Setiap kita melakukan aktifitas  seharusnya diawali dengan berdoa. Hal ini bertujuan agar segala aktifitas kita diridloi oleh Allah. Namun seringkali, kita sebagai manusia hanya berdoa atau memohon kepada Allah ketika membutuhkan saja. Kita seolah butuh Allah saat sedang susah seperti tidak ada uang baru, sakit dan tertimpa.

Kita juga sering merasa bahwa ketika setelah berdoa kemudian kita mendapatkan apa yang dikehendaki seperti kesembuhan, keselamatan ataupun kesuksesan itu bukan karena pertolongan Allah, tetapi karena ikhtiar kita sendiri. Perbuatan seperti inilah yang sesungguhnya dapat membahayakan diri sendiri karena itu berarti kita melupakan Allah.

Hal ini pernah dialami oleh nabi Musa AS. Beliau pernah merasa sembuh dari penyakit gigi karena ikhtiarnya, padahal sebelumnya beliau sudah berdoa kepada Allah. Kisah tersebut tertulis dalam kitab Hasyiyah Kifayat al-‘Awam yang ceritanya sebagai berikut ini.

Dikisahkan, suatu waktu Nabi Musa ‘alaihis salam merasakan sakit pada giginya. Beliau mengadukan penyakitnya itu pada Allah agar mendapatkan kesembuhan. Allah kemudian berkata kepada Nabi Musa, “Ambillah rumput, kemudian letakkanlah di gigimu yang sakit.” Nabi Musa dengan segera mencari rumput, yang kemudian disentuhkan pada giginya yang sakit. Seketika hilanglah rasa sakit di gigi Nabi Musa.

Pada waktu yang lain, Nabi Musa merasakan rasa sakit lagi pada giginya. Tanpa pikir panjang, beliau segera mencari rumput dan disentuhkan pada giginya yang sakit. Apa yang terjadi?

Rasa sakit pada giginya malah semakin menghebat. Semakin berlipat dari sakit gigi yang diderita dahulu. Nabi Musa kemudian memohon kesembuhan pada Allah: “Ya Ilahi, bukankah Engkau memerintahkanku dan memberi petunjuk untuk meletakkan rumput di gigiku yang sakit?”

Allah berkata, “Wahai Musa, Akulah Yang Maha Menyembuhkan. Akulah Yang Memberi Penyakit. Akulah Yang Memberi Manfaat. Pada waktu sakit gigimu yang pertama, kamu meminta kesembuhan kepada-Ku, maka aku angkat rasa sakitmu. Sekarang kamu mengharapkan kesembuhan dari rumput, dan tidak memohon kepada-Ku.”

Manusia di satu sisi disebut sebagai makhluk yang paling sempurna, tetapi di sisi yang lain, manusia adalah makhluk yang lemah. Salah satu tanda lemahnya manusia adalah ia tidak bisa berbuat dan menentukan apapun kecuali atas pertolongan Allah. Hal ini seharusnya disadari oleh manusia itu sendiri, karena sehebat apapun dirinya, hakekatnya itu atas pertolongan Allah.

Salah satu cara untuk menghilangkan rasa sombong yang ada dalam diri manusia adalah dengan berdo’a. Orang yang paling dicintai Allâh  adalah orang selalu berdo’a dan memohon kepada-Nya, sebaliknya, orang yang enggan berdo’a kepada-Nya maka dialah yang paling dibenci dan dimurkai-Nya. Dalam surat al-Mu’min ayat 60, Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman:“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Ibn Katsir mengatakan bahwa ayat di atas menunjukkan agungnya karunia dan rahmat Allâh kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Allah memotivasi mereka untuk selalu berdo’a kepada-Nya, yang itu merupakan kunci kebaikan diri mereka di dunia dan akhirat, dan Allah menjanjikan pengabulan do’a mereka. Bahkan di akhir ayat ini, Allâh SWT memberikan ancaman keras bagi orang yang menyombongkan diri dan berpaling dari berdo’a kepada-Nya “

Berdo’a kepada Allâh dengan merendahkan diri dan menampakkan rasa butuh kepada-Nya merupakan wujud penghambaan diri seorang hamba kepada Allâh. Jika kita sadari, semua bentuk ibadah mulai dari sholat, haji dan lain-lain itu mengandung doa-doa atau permintaan kepada Allah. Maka dari itu, doa sesungguhnya adalah ibadah yang paling utama, bahkan merupakan asas dan ruh ibadah.

Ibn al-Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya al-Fawaid berkata bahwa kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allâh  (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdo’a, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allâh  telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya. Dan ketika Allâh  memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya.

Dari kekhilafan nabi Musa AS, kita dapat ambil pelajaran penting bahwa bukan obat yang menyembuhkan, bukan makanan yang mengenyangkan ataupun bukan api yang membakar. Semua itu pada hakikatnya Allah yang lakukan. Allah Maha Kuasa atas apapun. Kalaupun kita sembuh, kaya atau sukses tanpa berdoa kepada Allah,  itu sesungguhnya karena kehendak Allah. Jika Allah tidak menghendaki kesembuhan, minum semua jenis obat di dunia tidak akan berkurang penyakitnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.