bulan safar
bulan safar

Pandangan Islam Mengenai Anggapan Tathayyur Pada Bulan Safar

Saat bulan safar tiba, sebagian orang masih memiliki pandangan yang buruk mengenai bulan kedua dalam kalender hijriyah ini. Mereka meyakini pada bulan tersebut merupakan bulan yang mengandung kesialan. Keyakinan akan kesialan dan keburukan ini bukanlah tanpa sebab, melainkan ini dimulai sejak zaman arab jahiliyah dimasa lampau, dan masih dipercaya oleh sebagian orang pada masa sekarang. Anggapan dan kepercayaan ini disebut dengan tathayyur.

Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, manusia hidup dalam kejahiliyahan yang fanatik dan kesesatan yang buta. Suara burung dapat menghalangi mereka dari sesuatu, karena anggapan sial. Mereka hidup dalam khurofat dan hawa nafsu yang mungkar. Dan di antara kebiasaan jahiliyah tersebut yang dilarang oleh Islam adalah sifat pesimis karena anggapan sial. Pesimis dan merasal sial adalah lawan dari anugerah dan keberkahan. Anggapan sial adalah sebuah sikap yang menunjukkan prasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan optimis artinya berprasangka baik kepada-Nya. Dan seorang mukmin adalah orang yang berprasangka baik kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan.

Syariat Islam datang dengan melarang tathayyur. Karena hal ini termasuk bentuk pesimis yang disebabkan melihat atau mendengar sesuatu. Dan ini juga merupakan bentuk keyakinan yang lemah dari orang-orang yang berbuat syirik. Mereka tidak bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Pengertian Tathayyur Dalam Islam

Tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar bunyi burung, kijang, bintang, atau selainnya. Apa yang mereka lihat dan dengar menghalangi mereka dari aktivitas yang mereka niatkan. Maka syariat Islam datang menghapuskan hal ini. Islam menekankan bahwa yang demikian sama sekali tidak berdampak dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Yang demikian hanyalah keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar sama sekali.

Baca Juga:  Hukum dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Jawaban al-Qur’an Mengenai Tathayyur

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, dalam QS. Al-A’raf: 131 yang berbunyi:

أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُون

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa tathayyur adalah amalannya orang-orang musyrikin. Dan perbuatan itu dicela oleh syariat. Dahulu, kaum Firaun apabila mereka ditimpa pacek kelik dan kemarau panjang, mereka sangka bahwa musibah dan bala’ itu karena Musa dan kaumnya yang membawa sial. Sebagaimana dalam firman Allah, “Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al-A’raf: 131). Maka Allah bantah mereka dengan firman-Nya, “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).

Musibah yang menimpa mereka merupakan qadha dan qadar yang telah Allah tetapkan disebabkan kekufuran, dosa, dan pengingkaran mereka terhadap risalah yang dibawa Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu Allah sifati mayoritas mereka sebagai orang-orang yang bodoh. Musa ‘alaihissalam adalah utusan Rabb semesta alam. Ia datang dengan membawa kebaikan, keberkahan, dan kemenangan bagi siapa yang beriman dan mengikutinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”. (QS. An-Naml: 47).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan keadaan orang-orang musyrik di selain zaman Nabi Musa. Ketika mereka ditimpa musibah, maka mereka merasa pesimis dan menyangka bahwa sebab musibah tersebut datangnya dari para rasul, “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu.” (QS. Yasin: 18). Allah bantah mereka dengan mengatakan, Rasul-rasul itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri”. (QS. Yasin: 19).

Tidaklah orang-orang musyrik itu ditimpa musibah yang telah Allah tetapkan dengan qadha dan qadar-Nya, kecuali dikarenakan dosa-dosa mereka. Para rasul datang dengan kebaikan dan keberkahan bagi orang-orang yang mengikuti mereka.

Baca Juga:  Hakikat Ilmu untuk Mencapai pada Yang Hakikat

Dalam sebuah hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak ada kesialan di bulan shafar” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan lafadz, “Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula mempercayai hantu.”

Kehidupan pada masa jahiliyah, dipenuhi dengan hal-hal yang berbau khurofat. Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuang jauh-jauh keyakinan demikian dengan sabdanya “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya)”.

Penyakit itu tidak menular dengan sendirinya, akan tetapi ia menular atas takdir dan ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadits yang menjelaskan bahwa penyakit tidak menular dengan sendirinya ini, tidak bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Semisal sabda beliau, “Menjauhlah (menghindarlah) dari penyakit kusta sebagaimana engkau menjauh dari singa.” (HR. al-Bukhari dan yang lainnya). Hadits ini menjelaskan agar seseorang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara berusaha menjauhi musibah tersebut. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195).

Dan di antara bentuk khurafat lainnya yang terjadi di masa jahiliyah adalah pesimis dengan sesuatu yang mereka dengar di suatu tempat. Jika ada bunyi burung tertentu di sebuah rumah, maka penghuni rumah itu merasa akan ditimpa kesialan dan musibah. Mereka berkeyakinan salah seorang di antara mereka penghuni rumah akan meninggal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepis keyakinan ini dengan mengatakan, “Tidak ada tiyarah (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar) dan tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati.”

Burung adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak memiliki campur tangan dalam urusan ketetapan takdir-Nya. Suatu ketika ada burung tertentu yang lewat lalu berkicau, maka seseorang berkata akan datang kebaikan dan kebaikan. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tidak ada keberuntungan (karena burung itu) dan tidak juga keburukan.” Beliau mengingkari keyakinan demikian.

Baca Juga:  Safar, Bulan Sial? Inilah Doa yang Diajarkan Rasulullah untuk Menghindari Nasib Sial

Dari penjelasan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bulan safar itu sama dengan bulan-bulan lainnya. Tidak memiliki pengaruh terhadap ketetapan takdir Allah. Maka dari itu marilah bersama-sama kita tinggalkan keyakinan akan kesialan pada bulan safar ini, semoga penjelasan singkat ini dapat bermanfaat. Amin

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

maulid di nusantara

Sejarah Perayaan Maulid Nabi dan Ragam Tradisi Di Indonesia

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad …

ayat dalam shalat

Membaca Al-Qur’an dalam Shalat dengan Bahasa Asing, Bolehkah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua muslim dapat membaca al-Quran. Terutama yang memiliki keterbatasan dan …