Keterpaparan Radikalisme di Kalangan Terdidik Bukan Isapan Jempol

Jakarta – Keterpaparan radikalisme di kalangan terdidik, terutama di lingkungan kampus, bukanlah isapan jempol belaka. Fakta-fakta itu terungkap dalam bedah buku "Politik Sirkulasi Budaya Pop: Media Baru, Pelintiran Agama, dan Pergeseran Otoritas" yang digelar Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta di Hotel Lumire, Jakarta, Senin (16/9/2019) lalu.

Dalam buku ini diungkapkan bahwa kelas menengah terdidik saat ini sudah mulai masuk dalam gelombang radikalisme. Buku itu ditulis oleh peneliti LIPI, Wahyudi Akmaliah.

“Sebelumnya memang banyak penelitian radikalisme yang sasarannya adalah generasi milenial dan masyarakat umum. Namun, yang membahas kelas menengah terdidik masih relatif sedikit,” ujar Wahyudi dikutip dari laman Republika.co.id.

Baca Juga: Dengan Islam Rahmatan Lil Alamin, Radikalisme dan Terorisme Seharusnya Tidak Ada

Karena itu, dalam buku itu Wahyudi banyak mengungkapkan fakta-fakta penelitian yang menyebutkan bahwa kelas menengah terdidik sudah mulai terpapar radikalisme. Menurutnya dari penjelasan hasil survei tersebut menunjukkan keterpaparan radikalisme di kalangan kelas terdidik bukan isapan jempol.

Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Nuruddin menjelaskan bahwa selama ini masyarakat sudah banyak yang terpapar radikalisme karena faktor ekonomi dan politik.  Namun, saat ini sudah ada juga masyarakat yang terpapar karena aspek pemahaman, khususnya masyarakat kalangan menengah terdidik.  

"Jadi orang yang terdidik, kaya dan punya uang atau kelompok menengah itu sekarang juga rentan terhadap perilaku radikalisme," kata Nuruddin.

Karena itu, menurut dia, agar tidak terpapar tadikalisme kalangan menengah terdidik harus diberikan pemahaman keagamaan yang benar, baik melalui pendidikan formal maupun lewat pengajian-pengajian di tengah masyarakat.

"Di masyarakat itu aspek pemahamannya itu perlu diberikan nilai-nilai moderasi," ucapnya.

Baca Juga: Tangkal Radikalisme di Medsos, LDNU dan UT Kolaborasi Cetak Dai Milenial

Menurut dia, Kementerian Agama saat ini mencoba untuk mengkonter pemahaman radikal itu melalui lembaga pendidikan maupun melalui media sosial.  Karena, masyarakat kelas menengah terdidik itu juga banyak yang terpengaruh radikalisme melalui media sosial.

"Jadi poinnya yang terpapar radikalisme bukan lagi sekadar kelas miskin, tapi kelas menengah terdidik pun terpapar itu," ungkap Nuruddin.

Comment

LEAVE A COMMENT