Muslim Milenial

Muslim Milenial: Jangan Hanya Tanamkan Militansi, Tetapi Juga Literasi Keragaman

Geliat generasi muda muslim saat ini memang sungguh menjanjikan. Mereka seolah tampil memukau dengan parade kesalehan relijius yang ditampilkan di ruang publik. Kegairahan mereka pun dalam mencari ilmu agama semakin tinggi. Dari sekedar mencari informasi melalui internet hingga bergabung dalam pengajian-pengajian di sekolah, kampus dan lingkungan masyarakat.

Namun, teramat disayangkan geliat militansi mereka dalam memahami agama dan membela agama terkadang juga tidak diikuti dengan kemampuan literasi keagamaan yang memadai. Mereka hanya dijejali dengan ajaran militansi untuk membela agama, tetapi tidak dengan kemampuan literasi untuk memahami agama secara utuh.

Berbagai sumber penelitian terhadap muslim milenial ini ternyata mengejutkan. Semisal pada tahun 2017 silam, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melakukan studi terhadap kalangan muda khususnya generasi muslim. Hasilnya sebanyak 58% mereka memiliki opini radikal, 51% opini intoleransi internal dan 34,4% memiliki opini intoleransi eksternal.

Dalam konteks inilah, generasi milenial yang ingin mendalami Islam cenderung hanya diarahkan untuk penanaman militansi. Bagaimana membela Islam, bagaimana menyikapi agama lain, bagaimana pula menghadapi negara yang dalam pandangan mereka tidak Islami. Narasi-narasi ini kerap dijejali dengan propaganda yang memukau yang mengugah mereka untuk bergerak.

Muslim Milenial yang Instan

Dalam sebuah hadits Sahih Bukhari dan Muslim Rasulullah pernah memprediksikan munculnya generasi muda dengan gairah keagamaan yang tinggi, tetapi tidak diikuti dengan kapasitas keilmuan yang memadai. Mereka tidak mempunyai perangkat keilmuan untuk mendalami ajaran Islam, tetapi mereka sangat militan dalam beragama.

Rasulullah bersabda : Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. (HR Bukhari-Muslim).

Baca Juga:  Atas Nama Apapun, Kekerasan Takkan Pernah Menang

Kelompok anak muda ini seringkali mengklaim sebagai kelompok paling benar dalam menerapkan agama. Mereka seolah merasa paling rajin beribadah dan paling fasih dalam membaca al-Qur’an. Seolah umat Islam yang ada menjadi kurang Islami dalam pandangan mereka. Mereka tampil memukau dan militan dengan gagasan atas nama agama dan membela Tuhan, tetapi dengan kemampuan akal yang sangat lemah.

Dalam sejarah Islam, kita melihat salah satu representasi anak muda itu melalui sosok Abdurrahman bin Muljam, pembunuh Sayidina Ali bin Abi Thalib, Sang Khalifah. Ibnu Muljam dikenal sebagai anak muda yang taat beribadah, bahkan hafal al-Qur’an. Namun, melalui pemahaman keagamaannya yang sempit dan ekstrim ia menganggap Sang Khalifah adalah bagian dari kelompok kafir yang halal darahnya karena menerima proses tahkim yang tidak berdasarkan hukum Allah.

Representasi Ibnu Muljam dalam konteks kekinian sudah teramat banyak. Mereka masih muda yang mempelajari agama secara instan melalui internet atau melalui pengajian yang tertutup. Mereka tampil seolah paling Islami dengan mengkafirkan dan membid’ahkan masyarakat sekelilingnya. Dan mereka dengan militan meneriakkan “Takbir” untuk mengganti hukum negara yang ada yang dalam pandangan mereka adalah kafir.

Pun generasi muda ini tidak segan menghalalkan darah sesama muslim. Serangan demi serangan teror dilakukan oleh mereka yang masih belia dengan kemampuan keagamaan yang instan, tetapi militan. Militansi mereka tidak dibarengi dengan literasi keagamaan yang memadai. Pemahaman yang sempit dan tekstual telah menjerumuskan mereka kepada pemahaman takfiri.

Memoderasi Milenial

Menjadi pekerjaan rumah bersama untuk merangkul keberadaan mereka. Mereka sebenarnya dengan niat tulus ingin mendalami agama, tetapi bertemu dengan pengajaran islam yang fatamorgana. Impian tentang Islam yang mereka idamkan dibangun atas dasar pengetahuan yang sempit dengan dukungan militansi yang kuat.

Baca Juga:  Masjid Radikal dan Menteri Agama yang Tidak Good Looking

Dakwah moderasi dan Islam rahmatan lil alamin menjadi sangat penting digencarkan di kalangan generasi seperti ini. Kita tidak mengharapkan lahirnya generasi Ibnu Muljam baru di dunia Islam dan dalam konteks Indonesia kekinian. Mereka yang sudah teracuni dengan propaganda militansi harus dibawa kea lam literasi agama yang rahmat dan moderat. Mereka sejatinya adalah korban yang ingin mengorbankan dirinya untuk kepentingan agama, tetapi dengan cara yang salah.

Generasi muda Islam saat ini harus menjadi penebar rahmat. Cara menanamkan ajaran Islam yang rahmat harus dikembalikan pada misi kerasulan itu sendiri. Bahwa Rasul diutus dimuka bumi untuk memperbaiki akhlak. Pembenahan akhlak bagi generasi muda sangat penting sebelum mereka berkoar untuk menegakkan agama. Akhlakul karimah menjadi benteng mereka dari pengaruh paham yang sempit dan menyempitkan akal sehat mereka.

Bagikan Artikel

About Mawaddah Ni'mah

Avatar