Orang Beragama Pasti Berakhlak Mulia

Sesungguhnya tujuan agama adalah menyampaikan, mendidik dan menanamkan manusia agar bisa mempunyai akhlak mulia. Islam, misalnya, sejak awal misinya untuk memperbaiki moralitas dan perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Agama mempunyai norma yang mengatur kehidupan manusia sejak dari hati, lisan hingga tindakan agar tercipta lingkungan sosial manusia yang harmonis dan damai.

Jika dalam menjalankan agamanya, umat beragama tidak menemukan tujuan tersebut bukan agamanya yang salah tetapi cara beragamanya yang perlu diperbaiki. Kadang umat beragama sudah terlalu merasa diri beragama menjalankan seluruh ibadah, tetapi ternyata tindakannya jauh dari perilaku umat beragama. Ibadahnya justru berlawanan dengan tindakannya.

Dalam kondisi yang berlawanan antara agama dan perilaku umat beragama kita harus mengembalikan kepada misi kerasulan Nabi besar Muhammad. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah ra Nabi telah menegaskan :

اِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلَاقِ

Artinya: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan budi pekerti (HR Ahmad dan Bukhari)

Dari hadist ini jelas sekali bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad saw adalah sangat konsen terhadap perilaku manusia. Islam menyadari ujung pangkal dari kebaikan dan kerusakan kehidupan manusia adalah perilakunya. Kehidupan manusia akan berjalan dengan harmonis apabila perilakunya sesuai dalam koridor akhlakul karimah.

Nabi pun sangat mencintai umatnya yang memiliki budi pekerti yang mulia. Nabi bersabda:

اِنَّ مِنْ اَحَبُّكُمْ اِلَيَّ وَاَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامةِ اَحَاسِنَكُمْ اَخْلَاقًا

Artinya : Sesungguhnya prang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling luhur budi pekertinya. (HR Tirmidzi)

Baca juga : Mensyukuri Kelahiran Sang Nabi, Kenapa Tidak?

Hadis ini secara jelas memperlihatkan posisi orang yang memiliki akhlak mulia dalam Islam. Artinya, orang yang beriman pasti memiliki akhlak yang mulia. Orang yang rajin beribadah dan mendekatkan diri pada Allah niscaya ia memiliki akhlak yang mulia.

Dalam Islam, akhlak merupakan sesuatu yang penting dalam diri manusia karena menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan (hablu min allah), hubungan manusia dengan manusia (hablu min annas) dan hubungan manusia dengan alam lingkungan sekitar (hablu min alam). Keseluruhan ajaran Islam pada intinya adalah mendidik dan menciptakan akhlak yang mulia.

Lihatlah shalat sebagai sarana komunikasi dengan tuhan pada akhirnya bertujuan mencegah perbuatan keji dan mungkar.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.  (al Ankabut 45).

Terlebih puasa ia merupakan ajaran akhlak yang paling mulia. Puasa adalah latihan diri umat Islam untuk menahan hati, lisan hingga tindakan yang kongkret sehari-hari. Berpuasa tidak hanya menahan lapar dan haus tetapi menahan iri, dengki, berbohong, mengumpat, memfitnah, menghasut,  dan berperilaku kasar dan kejam terhadap semua makhluk.

Karena itulah Nabi mengatakan :

اَلصِّيَامُ جُنَّةً فَلَا يَرْفَثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَاِنْ امْرُؤً قَاتَلَهُ اَوْشَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ اِنِّي صَائِمً مَرَّتَيْنِ

Artinya: "Puasa itu adalah tameng. Hindarilah naenguffLpat dan berkata tidak senonoh. Jika seseorang memukulnya atau naengurnpatnya, maka jawablah, 'Aku sedang berpuasa (dua hali)'." (HR Bukhari Muslim).

Dalam ibadah haji ternyata juga menyimpan pelajaran akhlak bagi umat Islam. Dalam al Qur’an disebutkan:

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS : al Baqarah: 197).

Begitu pula dalam zakat yang mengandung periaku empati dan berbagi dengan kalangan tidak mampu. Islam dalam ibadahpun menyelipkan berbagai tujuan, hikmah dan pelajaran bagi umatnya untuk berbudi pekerti. Terlebih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bertetangga, dalam bergaul, dan berinteraksi di dalam keluarga terdapat limpahan pelajaran akhlak mulia bagi umat yang beragama.

Sampailah kita dalam pertanyaannya yang memperlihatkan paradoks orang beragama.  Jika dengan beragama orang masih saja iri, dengki, berbohong, memfitnah, berkata kasar bahkan menjadi lebih jahat, kasar, suka menghardik dan melakukan kekerasan, apa yang salah dengan mereka?  Tentu saja, bukan agamanya yang salah, tetapi ada yang salah degan cara beragamanya.

Jika ada umat Islam sudah melakukan shalat, tetapi senang kemungkaran, maka periksalah shalatnya dari sejak niat hingga salamnya. Jika orang berpuasa masih saja tidak bisa menahan berbohong, dengki, berkata kasar dank eras, sebaiknya periksalah puasanya. Begitu seterusnya. Jika ada umat Islam sudah mengaku Islam masih suka mengkafirkan saudaranya, suka membunuh saudaranya atas nama agama seklupun sejatinya ia belum paham tentang hakikat Islam yang bertujuan untuk membentuk akhlak mulia.

Wallahu a’lam bissawab

Comment

LEAVE A COMMENT