] Ibid, 243

[5] Ibid, 244