Puasa adalah Terapi Pengenalian Diri

Puasa adalah Terapi Pengendalian Diri

Secara bahasa berpuasa (shiyam) berarti menahan (imsak). Perbuatan menahan diri terhadap melakukan aktifitas apapun disebut dengan puasa. Sementara, dalam pengertian syar’i berpuasa adalah menghindari hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Apabila diperhatikan lebih dalam ada hal menarik dengan ibadah puasa ini. Islam melatih umat Islam untuk menahan beberapa hal yang sebenarnya dihalalkan seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Artinya, dalam latihan ini, bahkan melakukan tindakan yang halal saja diatur dan dilatih untuk dihindari apalagi hal yang dilarang.

Inilah yang mesti dimaknai lebih mendalam oleh umat Islam yang melakukan puasa. Makan, minum dan berhubungan suami -istri adalah hal yang diperbolehkan di luar Ramadan, tetapi Islam melatih umat Islam untuk menghindari ketika siang hari di bulan puasa. Lalu, apakah tindakan yang dilarang baik sebelum dan sesudah Ramadan seperti berbohong, mengumbar kebencian, melakukan kekerasan, memfitnah, dan bertindak kasar tidak bisa ditahan oleh umat Islam yang berpuasa.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa” (HR. Al Bukhari).

Baca juga : Hukum Berkumur (Istinsyaq) Ketika Berpuasa

Ingatlah pesan Nabi bahwa puasamu adalah perisaimu. Para ulama berpendapat tentang maksud pengulangan dua kali “aku sedang berkuasa” dalam hadist tersebut. Sebagian ulama berpendapat pengulangan ini memiliki pengertian penegasan kepada orang yang menawarkan dan mengajak kepada hal yang membatalkan puasa atau bermaksud melakukan perbuatan jahat kepadamu agar mereka sadar posisimu sedang berpuasa.

Hal ini semisal anda ditawari makan, maka anda menolak dengan berkata: aku sedang berpuasa. Apabila anda sedang puasa lalu mendapatkan ejekan, makian, cemohan, dan fitnah anda memberikan peringatan kepada mereka untuk menghentikan hal itu karena anda sedang berpuasa. Pada posisi ini, anda sedang melatih kesabaran diri untuk tidak melakukan balas dendam.  

Sebagian ulama juga menegasakan perkataan ini adalah penegasan dalam hati seorang yang sedang berpuasa secara berulang untuk meyakinkan dirinya agar tidak terpancing emosi. Orang berpuasa harus mengontrol diri ketika ada orang yang mencelanya, menganggunya, dan memancing amarahnya dengan mengatakan: aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.

Dalam konteks ini, puasa sebagai perisai adalah terapi pengendalian diri, terapi pengendalian emosi, terapi pengendalian keinginan dan terapi pengendalian keburukan yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam harus memaknai puasa tidak hanya sebagai ibadah untuk menggugurkan kewajiban saja, tetapi yang lebih penting adalah memaknainya sebagai latihan untuk menahan diri dari perbuatan apapun yang dapat merusak ibadah puasa.  

Karena sebagai terapi pengobatan spiritual,  keberhasilan seorang berpuasa bukan terletak pada kesuksesan menjalani puasa tanpa batal selama sebulan penuh. Keberhasilan umat Islam melakukan puasa adalah ketika ia keluar Ramadan berhasil menundukkan emosi, keinginan dan nafsu kejelekan.

Setelah Ramadan hal yang dilarang seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri di siang hari sudah bukan larangan lagi. Umat Islam akan dikatakan berhasil ketika pasca Ramadan ia mampu mempertahankan hal yang dilarang dalam agama. Termasuk bagaimana umat Islam mampu mengendalikan amarah, mengendalikan lisan, mengendalikan pikiran, dan mengontrol tindakan.  

Jika kita merasa sedang berpuasa maka hendaklah kita tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami-istri untuk meyakinkan puasa anda tidak batal. Akan tetapi, terapi ini harus dikembangkan lebih jauh. Ketika anda merasa sedang berpuasa maka hendaknya kita tidak melakukan hal yang dilarang seperti menggunjing, memfitnah, memaki, berbohong, melakukan tindakan kekerasan dan perbuatan dosa lainnya.

Ketika umat Islam berhasil menjadikan puasa ini sebagai terapi, saat itulah ia akan menjadi pribadi yang bertakwa sebagaimana tujuan disyariatkan puasa (QS Al Baqarah: 159). Puasa pada akhrinya ingin membentuk ketakwaan. Takwa itu adalah suatu sikap dan kondisi umat Islam yang selalu merasa diawasi oleh Tuhan baik kondisi ramai dan sepi.

Jika puasa dilakukan secara sukses sebagai terapi selama satu bulan, umat Islam akan memperoleh perisai bernama ketakwaaan. Setelah bulan Ramadan berlalu sesungguhnya perisai diri umat Islam dari berbagai tindakan buruk dan dosa adalah sikap takwa. 

Comment

LEAVE A COMMENT