Pernikahan
Pernikahan

Orang Tua Sebagai Garda Terdepan Pencegahan Pernikahan Dini

Munculnya situs aisha wedding yang menawarkan jasa pernikahan sirri, pernikahan di bawah umur dan pernikahan poligami, mengundang pro dan kontra. Terlepas dari motif utama berdirinya aisha wedding yang disinyalir berbagai pihak sebagai kedok pedofili berbalut dalil dalil agama, pada kenyataannya ada juga pihak yang sepakat dengan ide dan konsep yang ditawarkan oleh wedding organizer (WO) ini.

Melampaui pro -kontra yang berkelindan di tengah masyarakat, kemunculan WO semacam ini sebetulnya menampakkan fenomena Gunung es. Kemunculannya adalah puncak Gunung es yang terlihat di permukaan dan membuat heboh jagad maya. Sementara badan gunung yang volumenya jauh lebih besar luput dari perhatian.

Pernikahan dini atau di bawah umur telah menjadi permasalahan yang seolah wajar ditemui di tengah masyarakat. Khususnya di tengah kondisi masyarakat yang timpang dalam segi ekonomi dan pendidikan. Faktor adat istiadat dan pemahaman agama yang bersifat tekstualis dan doktrinalis menjadi pendukung berjamurnya peristiwa nikah di bawah umur di kalangan tertentu. 

Aisha Wedding hanyalah penyedia jasa yang telah berganti kemasan menjadi versi digital, sehingga keberadaannya terlihat seolah fenomena ini adalah sesuatu yang baru. Padahal, pernikahan usia dini masih menjadi kelaziman di berbagai daerah di Indonesia.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati menyebutkan bahwa jumlah anak-anak di Indonesia mencapai 79.55 juta. Anak-anak adalah warga negara Indonesia yang berusia kurang dari 18 tahun. Jumlah tersebut Setara dengan 30,1% total populasi Indonesia.

Cukup mencengangkan bahwasannya dari puluhan juta anak Indonesia, prevalensi pernikahan anak pada Tahun 2018 mencapai angka 11, 2%. Itu artinya 8.9 juta anak Indonesia menjalani pernikahan di bawah umur. Besarnya angka ini menunjukkan bahwa sejumlah besar anak Indonesia telah mengalami pelanggaran hak asasi yang semestinya diperoleh oleh anak anak yakni hak untuk  untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan fitrahnya.

Peran Penting Orang Tua

Pernikahan anak adalah masalah yang cukup kompleks. Ada banyak factor yang terlibat dalam terbentuknya budaya pernikahan anak. Para pakar menyebutkan bahwa kemiskinan, faktor geografis, kurangnya akses pendidikan, budaya dan adat istiadat, konflik sosial dan bencana, serta norma sosial yang memperkuat stereotip gender tertentu (misalnya, wanita seharusnya menikah muda), adalah unsur unsur yang melandasi langgengnya praktik pernikahan anak.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (5): Kitab Sullam al Raja Karya Usman Said Tungkal

Dari sekian banyak factor yang disebutkan tersebut, satu fundamental yang mendorong fenomena ini sekaligus menjadi pembenaran yang selalu digaungkan adalah interpretasi sempit atas dalil dalil agama. Kesemua factor tersebut, pada muaranya berakhir pada satu actor kunci, yakni orang tua.

Pernikahan anak tidak akan terjadi tanpa dukungan orang tua kedua mempelai. Orang tua sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam keluarga wajib melindungi anak anaknya dari kemadharatan, termasuk salah satunya kemadharatan yang disebabkan oleh pernikahan yang dilangsungkan tanpa mempertimbangkan kesiapan fisik, mental, materi dan psikologis anak.

Oleh karenanya, pencegahan pernikahan dini dapat dioptimalkan jika para orang tua memahami dan membuka mata akan resiko besar yang mengintai dan membawa kemadharatan yang bertubi tubi bagi putra putrinya.

Para orang tua dan anggota masyarakat yang sepakat dengan pernikahan di bawah umur berkiblat pada sejumlah dalil baik dari al-Qur’an maupun hadits. Dalil yang sering dijadikan pedoman adalah hadits yang menyinggung perkawinan Aisyah ra. yang kala itu disebut berusia 9 tahun dengan Rasulullah Saw yang telah berumur paruh baya.

Terkait hal ini, seorang kolumnis Muslimah Nurul Bahrul Ulum dalam salah satu tulisannya menyampaikan keterangan yang patut kita pertimbangkan. Hadits tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan sayyidah Aisyah r.a di usia anak anak, diriwayatkan oleh Hisyam bin Urwah. Beliau meriwayatkan hadits tersebut ketika berusia 71 tahun yakni setelah beliau pindah ke Iraq. Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Tahdzibut Tahdzib menyebutkan bahwa Ya’qub bin Syaibah bersaksi: “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya dan riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang diceritakannya setelah ia pindah ke Irak.”

Keterangan lain dalam kitab Mizanul I’tidal disebutkan, “Ketika masa tua, ingatan Hisyam mengalami kemunduran yang mencolok.” Pelacakan para ahli hadits terhadap Riwayat pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah r.a di usia anak anak menemukan adanya kelemahan bukti sehingga hadits tentang pernikahan di bawah umur oleh Nabi Muhammad dan Sayyidah Aisyah r.a tidak lagi dapat dijadikan landasan hukum.

Baca Juga:  Panduan Ramadhan 2020 di Tengah Pandemi (4) : Tadarus di Rumah Saja, Apa Keutamaannya?

Terlepas dari ketidakrelevanan dalil agama sebagai pedoman pelaksanaan pernikahan anak, para orang tua yang mengalami himpitan ekonomi dan tidak dibekali dengan pendidikan dasar yang kuat, melihat pernikahan anak sebagai satu solusi untuk meringankan beban hidup. Selain itu, menikahkan anak juga meringankan tanggung jawab serta beban moral mereka terhadap masyarakat.

Pernikahan anak seringkali dipilih sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan anak anak dari perilaku remaja menyimpang seperti zina atau hamil diluar nikah. Menikahkan anak juga artinya melepaskan tanggung jawab pemenuhan materi, sehingga akan sangat membantu dalam meringankan beban ekonomi keluarga.

Semantara, beberapa aspek kehidupan yang mendasar dan penting luput dari pertimbangan orang tua. Dampak negative dari pernikahan anak tidak sebanding dengan apa yang dianggap para pendukung pernikahan anak itu sebagai “manfaat”. Malahan, menikahkan anak di bawah usia kesiapannya berarti mendorong anak untuk masuk ke lingkaran setan yang berkesinambungan.

KH Husein Muhammad dalam bukunya Fiqh Perempuan menyampaikan hasil penelitian Prof. Gamal Surour yang mengungkapkan bahwa: “kehamilan perempuan di bawah usia 18 tahun sangat rentan mengalami gangguan kesehatan seperti keracunan, kesulitan dalam proses melahirkan akibat belum sempurnanya perkembangan tulang pinggul (Pelvis), berpotensi terjadinya keguguran dan kematian janin dalam rahim serta melahirkan secara premature”.

Selain itu, pernikahan anak tidak membawa kebaikan khususnya bagi pihak perempuan dilihat dari sejumlah aspek, seperti berkurangnya kesempatan untuk mengenyam pendidikan lanjutan, kesiapan mental dan psikologis untuk memikul tanggung jawab pernikahan, kecakapan bertindak dalam urusan urusan transaksional khusus maupun umum dan terutama lagi aspek kesehatan reproduksi sebagaimana dijelaskan di atas.

Ketidaksiapan mental dan psikologis anak memasuki dunia pernikahan dapat berpotensi menambah banyak kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Hal ini pada ujungnya akan berakhir pada meningkatnya angka perceraian dan berimplikasi pada meningkatnya beban mental dan material khususnya bagi pihak perempuan.     

Baca Juga:  Pendiri Drone Emprit Bongkar Kejanggalan Isu Aisha Wedding

Pernikahan anak menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara biologis maupun psikologis. Pernikahan anak berdampak pada tercerabutnya hak anak-anak karena ia dipaksa memasuki dunia dewasa secara instan. Syeikh Ali Jum’ah, mufti Mesir Tahun 2010 menegaskan bahwa, “Zawaj Al-Shighar (pernikahan anak ) merupakan eksploitasi seksual terhadap anak anak. Setiap orang yang terlibat dalam proses akad nikah itu wajib diberi hukuman, termasuk pelaku, orang tua, ahli hukum dan penghubung.”

Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya senantiasa mengingat dan meyakini sepenuh hati, bahwasannya pernikahan bagi putra putri seyogyanya adalah bertujuan untuk menjaga kemaslahatan jiwa, membangun rumah tangga yang dipenuhi kasih sayang antara kedua pihak dan saling membantu keduanya untuk kemaslahatan bersama. Pernikahan yang sehat juga musti dilakukan untuk memelihara keselamatan fungsi reproduksi serta mengharapkan pahala dari Alloh SWT.

Apabila pernikahan yang berlangsung justru mengancam jiwa dan berpotensi melukai jati diri serta menyakiti salah satu atau kedua pihak, maka yang demikian itu justru berkebalikan dari tujuan awal pernikahan. Yang demikian itu menjadikan pernikahan bukan sebagai pintu kebaikan namun malah menjadi pintu kerusakan dan kemadharatan.

Di sinilah peran orang tua akan menjadi penentu pencegahan pernikahan usia anak. Orang tua yang bertanggung jawab pasti tidak akan membiarkan putra putrinya terjerumus ke dalam perangkap pernikahan anak. Sebab orang tua yang bertanggungjawab mengerti bahwasannya apapun masalah yang dihadapi, pernikahan usia anak berdampak pada kerusakan yang lebih banyak dibanding manfaat diharapkan.

Langkah yang terbaik adalah orang tua memberikan pendampingan sebaik baiknya sembari terus mengasah potensi dan membersamai tumbuh kembangnya dengan optimal hingga saatnya nanti mereka sudah siap untuk membina rumah tangga. Insya Alloh, itulah cara terbaik yang bisa orang tua berikan demi kemaslahatan dan keberkahan bagi seluruh keluarga.

Bagikan Artikel ini:

About Nuroniyah Afif

Avatar of Nuroniyah Afif

Check Also

anak terkonfirmasi covid-19

Anak Terkonfirmasi Covid-19, Jangan Panik! Berikut Ikhtiar Lahir dan Batin untuk Dilakukan

Grafik kenaikan kasus Covid – 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan melandai. Covid – …

8 fungsi keluarga

Momentum Menguatkan Kembali 8 Fungsi Keluarga di Masa Pandemi

Meningginya kasus Covid – 19 hingga menyentuh angka 30 ribu kasus baru per hari memaksa …