Ummatan Wasathan: Cara Umat Menerapkan Islam kaffah

Ummatan Wasathan: Cara Umat Menerapkan Islam kaffah

Berislam secara menyeluruh, totalitas dan komprehensif bukan berarti bersikap ekstrim. Islam kaffah mengandung pengertian suatu pandangan bahwa Islam adalah agama yang memuat ajaran yang komprehensif dari ibadah, kesejateraan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Islam mengajarkan nilai dan ajaran agar kehidupan di dunia bermartabat dan di akhirat bisa selamat.

Untuk mewujudkan islam yang kaffah tersebut Allah telah memberikan panduan kepada umat Islam. Panduan itu merupakan karakter umat yang harus terus dijaga karena merupakan identitas yang dilekatkan Tuhan kepada umat Islam. Dalam Qur’an disebutkan surat  Al-Baqarah  {2):  143 bahwa karakter dan identitas Umat islam sebagai ummatan wasathan. Demikianlah itu Kami menjadikan kamu ummatan wasatha agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Kata wasath dengan berbagai turunan kata dan perubahannya terulang dalam Qur’an sebanyak lima kali selain ayat di atas, yakni di QS. al-'Adiyat/100: 5, QS. al-Maidah. 5: 89, QS. alQalam/68: 28 dan QS. al-Baqarah/2: 238. Menariknya kata washatan yang terdapat dalam ayat 143 al-Baqarah ini berada di tengah surat ini yang jerumlah 286 ayat.

Umat Islam sebagai ummatan wasathan tidak berlebihan dalam beragama sebagaimana kehidupan umat nasrani dalam kehidupan kependetaan serta berlebihan kepada Nabi Isa. Tetapi bukan pula umat Islam seperti umat Yahudi yang menyepelekan ajaran agama dengan merubah ayat-ayatNya. 

Konsep ummatan wasathan dimaknai sebagai umat yang memiliki sifat-sifat yang moderat, sifat pertengahan, tidak ekstrim. Umat Islam adalah pribadi yang yang mencerminkan keseimbangan jasmani-rohani, lahir-batin, jiwa-raga, dan dunia-akhirat. Umat Islam sebagai ummatan wasathan berarti umat yang moderat yang menjaga keseimbangan, keserasian dan harmoni dalam sifat dan tindakannya.

Baca Juga : Memahami Syariat secara Kaffah

Al-wasath adala ciri keunggulan umat Islam yang berada di tengah, moderat, dan bersikap adil. Karena itulah, dalam pertandingan, adalah istilah wasit yang diambil dari bahasa Arab wasith, yang berarti penengah yang adil atau pengatur pertandingan agar berjalan secara baik. 

Konsep ummatan wasathan adalah konsep Qur’an untuk menunjukkan suatu masyarakat yang ideal yang mampu menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena Islam adalah ajaran yang meliputi berbagai aspek kehidupan, tetapi umat Islam harus menjaga keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan.

Ketika umat Islam ingin menerapkan Islam secara kaffah bukan berarti ia bersikap ekstrim menanggalkan segalanya atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global. Washatiyah atau moderasi menganjurkan islam untuk berinterkasi, berdialog, terbuka dengan semua pihak karena umat ini kelak akan menjadi saksi yang adil.

Ketika umat saat ini terpa dengan berbagai sikap ekstrim baik fundamentalisme, radikalisme, liberalisme, kapitalisme dan sosialisme, umat berada dalam posisi moderat yang adil dalam menyaksikan ideologi ekstrim tersebut. Umat Islam tidak berdiri di ujung posisi ekstrim tetapi berada di tengah sebagai umat yang adil dan menengahi.

Umat Islam adalah umat yang tidak melampaui batas. Umat yang tidak terbelenggu dalam hal duniawi (materialism), tetapi juga bukan tersiksa dengan ketaatan keagamaan yang buta (spiritualisme). Semua sifat terpui adalah bermuasa pada sikap pertengahan.

Berislam secara kaffah secara menyeluruh menyadarkan umat ini untuk menerapkan prinsip wasathiyah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Umat yang tidak berlebihan dalam beragama, tetapi juga bukan umat yang melakukan penyimpangan dalam agama. Berislam secara kaffah dengan karakter wasathiyah adalah umat yang adil, moderat dan seimbang dalam menjaga kepentingan agama dan sosial kehidupan  dan keselamatan di dunia dan akhirat. 

Comment

LEAVE A COMMENT