Kisah Para Penghafal Alquran Yang Tidak Tersentuh Gelombang Tsunami Selat Sunda

Kisah Para Penghafal Alquran Yang Tidak Tersentuh Gelombang Tsunami Selat Sunda

Banten – Bencana tsunami yang merenggut nyawa ratusan orang serta meluluhlantakkan kawasan pantai di Selat Sunda, meninggalkan berbagai macam cerita. Cerita pilu terenggutnya ratusan nyawa manusia termasuk personel grup musik Seventeen dan hancurnya ribuan bangunan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Juga cerita keajaiban korban yang selamat dari amukan gelombang raksasa tersebut.

Salah satu cerita keajaiban itu datang dari rombongan penghafal Alquran dari SMA Islam Nurul Fikri Boarding School (NFBS), Serang, Banten. Sebanyak 55 santri yang terdiri dari 30 perempuan dan 35 laki-laki, menjadi saksi kedahsyatan air yang meluluhlantakkan hotel dan rumah warga di sekitar pantai. Namun, melalui kesaksian salah satu guru, Ai Nuraeni, di saat kejadian tersebut ia dan anak didiknya menyaksikan kuasa Allah SWT yang luar biasa dengan tidak terkena amukan gelombang.

Ai menceritakan, pada saat kejadian malam hari itu, melalui lantai dua villa yang mereka tempati, terlihat anak Gunung Krakatau mengeluarkan api dan laharnya. Walaupun sempat khawatir, mereka tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

Namun, suara gemuruh tiba dan membuat dirinya bertanya-tanya. "Baru selesai hafalan setoran tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Awalnya dipikir hujan tapi ternyata enggak ada airnya, tiba-tiba dari belakang yang dekat ke pantai itu santri putra lari-lari (teriak) itu air, itu ada air. Kita sempat panik itu air apa," kata Ai menjelaskan dikutip dari republika.co.id.

Tak lama kemudian, air tersebut surut begitu saja dan hanya menghantam pagar pembatas belakang villa. Rombongan pun memutuskan untuk berkumpul di mushala villa. Ia mendapat kabar bahwa pengelola pantai menghubungi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menanyakan apa yang terjadi. Ternyata, menurut BMKG saat itu hanya air pasang biasa. Mereka pun merasa sedikit tenang.

Baca juga : Memasuki Musim Hujan, Begini Doa saat Turun Hujan

"Tapi ada sedikit khawatir juga sih dari para pembina. Akhirnya kita kumpulkan saja semuanya di mushala. Kita instruksikan mereka untuk menggunakan pakaian lengkap, minimal kita siap lari," kenang Ai.

Pada saat itu, suasana kembali hening. Suara yang terdengar hanyalah para santri yang tengah mengaji dan melanjutkan tilawah yang sempat tertunda karena air pasang tiba-tiba tadi. Ai juga mengenang, saat itu para santri begitu tenang. Ada beberapa yang wudhu dan shalat taubat, semua begitu tenang dan tidak panik.

"Sesauatu yang mengharukan saya, terutama sikap anak-anak ketika terjadi bencana seperti itu, kita instruksikan, kita sekarang evakuasi, silakan bawa barang yang dianggap penting. Dan mereka langsung yang tercetus itu ya Alquran," kata Ai. 

Pada saat itu, pengelola hotel mengabarkan bahwa ada masyarakat yang mengungsi. Pembina pun musyawarah perlu atau tidaknya untuk ikut mengungsi. Ai menceritakan, setelah mereka berdiskusi, dua orang ustaz keluar untuk melihat kondisi sekitar. Kedua ustaz tersebut pun kaget karena lingkungan di sekitar villa telah hancur. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut mengungsi.

"Pengungsian waktu itu kata pengurus villa ada di daerah Cipanas, pokoknya dari villa ke arah kiri. Setelah belokan evakuasi itu, akan ada dari jembatan itu sudah tidak bisa dilalui kendaraan itu. Ya itu batas amannya," kata dia.

Sebelumnya, ketika di villa mereka telah dihubungi oleh Nurul Fikri (NF) di pesantren. Rombongan NF dari pesantren pun telah dalam perjalanan untuk menjemput mereka. Namun, di jalan, Ai menjelaskan, rombongan NF tidak bisa masuk lebih dalam karena jalanan rusak.

Namun, hal menakjubkan terjadi. Ketika berada di lokasi pengungsian atau rumah penduduk di daerah Cipanas, tidak jauh dari situ adalah tempat rombongan dari NF yang akan menjemput berada. Akhirnya, seluruh ustaz, ustazah, dan santri berhasil keluar dari lokasi bencana dan kembali ke pesantren.

"Alhamdulillah timnya sampai ke daerah pengungsian. Lalu ada empat atau lima mobil itu. Kita lewat jalur alternatif yang melewati hutan dan kurang lebih tiga jam sampai ke pesantren," kata Ai.

Rombongan penghafal Alquran dari SMA Islam NFBS  ini sudah berada di lokasi selama satu bulan lebih sejak 18 November 2018. Rencananya, mereka dikarantina sampai 18 Januari 2018 sebelum berangkat ke Turki pada 23 Januari 2018.

"Mereka adalah santri kelas 10 SMA Islam Nurul Fikri Boarding School, Serang, Banten yang mengikuti program International Education Program (IEP). Mereka melakukan hapalan Alquran 30 juz. Mereka adalah santri yang akan ke Turki untuk menghapal Alquran dan pengambilan sanad," kata salah satu guru SMA Islam NFBS, Andriono.

Ia mengatakan, saat ini para santri telah berada di pesantren untuk melanjutkan aktivitas menghafal Alquran. 

Comment

LEAVE A COMMENT