Allah

Pemahaman Tentang Tangan Allah Swt (1) : Bukti Salafi Wahabi Meyakini Allah Swt Memiliki Tangan

Di dalam al Qur’an, Allah swt banyak menyebutkan tentang sifat dzatiyah (sifat yang menunjukkan dzat) yang memicu terjadinya perdebatan panjang. Sekalipun sejatinya, umat Islam sejak masa generasi salaf menolak sifat dzatiyah pada Allah swt.

Di antara sifat dzatiyah yang banyak disebutkan oleh Allah swt dalam al Qur’an yaitu tentang yadnya. Diantaranya:

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Artinya: “Yad Allah di atas yad mereka” (QS. Al Fath: 10)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Artinya: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan” (QS. Al Mulk: 1)

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

Artinya: “Orang-orang Yahudi berkata: Yad Allah terbelenggu, sebenarnya yad merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua yad Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki” (QS. Al Maidah: 64)

Dan juga ayat-ayat lainnya tanpa ada keterangan jelas apa yang dimaksud “Yad” tersebut, baik di dalam al Qur’an sendiri atau al Hadits. Kendati demikian, umat Islam wajib mengimani yad Allah, sebab hal tersebut sudah benar-benar disampaikan oleh Allah swt sendiri atau Nabi Muhammad saw tanpa ada pengingkaran terhadap lafadz tersebut.

Secara harfiyah, kata “yad” bermakna tangan. Jika lafatz yad digabung dengan lafadz Allah seperti “yadullah” maka akan memberikan kesan makna “tangan Allah”. Di sinilah letak terjadinya perdebatan di kalangan intelektual umat Islam, khususnya kelompok Mujassimah dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Apakah Allah swt memiliki dzat tangan atau tidak ?

Bagi kelompok Mujassimah seperti Salafi Wahabi, Allah swt memang memiliki tangan, hanya saja bentuk dan bagaimana posturnya tidak sama dengan milik manusia atau makhluk lainnya. Tetapi tetap harus diakui adanya dzat tangan pada diri Allah swt.

Baca Juga:  Jejak Khilafah dan Islamisasi Walisongo di Nusantara (Bagian 1)

Ibn Taimiyah, salah satu tokoh Salafi Wahabi yang menjadi referensi utama dalam kelompoknya, mengatakan:

إِنَّ للهِ سُبْحَانَهُ يَدًا وَسَمْعًا وَلَا نَقُوْلُ إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ اَلْقُدْرَةُ وَمَعْنَى السَّمْعِ اَلْعِلْمُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala terdapat tangan dan pendengaran. Kita tidak boleh mengartikan tangan dengan kekuasaan, dan mendengar dengan mengetahui”

Kemudian Ibn Taimiyah menampilkan dalil-dalil ayat tentang “yad Allah” kemudian memberikan kesimpulan dari ayat-ayat yang disampaikannya bahwa “yad Allah” memang dzat tangan, bukan kekuasaan.

فَالْمَفْهُوْمُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ لله تَعَالَى يَدَيْنِ مُخْتَصَّتَيْنِ بِهِ ذَاتِيَتَيْنِ لَهُ كَمَا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ دُوْنَ الْمَلَائِكَةِ وَإِبْلِيْسَ وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ يَقْبِضُ الْأَرْضَ وَيُطَوِّي السَّمَاوَاتِ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَأَنَّ يَدَيْهِ مَبْسُوْطَتَانِ

Artinya: “Dapat dipahami dari firman Allah swt ini bahwa Ia memiliki tangan tertentu yang bersifat dzat, yang layak dengan keagungannya, dan Allah swt maha suci, Ia menciptakan Adam dengan tangannya sendiri, tidak melalui Malaikat atau Iblis. Dan Ia  maha suci yang menggenggam bumi dan melipat langit menggunakan tangan kanannya, dan tangan Allah terbentang”[1].

Dalam kitab yang sama, Bin Bazz yang mengutip perkataan Ibn Taimiyah di atas, juga menegaskan bahwa lafadz “yad Allah” merupakan hakikat tangan Allah swt. Pemaknaan ini diperoleh dari hakikat urf.

Shalih bin Muhammad Utsaimin, ulama Salafi Wahabi yang hidup pada abad ke 14 H juga mengartikan kata “yad” pada ayat 75 surat Shad dengan tangan hakikat. Pada kitab yang merupakan hasil kumpulan fatwanya, ia mengatakan:

وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى أَنَّهُمَا يَدَانِ حَقِيْقِيَّتَانِ لَا تُشْبِهَانِ أَيْدِيِ الْمَخْلُوْقِيْنَ وَلَا يَصِحُّ تَحْرِيْفُ مَعْنَاهُمَا إِلَى الْقُوَّةِ، أَوِ النِّعْمَةِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

Artinya: “Ahlussunnah sungguh telah sepakat bahwa kedua tangan Allah swt adalah dua tangan secara hakikat, yang tidak menyerupai tangan-tangan makhluknya. Tidak benar merubah makna keduanya (yadayya) dengan makna kekuatan, atau nikmat atau selainnya”[2]

Baca Juga:  Islam Itu Damai [1]: Mengurai Kata ‘Islam’ dalam Alquran

Inilah bukti bahwa Salafi Wahabi menetapkan jisim pada Allah swt dengan memberikan arti “yad” dengan yad secara hakikat. “Yad” secara hakikat maksudnya adalah dzat tangan, bukan makna majaz dari “yad”. Benar sekali apa yang dikatakan para ulama bahwa Salafi Wahabi juga bagian dari kelompok yang berakidah Mujassimah.

Sehingga pengingkaran Muhammad bin Jamil Zainu terhadap klaim ulama’ kepada Ibn Taimiyah[3] sebagai Mujassimah sudah tertolak dengan bukti-bukti di atas. Karena menetapkan tangan dengan makna dzat tangan sekalipun bentuk dan rupanya tidak sama, tetap memberikan sifat dzatiyah atau jisim kepada Allah swt. Dan ini bertentangan dengan ayat-ayat al Qur’an, al Hadits dan juga akal sehat manusia.

Wallahu a’lam


[1] Abdul Aziz bin Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Juz 3, Hal 84

[2] Shalih bin Muhammad Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasail al Utsaimin, Juz 4, Hal 56

[3] Muhammad bin Jamil Zainu, Minhaj al Firqah al Najiyah, Hal 11

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember