Membangun Peradaban Islam melalui Iqra’

Membangun Peradaban Islam melalui Iqra’

Dalam sejarah kenabian, wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad berisi perintah membaca. Meskipun perintah wahyu pertama tersebut ditujukan kepada Rasulullah yang ummi,  tidak pandai membaca, hal ini tetap memberikan makna akan pentingnya membaca. Karena membaca berarti belajar. Pemahaman yang syamil dan komprehensif terhadap agama tidak akan bisa diraih tanpa proses membaca.

Al Qur’an, di samping sebagai kitab suci, ia menjadi referensi hukum yang utama dan pertama dalam Islam serta  kitab suci yang sempurna dan mampu menjawab semua problematika yang ada. Sebuah kitab yang dihadirkan untuk mengupas tuntas semua masalah yang dihadapi umat Islam. Walaupun untuk memahaminya membutuhkan media pendukung berupa ilmu pengetahuan yang tidak boleh tidak harus dikuasai. Prosesnya tentu saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak bisa ‘bim salabim’. Harus ada upaya yang serius melalui membaca, memahami dan belajar.

Membaca, merupakan kunci utama untuk memperoleh suatu pengetahuan. Oleh karena itu, menjadi maklum kalau kemudian perintah membaca diwahyukan oleh Allah dalam al Qur’an yang berisi konsep  untuk memahami aspek-aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah ilmu.

Dengan demikian, tradisi intelektual dalam sejarah peradaban Islam dapat hidup dan berkembang secara dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan dan aktivitas membaca sangatlah urgen sebagai implementasi dari perintah pada wahyu pertama. Bacalah. Kalau tidak, maka tidak akan ada perkembangan intelektual dan ilmu secara signifikan, apalagi sebuah peradaban kokoh sebagaimana yang telah dicapai Islam.

Peradaban Islam Dimulai dari Budaya Iqra’

Kemajuan intelektual dan ilmu pengetahuan akan sangat tergantung pada kesadaran dan minat membaca. Ada ungkapan yang tidak kalah menarik yaitu kemajuan ilmu pengetahuan berbanding lurus dengan perhatian dan pengamalan perintah membaca dan menulis. Itu artinya, semakin banyak kegemaran membaca umat Islam, kian tinggi peradaban Islam, begitu pula sebaliknya.

Baca Juga : Mengenal Ulama Salaf dan Khalaf

Apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah patutlah menjadi cerminan bagi semua umat Islam. Mereka  tidak sekadar mendengarkan wahyu atau pelajaran-pelajaran hidup yang disampaikan, apabila ada di antara sahabat yang berhalangan untuk ikut dalam majlis Rasulullah, maka ia meminta sahabat yang telah mengikuti penyampaian Rasulullah untuk membacakan wahyu yang yang telah ditulisnya. Dengan demikian, ia bisa mendengar secara langsung dari sahabat yang ikut dalam majlis.

Hal ini dengan sendirinya membentuk suatu komunitas ilmiah pada waktu itu. Wujudnya, kalau menilik dalam sejarah perkembangan peradaban Islam adalah berdirinya kelompok belajar al Shuffah di Madinah yang merupakan pusat pendidikan Islam pertama.  Dalam perkembangannya, al Shuffah menjadi wadah yang efektif untuk kajian wahyu dan hadis-hadis Rasulullah. Inilah tonggak awal tradisi intelektual dan gambaran terbaik sebuah lembaga belajar mengajar dalam Islam. Ribuan hadis berhasil dipelajari dan dicatat oleh mereka yang aktif di tempat ini.

Oleh karena itu, tidak heran kalau sepeninggal Nabi lahir para sahabat besar yang hafal ribuan hadis seperti Abu Hurairah, Abu Dzar al Ghifari, Salman Al-Farisi, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Mas’ud dan sahabat yang lain. Ketekunan dan minat belajar tinggi yang dimiliki oleh sahabat-sahabat Nabi pada akhirnya memposisikan mereka sebagai penganut Islam yang sempurna. Mengahadirkan wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Reduksi Islam karena Abai Iqra’

Untuk menjaga kesinambungan penguasaan pengetahuan keislaman ini, para sahabat melakukan pencatatan secara detail terhadap al Qur’an dan hadis. Kemudian, ulama dari kalangan tabi’in melanjutkan tradisi yang dilakukan oleh para sahabat. Secara giat mereka melakukan kajian dan hafalan sebagai upaya untuk melanjutkan tugas memperkenalkan Islam kepada generasi berikutnya. Yaitu, tabi’it tabi’in.

Hal ini terus berlanjut sampai pada era imam Madzhab. Sebagai ulama pewaris Nabi, dengan keilmuannya yang mumpuni memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Islam. Khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan agama. Sampai saat ini, sumbangan luar biasa tersebut dinikmati oleh umat Islam diseluruh penjuru dunia.

Apa yang mereka miliki berupa ilmu pengetahuan yang luas tentang Islam, sehingga mampu menampilkan wajah Islam yang damai sesuai misi Rasulullah, tidak dicapai dengan modal berpangku tangan. Akan tetapi melalui proses belajar dan membaca yang panjang. Dalam rentang waktu yang cukup lama.

Berbeda dengan sebagian kecil umat Islam saat ini, bermodal pengetahuan tentang Islam yang serba terbatas, tanpa berpikir panjang dengan serta merta membuat keputusan hukum yang semena-mena. Menafsiri sumber agama dengan sepotong-sepotong. Akibatnya, reduksi terhadap ajaran Islam terjadi. Muncullah kemudian kelompok kecil yang menampilkan agama Islam dengan wajah suram, tidak bersahabat dancenderung inklusif dan destruktif. Radikalisme ajaran Islam.

Dengan demikian, penting memahami spirit wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah di gua Hira’. Berupa perintah untuk membaca. Karena kalau spirit ini masuk ke relung-relung hati umat Islam, niscaya akan mampu mengembalikan kejayaan khazanah Islam seperti pada masa shabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, imam-imam madhab dan ulama-ulama setelahnya.

Wallahu A’lam

Comment

LEAVE A COMMENT