Prinsip Pendakwah : Hanya Memberi Peringatan, Bukan Keselamatan

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan ashabus sunan, Surat ini merupakan salah satu surat yang sering dibaca Nabi saat melaksanakan shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Begitu pula kerapkali ketika kita melaksanakan shalat Jum’at, imam shalat dengan sangat merdu membacakan surat ini. Namun, sebenarnya surat ini merupakan surat yang secara subtansi mengandung ketegasan peringatan. 


Surat al-Ghasiyah merupakan surat ke 88 yang berisi peringatan tentang adanya hari pembalasan (al-Ghasyiyah). Ada siksa dan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada seluruh umat manusia serta gambaran alam semesta sebagai ayat-ayat Tuhan yang dijelaskan melalui untaian ayat Surat al Ghasyiyah yang sangat Indah. 


Baca juga : Berdakwah Itu Harus Dengan Cara Baik Bukan Dengan Makian


Tiba-tiba pada ayat 21-22 Surat al-Ghasyiyah Nabi pun diperingatkan dengan dua ayat yang menurut Saya harus juga menjadi pegangan seluruh umat khususnya para pemberi nasehat: Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Dua ayat ini merupakan peringatan kepada mereka yang bertugas memberi peringatan kepada umat manusia. 


Nabi, Rasul, khalifah, ulama dan tokoh agama hanyalah pemberi peringatan. Mereka tidak boleh melampaui batas untuk menjadi penyelamat dengan memaksa keimanan seseorang. Tiada seorang pun di dunia yang boleh melampauai batas peran Tuhan untuk memberikan hidayah. Tiada seorang pun di dunia yang berhak menjamin seseorang masuk surga dan masuk neraka kecuali kesombongan diri yang ingin memerankan menjadi Tuhan. 


Baca juga : Tugasmu Berdakwah Bukan Memberi Hidayah


Hari ini banyak sekali penceramah yang tidak hanya berperan menjadi pengingat atau pemberi peringatan, tetapi berlagak menjadi penyelamat. Dengan congkak memberikan jaminan surga seolah dirinya telah ditetapkan sebagai penghuni surga. Menghujat orang berdosa dan memaksa keimanan orang lain seolah dirinya mampu memberikan hidayah. 


Allah hanya memberikan tugas kepada Nabi dan Rasulnya untuk menyampaikan risalah. Mereka tidak diberikan wewenang untuk memberikan hidayah dan memaksakan keimanan seseorang. Ketika risalah sudah disampaikan, tidak perlu lagi pemaksaan dan pengawasan. 


Allah berfirman :  فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ 


Artinya : Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah) ( QS: Asy Syura : 48). 


Urusan memberikan hidayah, membuka dan membutakan mata hati keimanan adalah urusan Allah. Semestinya, pemberi peringatan hanya berposisi untuk menyampaikan dengan ilmu, amal dan dakwah yang baik dengan harapan mampu menyentuh hati. 


Baca juga : Dakwah Bil Hikmah Bukan Amarah


Prinsip dalam memberi peringatan ini menjadi pelajaran bagi para pendakwah dan penceramah agar selalu sabar dan tawakkal dalam mengajak umat dalam kebaikan. Ketika umat berpaling setelah risalah disampaikan itu sudah menjadi wilayah Tuhan. Para pemberi peringatan hanya berperan untuk tiada lelah selalu menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik. 


Karena itulah, para pendakwah dan penyampai ajaran agama hendaklah menyadari posisi dirinya sebatas pemberi peringatan. Urusan taufik dan hidayah adalah murni kekuasaan dan wewenang Allah. Bahkan Nabi pun tidak bisa memberikan hidayah kepada orang terdekat dan yang disayanginya. Alllah memperingatkan Nabi : 


إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 


Artinya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya,"(QS. Al-Qashas: 56). 


Karena itulah, ada beberapa prinsip yang harus dipegang ketika anda bersungguh-sungguh dalam memerankan diri sebagai pendakwah dan penyampai ajaran keagamaan. Pertama, gigihlah dalam menyampaikan dan memberikan peringatan, tetapi bersabar dan bertawakkal atas hasil yang didapatkan. 



Baca juga : Meneladani Keluwesan Hati Rasulullah Saw


Kedua, sungguh kebenaran Islam tidak bisa dibendung ketika hidayah Allah menjumpai seseorang. Namun, hidayah dan taufik adalah wewenang Allah semata. Sekeras apapun seseorang tidak akan mampu melawan kuatnya hidayah Allah. Karenanya Umat Islam bertugas memberikan penyadaran semampunya, tidak usah memaksakan diri menjadi Tuhan dengan memaksakan hidayah. 


Ketiga, strategi dakwah sebenarnya adalah dakwah yang mencerdaskan dan penuh kelembutan sehingga mampu menyentuh hati. Lihatlah banyak cerita orang yang masuk Islam bukan karena paksaan, tetapi dakwah lembut dengan akhlak mulia yang dapat menyentuh hati.

Wallahu a’lam 


Comment

LEAVE A COMMENT