Mukjizat Unta Betina
Mukjizat Unta Betina

Mukjizat dan Bukti Bukan Jaminan Membuka Hati: Pelajaran Dari Kaum Nabi Shaleh

Kaum Tsamud merupakan suatu kaum yang mayoritas warganya memiliki banyak keahlian seperti bercocok tanam, berternak dan arsiktektur. Mereka berada di daerah Hijr yang terletak antara Hizaj dan Syam. Nenek moyang mereka nasabnya sampai kepada Saam bin Nuh.

Tsamud merupakan sebuah kaum yang diberikan banyak kenikmatan yang berlimpah. Namun karena nikmat tersebut membuat kaum Tsamud menjadi sombong dan selalu merendahkan kaum di luar mereka.

Gaya hidup kaum Tsamud dihiasi dengan berbagai kemaksiatan yakni dengan berfoya-foya, mabuk-mabukkan, dan berzina. Namun, hal paling pokok secara keyakinan mereka sudah melenceng dari akidah tauhid. Karena penyimpangan inilah Allah mengutus Nabi Saleh untuk mengajak kaum Tsamud kembali ke jalan yang diridhoi Allah.

Nabi Saleh merasa sedih melihat kelakuan kaum Tsamud yang menyembah berhala. Para penduduk pergi ke gunung begitu lama hanya untuk menyembah batu besar. Mereka mengelilingi batu besar kemudian menyembelih domba di sana yang digunakan untuk pemujaan, berharap rahmat akan turun bagi mereka.

Melihat kejadian tersebut, maka Nabi Saleh pergi menuju ke batu besar tersebut, selanjutnya Beliau menerangkan kepada mereka jalan yang lurus, yaitu beribadah hanya beribadah kepada Allah. Sang Nabi mengajak kaumnya segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.

Nabi Saleh berkata, ”Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud: 61)

Maka berimanlah segolongan kaumnya yang fakir, sedangkan golongan yang kaya tetap kafir dan bersikap sombong sambil mendustakan. Maka merekapun meminta Nabi Saleh menunjukkan Mukjizat yang diberikan Allah kepadanya.

Baca Juga:  Ka’bah dan Kisah Manusia Menemukan Hidayah Allah

Maka Nabi Saleh menanyakan kepada mereka mukjizat apa yang mereka inginkan. Maka mereka menunjukkan kepada sebuah batu besar yang berada di samping mereka, agar dari batu tersebut keluar onta yang bunting dan mereka sebutkan pula sifat-sifat onta yang mereka inginkan agar Shalih tidak mampu mewujudkannya.

Nabi Saleh berkata, “Aku akan memohonkan kepada Allah. dan jika Allah mengabulkannya, maukah kalian menyembah Allah? dan merekapun berjanji untuk menyembah Allah, dan akan mempercayai Nabi Saleh sebagai utusan Allah.

Esoknya, Nabi Saleh pergi ke gunung tempat batu itu berada. Sedangkan para kaumnya berkumpul di sekitaran batu itu. Mereka melihat Nabi Saleh mengucapkan beberapa patah kata sembari menengadahkan tanggannya di langit. Dengan harap-harap cemas, semua menunggu akan datangnya keajaiban.

Setelah beberapa saat kemudian, muncullah seekor onta betina yang bunting dan besar dari batu itu sebagai bukti yang jelas dan dalil yang kuat terhadap kenabian Salih. Maka ketika kaum Tsamud melihat onta itu dengan bentuk yang menakjubkan, sebagian kaum tersebut beriman kepada Allah. Namun sebagian lagi dari mereka tetap pada kekafiran mereka.

Terbukti dalam firman Allah, “Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Onta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al A’raaf: 73)

Tiga hari berselang, unta betina itu melahirkan seekor unta jantan. Unta jantan pun selalu mengikuti induknya kemanpun perginya. Kedua unta itu merupakan simbol kasih sayang. Keduanya hidup di sebuah lembah luas yang mana dari lembah tersebut keduanya makan tumbuh-tumbuhan serta minum dari mata air. Susu dari unta betina itu amatlah lezat untuk semua penduduk.

Baca Juga:  Dua Konsep Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Nusantara

Bagi sebagian kaum Tsamud yang masih mengingkari kenabian Saleh mereka merencanakan akan membunuh unta yang merupakan mukjizat atau tanda kenabian Nabi Saleh. Dan keesokan hari ketika unta tersebut hendak mencari makan meuju lembah, para kafir tersebut menghujamkan pisaunya ke tubuh unta tersebut kemudian memutilasinya menjadi beberapa potongan.

Selang beberapa saat ketika Nabi Saleh dan pengikutnya hendak melihat unta ke lembah tempat unta tersebut biasanya mencari makan, namun sayang yang mereka temukan hanyalah potongan daging dan tanah yang berlumuran darah.

Kaum Tsamud yang ingkar kepada Nabi Saleh enggan untuk meminta maaf atas perbuatan mereka. Mereka juga tak mau bertobat kepada Allah. Nabi Saleh berkata, “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Huud: 65)

Tiga hari berlalu, orang-orang munafik tersebut kembali mengadakan pertemuan dan berencana untuk membunuh Nabi Saleh dan keluarganya. Namun, sebelum mereka melakukan rencana tersebut, peristiwa aneh terjadi.

Awan hitam berkumpul di langit sehingga lembah dan pegunungan benar-benar gelap gulita. Ketika tengah malam, petir manghantam sangat kuat dan menghancurkan kaum Tsamud tanpa tersisa kecuali Nabi Saleh dan pengikutnya. Dan begitulah akhir dari kehidupan kaum Tsamud yang ingkar akan keesaan Allah.

Pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini adalah hidayah tetap berada di tangan Allah. Betapaun bukti yang dihadirkan sangat rasional bahkan melampaui akal manusia, jika tidak ada hidayah mereka juga akan tersesat. Bukti sejatinya adalah alat untuk mencari kebenaran, tetapi bukan kebenaran itu sendiri.

Karena itulah, hal yang perlu dilakukan oleh umat adalah meyakini yang Hak dengan bukti yang sudah di depan mata. Ketika bukti diabaikan bahkan terkadang ditutupi, pada akhirnya yang muncul adalah tragedi. Ketika tragedi terjadi, sungguh hanya sesal yang tersisa.

Baca Juga:  Sedang Haid Masih Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

 

Bagikan Artikel

About Ernawati

Avatar