nikah beda agama
nikah beda agama

Nikah Beda Agama dalam Pandangan Fikih

Manusia dihadirkan di muka bumi oleh Allah untuk tujuan memakmurkan bumi, mengatur kehidupan, dan keberlangsungan alam semesta. Misi ini mengharuskan manusia untuk selalu eksis hingga dunia mencapai puncak kepunahan dan kehancurannya. Sudah maklum bahwa usia manusia sangat terbatas dibanding usia planet bumi, maka dibutuhkan tunas-tunas generasi penerus khalifatullah fil ardl. Manusia harus beranak-pinak, mempunyai keturunan agar bumi tidak kosong. Oleh karena itu, kemakmuran bumi bergantung terhadap eksistensi manusia, sementara keberlangsungan manusia bergantung terhadap adanya perkawinan di antara mereka. (Ali ahmad al-Jurjawiy, Hikamh al-Tasyri’ wa Falsafatuh, Jilid II, Beirut: Dar al-Fikr, tt., hal. 4).

Dengan demikian, diperlukan adanya aturan tata perkawinan agar stabilitas kehidupan tetap terjaga, aman, damai dan tenteram. Dalam konteks inilah institusi pernikahan menjadi urgen agar tujuan-tujuan tersebut dapat tercapai secara maksimal. Dalam rangka menjaga stabilitas keluarga sebagai unit terkecil kehidupan sosial, syariat Islam mengatur institusi pernikahan sedemikian rupa.

Hukum Nikah Beda Agama

Termasuk salah satu yang diatur oleh syariat Islam adalah pernikahan yang terjadi antara dua sejoli yang berbeda keyakinan. Dalam menyikapi perbedaan calon mempelai ini, setidaknya harus diklasifikasi menjadi dua kategori. Pertama, wanita muslimah dengan pria nonmuslim. Kedua, pria muslim dengan wanita nonmuslimah. Klasifikasi ini didasarkan kepada sebuah ayat yang berbunyi:

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 221).

Baca Juga:  Puasa : Ibadah Purba untuk Mengembalikan Fitrah Kemanusiaan

Untuk kategori pertama, yakni wanita muslimah dengan pria nonmuslim, konsensus ulama (ijma’) menyatakan haram tanpa terkecuali. Artinya, tanpa melihat jenis kepercayaan dan agama yang diyakini oleh mempelai pria. Ikatan ini dikhawatirkan akan menggiring sang isteri masuk dan mengikuti agama sang suami. Umumnya, suami sebagai kepala rumah tangga akan mengajak dan mempengaruhi isteri untuk mengikuti agama yang diyakininya. Potongan ayat di atas yang berbunyi, “mereka mengajak ke neraka” dijadikan alasan oleh para ulama untuk mengharamkan pernikahan kategori pertama ini. Sehingga, tidak ada pengecualian terhadap jenis-jenis agama apapun yang diyakini calon suami.

Sedangkan untuk kategori kedua, yaitu pria muslim dengan wanita nonmuslimah, para ulama memberikan hukum berbeda berdasarkan agama yang dianut oleh calon isteri. Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita nonmuslimah yang haram dinikahi oleh pria muslim adalah mereka yang tidak menganut agama samawi, semisal penyembah berhala, api, matahari, dan lain-lain. Agama samawi adalah agama yang mempunyai kitab wahyu dan seorang rasul, mereka ini oleh Al-Qur’an disebut sebagai ahlul kitab.

Oleh karena itu, menikahi wanita Yahudi dan Nashrani yang dikategorikan sebagai ahlul kitab atau wanit-wanita kitabiyyat diperbolehkan. Pendapat ini juga didukung oleh imam mazhab yang empat, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Pernikahan dengan ahlul kitab ini juga pernah dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan. Beliau pernah menikahi seorang wanita nashrani bernama Nailah yang kemudian masuk Islam di tangannya. Demikian juga sahabat Hudzaifah pernah menikahi seorang wanita Yahudi. (Wahbah Zuhailiy, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, Jilid VII, Beirut: Dar al-Fikr, Cet. II, 1985, hal. 152-153).

Sedangkan menurut Abdullah bin Umar berlaku sama antara kategori pertama dan kedua, sama-sama haram untuk semua jenis agama tanpa terkecuali. Pendapat ini juga didukung oleh kalangan Syi’ah Imamiyah dan sebagian Syi’ah Zaidiyah. (Muhammad Ali al-Shabuniy, Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam, Jilid I, Beirut: Maktabah al-Ghazali, tt., hal. 287).

Baca Juga:  Gunakan Akal sehat dalam membaca sejarah

Hikmah diperbolehkannya pria muslim menikahi wanita ahlul kitab disebabkan ada titik temu antara dua agama samawi ini. Ada secercah titik persamaan antara prinsip-prinsip dasar keimanan seperti pengakuan tentang adanya Tuhan, beriman kepada rasul dan hari akhir, hari perhitungan amal dan siksa. Sehingga dengan modal persamaan ini rumah tangga diharapkan berjalan stabil dan di kemudian hari sang isteri akan memeluk agama Islam.[]

Wallahu a’lam bisshawab

Referensi pendukung:

Abu Umar Yusuf bin Abdillah bin Muhammad, Al-Kafiy fi Fiqh Ahl al-Madinah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet. III, 2002, hal. 244.

Syamsudin Muhammad bin al-Khthib al-Syarbiniy, Mughni al-Muhtaj, Jilid III, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. I., 1997, hal. 248.

Burhanuddin Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad, Al-Mubdi’ Syarh al-Muqni’, Jilid VII, Riyad: Dar Alam al-Kutub, 2003, hal. 64.

Abdullah bin Syekh Muhammad bin Sulaiman, Majma’ al-Anhar fi Syarh Multaqa al-Abhur, Jilid I, Saudi Arabia: Dar Ihya al-Turats al-Arabiyah, tt., hal. 328.

‘Alauddin Abi Bakr bin Mas’ud al-Kasaniy, Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai’, Jilid III, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet. II, 2003, hal. 458-459.

 

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …