muslimah cadar
muslimah cadar

Muslimah, Cadar, dan Anjing

Muslimah, Cadar, dan Anjing – Di sebuah pemberitaan media nasional, sore itu, saya membaca satu hal yang unik. Sangat unik. Seorang muslimah memberi makan anjing-anjing liar. Sungguh mengejutkan. Betapa tidak, perempuan itu memakai niqab atau cadar. Tentu saja berita ini seketika viral di jagad maya, warganet ramai memuji, hingga mencaci sosoknya.

Ialah Hesti, perempuan yang seketika viral dan menghebohkan dunia permedsosan di Indonesia. Hesti memelihara 70 ekor anjing liar di tempat penampungan (shelter) yang ia beri nama “Greenhouse”. Ia hadir membawa sejumlah perdebatan: tentang muslimah, cadar, dan hukum memelihara anjing.

Hesti mengalami penolakan oleh segelintir oknum mengatasnamakan warga. Hesti curiga bahwa para penolak tersebut bukanlah warga sekitar perumahannya, karena toh shelter itu sudah mengantongi izin masyarakat sekitar dan letaknya pun cukup jauh dari perumahan. Sehingga tentu saja Ia curiga.

Mediasi demi mediasi telah dilakukan, tapi Hesty tetap dituntut untuk melepaskan anjing-anjingnya karena penolak merasa peliharaannya tersebut berisik dan mengganggu ketenteraman warga. Hasil dari mediasi ini, akhirnya Hesti setuju sebanyak 47 anjing peliharaannya dilepaskan kepada tangan-tangan adopter baru.

Puluhan anjing di shelter miliknya ia rawat sepenuh hati dengan hasil jerih payah menjual keripik. Kadangkala Hesti juga mendapatkan bantuan dari para donatur pecinta hewan dari berbagai daerah. Ia masih terus bertanya-tanya, mengapa provokasi penolakan terus saja terjadi dari orang-orang di luar daerahnya. Padahal kata dia, warga sekitar justru membela Hesty tatkala ada oknum yang mengintimidasi.

“Saya bukan teroris, penjahat, bandar narkoba, jual anjing, atau bahkan jagal. Makanya saya tidak mengerti kenapa kejadian seperti ini terjadi lagi,” tuturnya, dikutip dari laman CNNIndonesia.com, Sabtu (13/3).

Baca Juga:  Datanglah ke Masjid, Hidupmu Jadi Bahagia Penuh Berkah

Anjing merupakan hewan yang sangat setia terhadap majikannya. Ia bahkan sangat perhatian dan penurut dengan manusia. Indera penciumannya sangat tajam yang memungkinkan dia membantu polisi untuk melacak melalui bau.

Namun di dalam Islam, air liur anjing merupakan najis Mughallazah, najis besar yang dalam mensucikannya tidak bisa hanya dengan dicuci atau dibasuh sekali saja, melainkan harus 7 kali menggunakan air bersih yang mengalir. Selain itu, dagingnya juga haram untuk dimakan.

Atas dasar najis dan keharaman itulah kemudian banyak orang Islam yang anti terhadap anjing. Keantian mereka bahkan sampai membenci makhluk Tuhan yang imut dan lucu satu ini. Sehingga orang Muslim yang memelihara ataupun menyukai anjing seringkali dikucilkan dan dianggap telah berdosa.

Boleh atau tidaknya seorang memelihara anjing, masih dalam perdebatan para Ulama. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang Muslim yang memelihara anjing tanpa sebab tertentu dapat dikurangi pahalanya, sebagaimana bunyi hadits riwayat Imam Muslim:

 “Dalam riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memelihara anjing bukan anjing pemburu, penjaga ternak, atau penjaga kebun, maka pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath setiap hari.’”

Ulama berbeda pendapat perihal seorang Muslim yang memelihara anjing berdasarkan hadits tersebut. Ulama Madzhab Syafi’i misalanya, berkesimpulan bahwa seorang Muslim haram memelihara anjing tanpa tujuan tertentu seperti untuk berburu, menjaga tanaman ataupun hal-hal penting tertentu. Seorang Muslim hanya boleh memelihara anjing untuk sejumlah keperluan.

Sebaliknya, Imam Malik membolehkan pemeliharaan anjing untuk jaga tanaman, perburuan, dan jaga hewan ternak. Sedangkan ulama madzhab Maliki menjelaskan bahwa pemeliharaan anjing tidak diharamkan. Ia berpendapat bahwa larangan Rasulullah hanya bersifat makruh.

Terkait hukum boleh atau tidaknya memelihara anjing adalah khilafiyah di antara para Ulama. Namun membenci bahkan sampai menyiksa anjing adalah perbuatan zalim yang sangat tidak bisa dibenarkan oleh alasan apapun. Sebab anjing adalah juga makhluk ciptaan Allah yang wajib kita sayangi sebagaimana ciptaan-Nya yang lain.

Baca Juga:  Melalui Virus Corona Umat Mulai Belajar Islam Itu Dinamis

Dan orang-orang Muslim yang memberi perhatian terhadap anjing, bukan berarti mereka tidak tahu akan hukum syariat, namun bisa jadi karena mereka sudah hatam dengan itu. Sehingga yang mereka lakukan adalah praktik nyata, bahwa halal-haram, suci-najis adalah perihal hukum, bukan tentang relasi kehidupan.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”