HTI Pelopor Transformasi Strategi Aksi Massa, Mobilisasi, dan Framing

Jakarta – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan pemerintah, menjadi pelopor transformasi strategi aksi massa, mobilisasi, dan framing gerakan Islam lain seperti Front Pembela Islam (FPI). Kesimpulan itu adalah hasil studi terbaru tentang gerakan transnasional yang diluncurkan di Jakarta, Rabu (2/10/2019), yang terwujud dalam sebuah buku yang bertajuk “Mendamaikan Syariah dan NKRI: Strategi Mobilisasi dan Retorika Gerakan Islam Revivalis di Indonesia”.

Buku itu ditulis Fahlesa Munabari, staf pengajar hubungan internasional Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta. Dalam buku itu terungkap fakta menarik yaitu untuk level di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya, Hizbut Tahrir, menjadi pelopor transformasi strategi aksi massa, mobilisasi, dan framing gerakan Islam lain seperti Front Pembela Islam (FPI).

“HTI juga memelopori berdirinya FUI atau Forum Umat Islam. Bahkan, HT Indonesia juga yang memelopori berdirinya HT di negara tetangga Malaysia,” kata Fahlesa, dikutip dari laman Republika.co.id, Rabu (2/10).

Baca Juga: Guntur Romli: Aksi Muhajid 212 Ditunggangi HTI dan Khilafah

Dia menyebutkan, untuk konteks Indonesia, sebelum HTI ini dibubarkan, organisasi inilah yang menjadi motor penggerak aksi-aksi massa aspirasi penegakan syariah dan khilafah di Indonesia. FPI dulu tidak mengenal demonstrasi isu penegakan syariah.

“Tapi semenjak adanya FUI pada 2005, di bawah pegaruh Muhammad al-Khaththath, FPI menjadi lebih ideologis,” papar Fahlesa.

Dia menyebutkan, organisasi ini kemudian memisahkan diri dari FUI 2008 karena insiden bentrok di Monas. Meskipun mantan ketuanya, M  Al-Khaththat, tetap di FUI yang terus memobilisasi massa untuk rangkaian aksi-aksi hingga aksi bela Islam belakangan ini.

“Argumentasi saya HTI telah mewariskan tradisi dan kultur aksi yang kuat melalui tokoh-tokoh dan mantan tokohnya, dan berperan penting dalam transformasi ideologi gerakan Islam lainnya di Indonesia,” ujar dia.

Baca Juga: HTI Dibubarkan, Giliran Individu Penyebar Khilafah Harus Ditindah Tegas

Dalam konteks gerakan sosial, Fahleza menilai, HTI merupakan satu-satunya di Indonesia yang memiliki jaringan internasional yang kuat, mendapat instruksi rutin dan juga pendanaan dari Timur Tengah.

Menurut dia, fenomena ini menjadi lebih unik tatkala HT mengambil posisi non-kekerasan dalam setiap aksinya. Meskipun isu yang digaungkan adalah isu pendirian sistem Khilafah yang merupakan anti-tesis dari nation-state.

“Tradisi, aktor-aktor, dan sepak terjang HTI inilah yang berperan besar dalam meradikalisasi ideologi gerakan Islam revivalis lain di Indonesia,” pungkasnya.

Comment

LEAVE A COMMENT