Syekh Mahmud At Tahhan
Syekh Mahmud At Tahhan

Pembaharu Ilmu Hadis Tutup Usia

Pada tanggal 24 November 2022, seorang ulama hadis kenamaan asal Aleppo, Suriah Syekh Dr. Mahmud al-Thahan tutup usia di usia 87 tahun. Beliau ulama yang sangat berpengaruh di bidang ilmu hadis melalui karya-karyanya, terutama dua kitab yang banyak digunakan sebagai diktat atau pedoman mata kuliah pengantar ilmu hadis di beberapa perguruan tinggi Islam di seluruh dunia, yaitu kitab “Taisir al-Musthalah al-Hadis” dan “Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid”. Latar belakang pendidikan dari Suriah, Saudi Arabia dan Mesir ikut mempengaruhi spesialisasinya di bidang ilmu hadis.

Syekh Mahmud al-Thahan lahir di Aleppo, Suriah pada tahun 1935 M dan terdidik di lingkungan keluarga yang religius dibawah asuhan ayah Haji Ahmad al-Thahan. Setelah itu, sekolah dan belajar di Madrasah Tahfidz dibawah asuhan Syekh Muhammad Najib Khayatah, Aleppo hingga lanjut kuliah S1 di Universitas Damaskus dan lulus pada tahun 1960 M. Setelah itu melanjutkan S2 di Universitas Madinah al-Munawarah, Saudi Arabia dan lulus program doktor di Universitas al-Azhar, Mesir pada tahun 1971 dengan disertasi berjudul “Al-Hafidz al-Khatib al-Baghdadi wa Atsaruhu fi Ulum al-Hadis” dengan bimbingan Syekh Abd al-Wahab Abd al-Lathif.

Pengabdiannya di dunia keilmuan dilakukan dengan mengajar dan menulis. Setelah mengajar di Universitas Islam Imam bin Saud, Riyadl selama tujuh tahun dan mengarang kitab pengantar yang sangat terkenal; “Taisir Musthalah al-Hadis” pada tahun 1977 M, pindah mengajar ilmu hadis di Fakultas Syariah dan Studi Islam Universitas Kuwait pada tahun 1982 M hingga berusia 70 tahun dan akhirnya pulang ke tanah air, Aleppo pada tahun 2005.

“Taisir Musthalah al-Hadis” yang berarti memudahkan Ilmu (musthalah) Hadis ditulis dalam rangka memudahan para pelajar ilmu hadis setelah berpengalaman mengajar kitab “Ulum al-Hadis” karya Ibnu Shalah dan “al-Taqrib” karya al-Nawawi beberapa tahun di Universitas Madinah yang relatif menyulitkan jika diajarkan sistemik ala perkuliahan. Disamping faktor kesulitan, keterangan yang terlalu panjang, cara penyampaian pesan yang rumit dan ketiadaan keterpaduan di beberapa pembahasan dalam dua kitab tersebut menjadi kendala tersendiri meskipun kontribusi keilmuannya tidak bisa diragukan oleh siapapun.

Menurut Syekh Mahmud al-Thahan, kitab-kitab ilmu hadis klasik tidak jauh berbeda dengan kitab Imam Nawawi atau Ibnu Shalah dalam hal ketidakutuhannya dalam menjelaskan semua ilmu-ilmu hadis, disamping ketidakefektifan serta kekurangan nilai sistematika pembahasannya. Hal ini bisa dimaklumi karena persoalan-persoalan yang jelas bagi mereka membuat mereka merasa perlu meninggalkannya atau ada faktor kebutuhan untuk memanjangkan sebagian pembahasan ketika itu atau faktor lain yang kita ketahui atau tidak kita ketahui.

Kitab “Taisir al-Musthalah al-Hadis” merupakan wajah lain dari  pembaharuan ilmu hadis dalam hal klasifikasi, sistematika dan ketercakupan pembahasan. Kitab ini juga telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul “Ilmu Hadis Praktis”. Dengan ini, Syekh Dr. Mahmud Thahan dikenal sebagai pembaharu ilmu hadis sebagaimana disebut oleh Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. KH. Imam Ghazali Said yang menjadikan kitab “Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid” sebagai bahan ajar mata kuliah studi hadis di Fakultas Adab UINSA.

Dalam hal klasifikasi dan sitematika pembahasannya, Syekh Mahmud Thahan mengambil pelajaran dari kitab “Nukhbah al-Fikr” dan syarahnya, sedangkan segi ketercakupan materinya mayoritas bersandar pada kitab “Ulum al-Hadis” karya Ibn Shalah (w. 643 H), ringkasannya “al-Taqrib”  karya al-Nawawi (w. 676 H) dan syarahnya “al-Tadrib” karya al-Suyuti (w. 911 H).

Syekh Mahmud Thahan cukup mengidolakan al- Hafidz al-Khatib al-Baghdadi (392-463) dan menjadikannya sebagai objek penelitan disertasinya di al-Azhar yang membahas al-Khatib al-Baghdadi dan pengaruhnya bagi ilmu-ilmu hadis. selain itu, mentahqiq kitab al-Khatib al-Baghdadi yang berjudul “al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’”. Wajar jika Syekh Thahan juga mengembara untuk ilmu dari Suriah ke Saudi Arabia dan Mesir.

Syekh Thahan menyebut idolanya al-Baghdadi sebagai sosok yang hidup untuk ilmu, mengembara untuk ilmu dan berjuang melawan tekanan di jalan ilmu meskipun lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja alias tidak terkenal. Pengalamannya di Baghdad, diperkuat dengan pengembaraanya ke Bashrah, Kufah, Naisabur, Makkah, Damaskus, Aqsha dan lain-lain. Ketika haji dan setelah thawaf, meminum air zam-zam dan berdo’a kepada Allah agar tiga hajatnya terkabul; bisa mengajar sejarah Baghdad, mengajar hadis di Masjid al-Manshur dan dimakamkan di dekat Bisyir al-Hafi.

Tidak hanya al-Baghdadi yang berdo’a untuk bisa menjadi ulama hadis dan sejarah dengan wasilah air zam-zam, Imam al-Dzhabi dan Imam Ibnu Hajar al-Atsqolani juga berdo’a dengan permintaan yang serupa sebelum minum air zam-zam di tanah suci. Dengan kata lain, do’a yang dipanjatkan bukan berisi hajat-hajat duniawi. Wallahu A’lam.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

imam nawawi

Alasan Imam Nawawi Membangkitkan Pengajian Hadis

Imam Nawawi (w. 676 H) merupakan sosok yang tidak hanya dikenal jasanya dalam ilmu hukum …

escortescort