keturunan rasulullah

Nabi Muhammad SAW Tak Mengakui Keturunannya yang Berbuat Dosa dan Fitnah

Sebagai seorang muslim, kita mungkin sudah sangat tahu bahwa jalur keturunan/dzuriyyah nabi Muhammad SAW hanya berasal dari nasab putrinya, yakni sayyidah Fatimah az-Zahra yang menikah dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib. Memang sayyidah Fatimah merupakan puteri yang utama di sisi nabi Muhammad SAW sehingga beliau memilihnya sebagai jalur keturunan beliau.

Hal di atas selain karena pilihan nabi Muhammad SAW sendiri, juga didasari oleh keadaan bahwa putera-puteri nabi SAW lebih dulu wafat dari pada beliau. Praktis, hanya sayyidah Fatimah, anak yang menemani dan membantu nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari sampai belaiu wafat. Dari pernikahannya dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib, sayyidah Fatimah melahirkan dua putera yang bernama Hasan dan Husen.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh keturunan Hasan dan Husen dari dulu hingga sekarang termasuk ke dalam ahlu bait nabi Muhammad SAW. Tak bisa dibantah lagi bahwa orang-orang dengan sebutan habib di Indonesia adalah keturunan biologis nabi Muhammad SAW. Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadist, Rasulullah bersabda, “Setiap keturunan perempuan terhubung melalui jalur bapaknya. Kecuali keturunan Fatimah. Kepadaku nasab mereka tersambung dan aku adalah bapak mereka”.

Mengetahui kemuliaan nasab tersebut, umat Islam wajib menghormati setiap habaib di manapun dan kapanpun. Namun kata kerja menghormati berbeda dengan mengikuti. Menghormati habib hukumnya wajib, Sedangkan mengikutinya itu tergantung setiap perilaku dan fatwa habib tersebut. Jika perilaku seorang habib menggambarkan akhlak nabi Muhammad, maka wajib diikuti. Begitupun dengan fatwa, jika seorang habib berfatwa dengan ilmu dan kedamaian seperti nabi Muhammad SAW, maka sangat wajib diikuti.

Hal di atas didasarkan pada tidak maksumnya (tidak terjaga dari dosa) para habaib. Berbeda dengan nabi Muhammad SAW yang maksum (terjaga dari dosa). Maka sebagian ulama berpendapat bahwa jika ada seorang habib melakukan dosa atau maksiat dan jauh dari akhlak Rasulullah SAW itu diibaratkan sebagai mushaf al-Qur’an yang rusak. Artinya masih tetap dimuliakan, tetapi tidak bisa dimanfaatkan/diikuti.

Baca Juga:  Pendangkalan Akidah atau Akidah yang Dangkal?

Tidak maksumnya para habaib pun tergambar jelas dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Rasulullah menceritakan tentang ahlu baitnya/keturunannya yang menimbulkan fitnah. Makanya nabi SAW tak mengakui sebagai keturunannya. Nabi Muhammad SAW bersabda,

عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ قَالَ هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ

Dari ‘Umair bin Hani’ Al ‘Ansi, ia bertutur bahwa ia mendengar Abdullah bin ‘Umar berkata, “Suatu saat kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW. Beliau berbicara tentang fitnah-fitnah dan beliau juga memperbanyak ceritanya, sampai beliau berkisah tentang fitnah Al Ahlas. Maka seseorang bertanya, ‘Apakah itu fitnah Al Ahlas? Rasulullah menjawab, (Yaitu fitnah) ketika orang-orang saling bermusuhan dan terjadi pertempuran. Kemudian fitnah kesenangan yang asap fitnahnya akan disulut dari sela-sela kaki seseorang dari kalangan ahlul bait, ia mengaku keturunanku, padahal ia bukan dariku. Sesungguhnya para waliku adalah seseorang yang bertakwa. Lalu, orang-orang berdamai pada satu orang layaknya pangkal paha yang bertumpuk di tulang rusak (bersepakat dengan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan). Kemudian fitnah buruk orang buta (dengan kekuasaan) yang membuat semua orang tidak akan luput dari pukulannya di wajah (bencana yang disebabkannya). Dan ketika fitnah itu dianggap telah usai, ternyata fitnah itu justru kian berlanjut. Hingga seorang lelaki akan beriman dipagi hari, kemudian ia menjadi kafir di sore harinya. Lalu manusia akan terbagi menjadi dua kelompok, sekelompok orang yang benar-benar beriman tanpa kemunafikan dalam keimanan mereka, dan kelompok orang yang penuh dengan kemunafikan dalam imannya. Dan jika kalian mengalami kondisi itu, maka tunggulah kedatangan Dajjal di hari itu atau keesokan harinya.“ (HR. Abu Dawud, IV/4242)

Dalam Syarah Abu Dawud juga diterangkan bahwa “Orang ini memunculkan fitnah (kekacauan) mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW padahal secara perilaku bertentangan dengan ajaran Nabi. Walaupun ia keturunan Nabi Muhammad SAW tapi beliau tidak akan mengakuinya. Karena seandainya betul dia mengaku keluargaku, ia tidak akan membuat keresahan.”

Baca Juga:  Kidung Rumekso Ing Wengi: Mantra Islami Sunan Kalijaga Pengusir Pandemi

Keterangan di atas juga senada dengan sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hud ayat 45-47 yang berbunyi:

{وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47) }

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nyaSesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya) Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

Bagikan Artikel

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar