memiliki keris
keris

Muslim Memiliki Keris, Ada Masalah?

Ada pertanyaan yang sedikit lucu tetapi penting dijawab, bolehkah seorang muslim memiliki keris? Pertanyaan ini muncul karena seringkali keris diasosiasikan dengan klenik, mistik, dan perdukunan yang jatuh pada perilaku syirik.

Dalam sejarahnya, keris merupakan salah satu senjata tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Jawa yang juga banyak di kenal dengan sebutan wesi aji. Konon, negara tetangga Malaysia pun mengakui keris sebagai warisan budaya mereka.

Selain keris, Nusantara memiliki beberapa senjata tradisional lainnya seperti pedang, tombak, golok, belati, pisau, parang dan lain sebagainya. Namun dari sekian banyak jenis senjata tradisional, memang keris yang lebih tersohor dibanding senjata lainnya karena nama, bentuk sampai bahan yang digunakan memang lebih unggul.

Dalam catatan Sebagian sejarawan, keris mulai dikenal di Nusantara pada masa kerajaan Majapahit dan kerajaan Mataran, yakni sekitar abad 14-17. Keris juga memiliki nilai historis yang cukup panjang. Hingga sampai saat ini pun keris masih dikenal oleh seluruh warga Indonesia. Keris memiliki nilai kreasi, inovasi dan artistik yang membuatnya menarik dan banyak diminati.

Lalu, bagaimana memiliki keris dihadapkan dengan keyakinan umat Islam? Bolehkah merawat keris? Bagi kita yang memiliki keris, boleh bagi kita untuk memandikannya dan memberikan wangi-wangian terhadapnya. Islam mengajarkan pada umatnya untuk berbuat baik kepada setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah.

Banyak di kalangan ulama Indonesia yang masih memiliki dan juga menyimpan keris guna untuk menghormati benda pusaka asli Nusantara. Bahkan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia, pada 25 November 2005.

Memuliakan keris dengan cara tradisional dengan memandikan yang bertujuan supaya karat-karat yang menempel pada keris hilang, setelah dimandikan keris diberikan minyak agar hilang bau besi, hingga dimasukkan lagi ke wadahnya setelah itu dimasukkan ke dalam lemari merupakan salah satu bentuk menjaga keris supaya tetap lestari.

Selain nilai artistik,  bentuk keris memiliki banyak simbol spiritual. Keris memiliki sisi yang menarik yakni jika diperhatikan keris adalah kelokan (luk), ornamen (ricikan), warna atau pancaran bilah, serta pola pamor. Kombinasi berbagai komponen ini menghasilkan sejumlah bentuk standar (dhapur) keris yang banyak dipaparkan dalam pustaka-pustaka mengenai keris. Tak hanya digunakan sebagai senjata tradisional saja, namun banyak yang meyakini bahwa keris ternyata memiliki kekuatan supranatural di dalamnya.

Sebagai umat muslim yang beriman tentunya kita diwajibkan untuk mempercayai sesuatu yang ghaib, sesuatu yang mungkin hidup dan bertempat di suatu tempat, termasuk bisa jadi di dalam keris. Allah berfirman : “Yaitu orang-orang yang beriman (percaya/meyakini) kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan” (QS Al-Baqarah:3).

Namun, memang keris bisa mengantarkan manusia kepada kemusyrikan apabila manusia sudah mulai meminta-minta kepada makhluk yang ada di dalamnya untuk menyejahterakan dirinya atau hal-hal yang bersifat pribadi dan menguntungkan baginya. Manusia boleh saja meyakini adanya hal ghaib yang ada di dalam keris, tapi manusia sangat tidak diperbolehkan untuk mempercayai bahwa keris memiliki pamor bernuansa magis, yakni mendatangkan kekayaan, menghindarkan dari bahaya, mencukupi kebutuhan hidup, menghangatkan hubungan suami-istri, dan lain sebagainya.

Karena pada dasarnya Allah Maha Pencemburu apabila makhluknya mulai meminta-minta kepada ciptaannya yang lain. Dalam al-Quran, Allah telah mengingatkan bahayanya meminta pertolongan jin. “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS Al-Jinn: 6).

Dalam Surat Al-Jin dijelaskan manusia yang meminta pertolongan jin justru dibuat tersesat oleh jin. Karena pada dasarnya jin telah banyak menyesatkan manusia. Jangan sampai jin bisa menyesatkan dan membawa kepada kemusyrikan.

Lalu pertanyaan apakah boleh memiliki keris? Sejatinya, apapun bisa menjadi perantara syirik, tidak hanya keris. jika manusia mempercayai bahwa apilah yang mampu membakar kayu itu sudah masuk dalam katagori musyrik. Atau manusia mengatakan bahwa yang menyembuhkannya dari sakit adalah obat ini atau itu, maka itu sudahlah masuk dalam katagori musyrik. Karena apapun yang sudah terjadi merupakan takdir Allah, kayu maupun obat hanyalah perantara semata.

Keris dimaknai sebagai warisan budaya yang harus dijaga layaknya warisan budaya yang lain. Selama pada keyakinan ini bahwa keris adalah pusaka, budaya, warisan dan tradisi yang harus dilestarikan kenapa harus dipersoalkan. Layaknya kepemilikan benda lain seperti cincin, emas dan lainnya.

Keris yang  merupakan warisan budaya sudah semestinya kita jaga dan lestarikan dengan baik. Karena keris juga merupakan kebanggaan dan jati diri bangsa. Selain itu pentingnya ilmu supaya kita bisa lebih bijak dalam memaknai sebuah keris. Karena kesalah pahaman sekecil apapun, bisa membuat Allah cemburu dan murka atas tindakan kita. Waallahu ‘alam

 

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

perbedaan madzhab

Berbuat Adil adalah Berbuat Kebaikan Tanpa Memandang Latar Belakang Agama, Itu Perintah Agama

Hak beragama merupakan hak azasi yang melekat pada diri manusia. Negara Indonesia juga telah menjamin …

pinjaman online

Pinjol Memakan Korban Ratusan Mahasiswa, Inilah Cara Transaksi yang Aman dalam Islam

Baru-baru ini santer berita tantang beberapa mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terjerat pinjaman online …