Habib Luthfi saat memberikan sambutan pada SIlaturahmi Kebangsaan di Tangerang
Habib Luthfi saat memberikan sambutan pada SIlaturahmi Kebangsaan di Tangerang

Pahami Sejarah Bangsa dan Perkuat Toleransi Sebagai Benteng Bangsa Dari Radikalisme

Tangerang – Mempelajari dan memahami sejarah bangsa Indonesia sangat penting bagi generasi muda untuk membangun dan meningkatkan rasa nasionalisme. Pasalnya, bila generasi muda kurang mendapatkan literasi dalam memahami dan memaknai ideologi Pancasila, maka ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, akan mudah masuk terutama pada media sosial (medsos).

Hal tersebut dikatakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) RI, Dr (HC) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pada acara Dialog Kebangsaan yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Gugus Tugas Lintas Agama dengan Furum Komunikasi Pimpinan Daerah (Fokorpimda), Tokoh Lintas Agama dan Tokoh Masyarakat se provinsi Banten. Acara yang mengambil tema Bersama Membangun Harmoni Bangsa ini digelar Pendopo Trisna Wijaya, Modern Land, Tangerang, Kamis (25/11/2021) malam.

“Maka dari itu hidupkan kembali sejarah bangsa Indoneisa ini. Tunjukan kita ini memiliki Indonesia. Nilai merah putih itu sendiri harus dipahami seperti, melambangkan jati diri bangsa, penyampaian kepada generasi muda,” ujar Habib Luthfi

Habib Luthfi menambahkan, jika sejarah terhadap bangsa ini dapat dipahami dan dihayati secara benar, maka dapat menjadi benteng bagi seluruh elemen bangsa untuk tidak mudah terhasut dengan paham-paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

“Jika kita tidak peduli terhadap sejarah bangsa hal ini menjadi dampak kecil untuk masuknya paham radikal kepada kita. Mari bergandengan tangan yang erat, untuk menjaga ketahanan nasional, dari oknum yang senang ketika bangsa ini runtuh. Ayo kita bentengi Indonesia dengan benar. “ujar Habib Luthfi.

Habib Luthfi juga menjelaskan bahwa kekurangan dalam diri manusia juga bisa dapat menimbulkan kekosongan yang bisa membuat permasalahan. Dan permasalahan inilah sering bisa mengarahkan kepada radikalisme.

“Jika adanya kekurangan dalam diri, maka hal ini yang dapat menimbulkan permasalahan. Apakah indonesia akan begini terus, dengan ganjarannya adanya terorisme? Kita merdeka sudah 76 tahun, jika dibanding Amerika sudah merdeka 200 tahun belajar demokrasi. Pastinya pendiri bangsa, ingin negerinya maju, dalam kesejahteraan umat. Kita ini diberikan tanah yang subur luar biasa, segalanya ada di Indonesia ini,” ujarnya.

Baca Juga:  Menjadi Pancasilais Berarti Menjadi Muslim Yang Baik

Diakatakan, dari zaman dahulu para oknum itu masih saja menggunakan label agama dalam melancarkan ancaman terornya. Yang mana label agama ini pasti ujungnya adalah kekuasaan.

“Disini masih banyak orang yang belum sadar. Dan sekarang ini tentunya kita semua harus memberikan pencerahan itu kepada semuanya bahwa radikalisme berujung agama itu sebenarnya adalah sesuatu untuk merebut kekuasaan,” katanya

Menurutnya jiga radikalisme dan terorisme tidak cepat diatasi, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia ini akan tertinggal dengan negara tetangga yang lain.

“Apalagi Indonesia sekarang bisa dikatakan telah menjadi negara pemersatu di Asia. Lha ini yang harusnya menjadi senjata untuk memerangi radikalisme dan terorisme. Karena bangsa ini bisa menyatukan, dan saling bertoleransi” ujarnya.

Dirinya kembali mengingatkan sejarah bangsa ini di zaman kerajaan. Pada saat itu Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Singgosari telah mengajarkan mengajarkan toleransi. Dimana saat itu Borobudur dekat Prambanan karena berbeda paham diantara keduanya, Borobudur adalah candi bercorak Budha sementara Prambanan bercorak Hindu.

“Borobudur hanyalah berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sementara Prambanan memiliki fungsi selain tempat pemujaan, yakni sebagai pemakaman para raja dan tempat menyimpan harta. Tetapi kedua ini bisa menggambarkan contoh toleransi pada zaman dahulu untuk generasi muda saat ini,” pungkas Habib Luthfi.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …