istri boros
istri boros

Nasehat Suami Ketika Menghadapi Istri yang Boros

Dalam menjalani bahtera rumah tangga pastinya tak luput dari permasalahan. Salah satu persoalan yang kerap dihadapi adalah masalah uang atau materi. Permasalahan materi tidak bisa dianggap sepele, karena tak sedikit pasangan suami istri bertengkar bahkan bercerai akibat permasalahan ini.

Hubungan baik bukan berarti hubungan yang tanpa masalah. Karena itu dalam menjaga hubungan suami istri jangan terfokus terhadap masalah yang dihadapi, namun lebih kepada jalan keluar yang harus dilakukan oleh keduanya. Karena itulah komunikasi yang terjaga merupakan salah satu kunci sukses dalam menjaga hubungan.

Salah satu persoalan finansial yang dihadapi dalam keluarga adalah anggapan bahwa istri boros dalam mengelola keuangan keluarga. Suami kerap menuduh istri terlalu boros dan tidak mengukur diri dengan kemampuan suami. Namun, bukankah sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk memberi nafkah istrinya? Bukankah harta suami sama dengan harta istrinya?

Dalam an-Nisa ayat 34 dijelaskan, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”

Ayat di atas sudah jelas seorang istri memiliki hak atas harta yang dimiliki suaminya. Hak istri meliputi kebutuhan primer sandang, pangan dan papan, serta kebutuhan psikologi yaitu diperlakukan secara baik dan diberi kasih sayang.  Dan ternyata bukan hanya itu, nafkah istri juga meliputi kebutuhan aksesoris, perhiasan, alat-alat rumah tangga, sampai mencarikan pembantu bagi istri. Namun, sekali lagi disesuaikan dengan kemampuan suami.

Namun terkadang bagi suami yang lelah mencari uang, mereka merasa kesal melihat sang istri yang dinilai terlalu boros dan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Sebenarnya perilaku istri ini bisa terkendali jika sang suami mau menegur. Namun, menegur istri tetaplah ada caranya, jangan sampai tegurannya melukai istri.

Baca Juga:  Gembala Kambing dan Karakter Kepemimpinan Para Nabi

Sikap boros sebenarnya masih bisa diperbaiki dengan beberapa cara, yakni : Pertama, tetap jujur dan tidak menyembunyikan uang dari istri. Seperti kita ketahui, uang suami merupakan uang istri, jadi suami jangan menyembunyikan apa pun dari sang istri. Seperti pendapatan-pendapatan tambahan yang diterima.

Kedua, mengomunikasikan dengan baik dan tidak menghakimi. Mungkin sang istri terbiasa berbelanja sebelum menikah dengan suami, sehingga ia sulit untuk menghentikan kebiasaan berbelanja. Jadi jangan hakiminya karena ia boros, karena seharusnya sifat boros tersebut sudah diketahui suami sebelum menikah. Lebih baik bantulah istri supaya bisa menghentikan kebiasaan tersebut salah satunya dengan cara menunjukkan pengeluaran yang harus dikeluarkan periode mendatang.

Ketiga, memberikan contoh baik kepada istri untuk juga tidak boros dalam berbelanja ataupun hal lainnya. Selayaknya sebagai seorang imam, suami memeriksa dirinya dalam mengelola uang. Jika dirasa diri suami sendiri belum merasa bijak dalam mengeluarkan uang, sebaiknya perbaiki diri dahulu sebelum menuntut kebaikan kepada sang istri.

Keempat, membuat komitmen bersama, setelah suami menuntun istrinya untuk meninggalkan kebiasaan borosnya, buatlah komitmen untuk bersama-sama mengelola keuangan agar arusnya sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Tanamkan kepada istri bahwa uang keluarga adalah untuk kepentingan bersama, dan bukan untuk kepentingan pribadi.

Kelima, libatkan istri dalam berinvestasi. Suami dapat mengajarkan istri untuk berinvestasi dengan menanamkan nilai positif dari berinvestasi, agar ketika istri memegang uang lebih, ia akan lebih memilih untuk menginvestasikannya dibanding membelanjakannya.

Pada dasarnya hubungan suami-istri adalah hubungan saling melengkapi. Suami sebagai pemimpin bukan dalam arti hubungan dominative-subornatif, tetapi lebih pada symbiosis mutualistik. Pemimpin mempunyai peran, begitu pula yang dipimpin. Keduanya saling mempengaruhi. Karena itulah, Islam memberikan wewenang hak kepada suami, tetapi sekaligus membebankan kewajiban yang harus dipenuhi.

Baca Juga:  Nasehat Imam Syaf’I: Saat Mendapatkan Kiritikan, Bersikaplah Seperti Ini

 

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

mencintai negeri

Aku Cinta Negeriku sebagaimana Rasulullah Mencintai Negerinya

Sejak kecil saya diajarkan untuk mencintai negeri ini. Dari sekedar menghafal lagu kebangsaan, mengikuti upacara …

prinsip toleransi dalam Islam

4 Prinsip Toleransi dalam Islam

Sebenarnya istilah toleransi bukan hal baru dalam praktek keagamaan. Ia terkandung dan ada di setiap …