gelandangan dan pengemis
gelandangan dan pengemis

Pemberdayaan Gelandangan dan Pengemis dalam Al-Qur’an

Gelandangan dan pengemis merupakan masalah sosial yang akut. Fenomena ini berakar dari kemiskinan. Keduanya menjadi masalah sosial di perkotaan. Tidak hanya di kota besar, tetapi juga di kota-kota kecil. Di kota besar seperti Jakarta, setiap tahun jumlah gelandangan dan pengemis meningkat, apalagi karena dampak dari Covid-19.

Berbagai variabel fundamental yang memengaruhi peningkatan jumlah gelandangan dan pengemis di perkotaan seperti kemiskinan, ledakan urbanisasi karena ketimpangan pembangunan kota dengan desa, kualitas sumber daya manusia yang rendah, angkatan kerja yang tidak terampil, keterbatasan daya serap angkatan kerja di sektor formal, tingginya angka putus sekolah pada tingkat Sekolah Dasar, dan etos kerja yang rendah belum berhasil diatasi. Akibatnya jumlah gelandangan dan pengemis di kota-kota besar seperti Jakarta terus meningkat sehingga gelandangan dan pengemis merupakan fenomena kemiskinan kota. Adapun penulis ingin memaparkan solusi pemberdayaan dan penanggulangan permasalahan sosial yang sudah akut ini.

Gelandangan dan Pengemis dalam Al-Qur’an

Gelandangan Menurut Al-Qur’an Akar munculnya fenomena gelandangan adalah kemiskinan. Al-Qur’an menyebut istilah miskin dalam bentuk tunggal sebanyak 11 kali dan menyebutnya dalam bentuk jamak, masakin, sebanyak 12 kali. Jadi secara keseluruhan Al-Qur`an menyebut istilah miskin sebanyak 23 kali. Dilihat dari segi kebahasaan istilah miskīn berasal kata kerja sakana, yang mengandung arti diam, tetap, jumud dan statis.

Ar-Ragib al-Asfahani mendefinisikan, miskin adalah seorang yang tidak memiliki sesuatu apa pun. Oleh sebab itu, makna yang terkandung di dalam perkataan miskin lebih rendah dibandingkan dengan makna yang tersirat pada perkataan fakir. Penjelasan kebahasaan tentang pengertian miskin tersebut, menurut hemat penulis, mengisyaratkan bahwa istilah miskin menggambarkan akibat dari keadaan diri seseorang atau sekelompok orang yang lemah. Ketika seseorang itu tidak berhasil mengembangkan potensi dirinya secara optimal, yakni potensi kecerdasan, mental, dan keterampilan, maka keadaan itu akan berakibat langsung pada kemiskinan, yakni ketidakmampuan mendapatkan, memiliki, dan mengakses sumber-sumber rezeki sehingga ia tidak memiliki sesuatu apa pun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Baca Juga:  Tafsir Surat At-Taubah 122 : Pentingnya Kaderisasi Ulama

Faktor Penyebab Kemiskinan

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan dilihat dari segi mentalitas dapat diringkaskan pada empat keadaan sebagai yang berikut, yakni: Pertama, ad-da‘if, adalah keadaan diri seseorang yang diliputi kelemahan, yakni lemah semangat, lemah akal dan ilmu, lemah fisik, dan lemah keterampilan sehingga tidak sanggup menjalankan fungsinya sebagai pemimpin atau khalifah Allah di muka bumi. Kedua, al-khauf, adalah keadaan diri seseorang yang diselimuti oleh suasana takut yang mencekam sehingga tidak memiliki keberanian untuk mencoba bekerja, berusaha, berdagang, atau menjadi tukang, karena tidak berani mengambil resiko gagal, rugi, atau kehilangan modal.

Ketiga, al-kaslan, adalah keadaan jiwa seseorang yang diliputi oleh kemalasan sehingga kehilangan kesempatan, waktu, dan peluang untuk mengembangkan potensi dirinya dengan optimal. Sebenarnya setiap orang memiliki potensi untuk menjadi orang berhasil dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi seorang pemalas menjadi fakir dan miskin karena kemalasannya. Keempat, al-bakhil, adalah keadaan diri seseorang yang didominasi oleh sifat kikir. Sifat dan karakteristik kebakhilan ini menjadikan diri seseorang hanya bisa menerima, tetapi tidak bisa menyalurkan sehingga dirinya seperti saluran air yang tersumbat. Akibatnya tidak ada air yang mengalir ke dalam pipa yang tersumbat; dan lama kelamaan kadar air dalam pipa tersumbat itu berkurang, bahkan hingga tidak ada sama sekali.

Pemberdayaan Gelandangan dan Pengemis

Gelandangan dan pengemis merupakan masalah sosial yang kompleks serta multi dimensi. Keduanya merupakan anak kandung kemiskinan yang lahir dan berkembang menjadi masalah sosial akibat kemiskinan. Menghadapi masalah sosial yang akut ini, Al-Qur’an menawarkan beberapa prinsip dalam pemberdayaan gelandangan dan pengemis sebagai berikut, yakni:

Pertama, prinsip ta‘awun, yakni prinsip kerja sama dan bantu membantu di antara lembaga pemerintah seperti Depsos, Dinas Sosial Tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota, Lembaga Swadaya Masyarakat, kalangan perguruan tinggi, organisasi profesi pekerja sosial, para relawan dan dermawan, serta penyandang masalah kesejahteraan sosial guna menolong gelandangan dan pengemis agar mereka dapat menolong diri mereka sendiri dalam mengatasi kemiskinan yang dihadapinya. Prinsip ta‘awun ini merupakan perintah Allah kepada orangorang beriman sebagaimana tersurat pada ayat: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (al-Mā’idah/5: 2). Bentuk ta‘awun ini meliputi kelembagaan, manajemen, finansial, sumber daya manusia, program, metodologi, dan kebijakan sehingga melahirkan kekuatan terpadu dalam mengatasi gelandangan dan pengemis di berbagai kota di seluruh negeri ini.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (2) : Sakit dan Perjalanan yang Membolehkan Tidak Berpuasa

Kedua, prinsip syura, yakni prinsip musyawarah di antara pemerintah dan pihak-pihak yang disebutkan di atas dalam satu program kepedulian terhadap masalah gelandangan dan pengemis dengan mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang menyebabkan munculnya fenomena gelandangan dan pengemis, serta merumuskan langkah-langkah penanggulangan yang berkesinambungan. Agenda syura ini terutama berkenaan dengan cara-cara mengenali masalah dengan tepat, menemukan data yang akurat, melahirkan langkah yang cepat, menyamakan persepsi dalam mengatasi gelandangan dan pengemis di masing-masing kota di seluruh Indonesia. Sebab mengatasi masalah gelandangan dan pengemis tanpa sosial capital di atas tidak akan mengalami pengakaran, tetapi akan rapuh seperti baitul-‘ankabut (rumah laba-laba), jika dilakukan tanpa berpegang teguh kepada prinsip syura. Sebab prinsip syūrā itu berarti pengakuan dan penghargaan atas eksistensi pemikiran, ide, kehendak, dan pengalaman dari setiap komponen dalam komunitas.

Dengan mekanisme syura berarti memperluas tingkat keterlibatan dan partisipasi setiap komponen masyarakat dalam setiap tahapan pemberdayaan gelandangan dan pengemis. Perhatikanlah pesan ayat Al-Qur’an berikut: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (asy-Syura/42: 38)

Ketiga, pemberdayaan gelandangan dan pengemis itu dilakukan dengan berpegang kepada prinsip bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengubah diri mereka dengan penguatan kekayaan mentalitasnya, yakni keimanan dan ketakwaan, serta penguatan skill life (kecakapan hidup) yang terpendam. Tugas para pendamping dalam pemberdayaan gelandangan dan pengemis itu menolong mereka untuk bisa menolong diri mereka sendiri dengan melibatkan para gelandangan dan pengemis dalam langkah-langkah pemberdayaan

Keempat, pemberdayaan gelandangan dan pengemis didasarkan atas prinsip kasih sayang dan berbagi di antara kaum agniya’ dan du‘afa’. Pola ini bisa diwujudkan dalam bentuk pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah untuk kepentingan pemberdayaan mereka dan pengembangan para mantan gelandangan dan pengemis tersebut untuk bisa hidup mandiri melalui program pelatihan keterampilan, peningkatan kualitas keterampilan, memasarkan produk keterampilan, menghubungkannya dengan jaringan permodalan dan pasar yang lebih luas, menanamkan budaya menabung, serta mengembangkan budaya belajar untuk hidup lebih baik. Untuk itu, mereka perlu ditampung dalam forum komunitas mantan gelandangan danpengemis. Sebab masyarakat yang berhasil mengembangkan dirinya adalah masyarakat yang berhasil menciptakan suasana dan semangat pembelajaran yang mandiri di antara mereka sehingga mereka memenuhi pesan Al-Qur’an yakni, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (al-Mā’idah/5:2).

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Insan 8-12 : Keutamaan Orang yang Berbuat Baik

 

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

ka'bah

Makna Filosofis Ritual Haji (1)

Salah satu pengamalan ajaran Islam yang menarik untuk dikaji adalah ibadah haji. Ibadah yang setiap …

permasalahan haji di Indonesia

Permasalahan Haji di Indonesia, Inilah Solusinya!

Ibadah haji yang dilakukan Nabi ternyata berbeda dengan yang dipahami oleh umat Islam saat ini, …