banjir
banjir

Musim Hujan dan Berbagai Bencana Alam Melanda, Ini 5 Prinsip Melestarikan Lingkungan dalam Islam

Hujan dengan intensitas tinggi mulai melanda berbagai daerah di bumi pertiwi. Kita patut bersyukur karena musim hujan yang dinanti-nanti telah datang. Namun di sisi lain,  hujan seringkali menjadi penyebab terjadinya banjir. Hal ini lantaran lingkungan sudah tak bersahabat lagi dengan manusia.

Tabiat manusia yang suka mengeksploitasi lingkungan secara ‘ugal-ugalan’ dan membuang sampah secara sembarang menjadi penyumbang terbesar terjadinya banjir bandang. Seringkali masyarakat baru sadar akan perilaku yang tak sesuai dengan prinsip pelestarian lingkungan ketika banjir datang. Namun, ketika banjir sudah berlalu, hasrat dan ambi menjamah lingkungan secara ‘bar-bar’ kembali terjadi.

Dalam bingkai perilaku masyarakat demikian itu, kajian tentang pelestarian lingkungan mendesak untuk dilakukan. Hal ini sebagai langkah edukasi kepada masyarakat luas akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Lalu, apa saja prinsip Islam dalam melestarikan lingkungan? Pada tahun 210 silam, Abdul Matin, penasihat Kebijakan di Kantor Walikota New York untuk masalah-masalah sustainabilitas, mengenalkan istilah green deen (agama hijau). Kemudian konsep green deen tersebut dijabarkan dengan detail dalam karya tulisnya berjudul “Green Deen: What Islam Teaches About Protecting the Planet”.

Abdul Matin menggagas konsep luar biasa, yakni bagaimana cara mengamalkan nilai dan ajaran agama seraya menguatkan sinergi antara agama dan lingkungan. Tegas kata, Abdul Matin hendak menjawab pertanyaan di atas, bahkan ia telah merumuskan solusi praktis dalam rangka memimimalisir kerusakan ekologi.

Matin juga yakin bahwa nilai-nilai etik agama dapat menggerakkan pemeluknya untuk memelihara bumi, memperlakukan bumi secara proporsinal, dan menyelamatkan bumu dari kerusakan. Secara rinci, Matin berhasil mengulik setidaknya lima prinsip dasar agama hijau, yang semuanya itu didasarkan pada Alquran dan Hadis.

Baca Juga:  Gagal Paham Kembali ke Sunnah: Apakah Mu'amalah dalam Islam Harus Memakai Dinar dan Dirham?

Pertama, tauhid (memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya).

Tauhid menjadi prinsip dasar tidak hanya dalam aqidah, melainkan juga terhadap pelestarian lingkungan. Sehingga tauhid dalam konteks ini berarti segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah berasal dari sumber yang sama; sama-sama cipataan-Nya. Karena itu, merawat dan tidak mengeksploitasi alam secara ugal-ugalan sama dengan mematuhi perintah “langit”.

Kedua, melihat tanda-tanda (ayat) Tuhan di mana saja.

Gunung, lautan, tumbuh-tumbuhan dan apa-apa yang ada di bumi ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka, sebagai orang yang beriman, sudah seyognyanya menjaga tanda-tanda kekuasaan Allah tersebut dengan baik. Wujud dari prinsip kedua ini adalah, kita harus memiliki kesadaran bahwa semua ini bukan untuk keberlangsungan hidup satu generasi saja, melainkan untuk generasi berikutnya.

Ketiga, menjadi penjaga (khalifah) di bumi.

Manusia memiliki posisi yang penting dalam pelestarian lingkungan, setidaknya untuk melindungi lingkungan dari kerusakan dan kemerosotan mutun serta untuk menjamin kelestariannya (Rachmadi Usman, Pokok-pkok Hukum Lingkungan Nasional: 1994, hlm. 3).

Nah, konsep Khalifah di sini lebih pada tugas mulia, yakni menjadi ‘pengganti’ Allah dalam menjalankan misi rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian, prinsip ini berarti setiap dari wakil Allah dimuka bumi memiliki tugas untuk memastikan bahwa bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Lebih lanjut, prinsip ini juga berarti mengerosi segala bentuk keserakahan dan perusakan yang diakibatkan oleh tangan manusia.

Quraish Shihab dalam Membumikan Alquran menambahkan keterangan terkait konsep khalifah sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30, bahwa kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling terkait, yaitu (1) manusia, (2) alam raya, (3) hubungan manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk manusia. Hal ini berarti bahwa tanngung jawab manusia sebagai khalifah terletak pada penataan, pemeliharaan, pengawasan, dan pengembangan tata lingkungan yang berkelanjutan (Zuli Abdul Qadir: 1997, hlm. 124).

Baca Juga:  Idealitas Karakter Kepemimpinan Islam

Keempat, menjaga kepercayaan Tuhan (amanah).

Dalam QS. Luqman [31]: 10, Allah menciptakan langit dan bumi lalu mengembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak di bumi. Kemudian Allah menurunkan air (hujan) untuk menumbuhkan berbagai macam tumbuhan hanya untuk hambanya. Dan anugerah luar biasa ini bukan untuk foya-foya, melainkan manusia harus menjaganya.

Allah menundukkan segala apa yang ada di bumi dengan sistem dan komponen yang dibutuhkan oleh kehidupan manusia. Namun, jangan sampai kita terlena terhadap anugerah melimpah tersebut sehingga melupakan tugas utama dari langit; yakni menjaga alam agar tetap lestari dan seimbang. Dalam masalah lingkungan, Islam mengutuk keras perilaku yang mengarah pada perusakan lingkungan sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” (QS. Al-A’raf: 56).

Kelima, menjalani kehidupan yang selaras dengan alam (mizan).

Pada dasarnya, alam sangat bersahabat dengan manusia, pun sebaliknya. Dengan kata lain, jika manusia menjaga alama, maka alam pun akan menjaga manusia. Keseimbangan ini harus dijalankan oleh manusia dalam memanfaatkan lingkungan.

Demikianlah prinsip-prinsip pelestarian lingkungan dalam persktif Islam. Kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan tidak hanya munul ketika musim hujan dan musibah silih berganti. Bahkan, Matin mengajak kepada seluruh komunitas agama apapun itu—lintas iman—untuk bersatu; menjadikan pelestarian lingkungan sebagai gerakan bersama sehingga dapat menjadi sumber kekuatan yang luar biasa bagi pelestarian lingkungan.

Bagikan Artikel ini:

About Fauziyatus Syarifah

Avatar of Fauziyatus Syarifah
Mahasiswi magister program PAI UIN Walisongo Semarang

Check Also

kh ahmad dahlan

3 Kiat Menuju Masyarakat Tangguh dan Beradab Ala KH Ahmad Dahlan

Nama KH. Ahmad Dahlan sangat moncer dikalangan bangsa Indonesia karena ia termasuk orang yang memiliki …

jihad kemerdekaan

Agustus Bulan Perjuangan : Inilah 3 Bentuk Jihad Bela Negara yang Dianjurkan Agama!

Bagi rakyat Indonesia, Agustus adalah bulan perjuangan. Pernyataan ini tentu saja tidak berlebihan mengingat pada …