Majlis Taklim

Di era digital seperti sekarang ini, kita dalam aktifitas kesehariannya dimudahkan dengan kecanggihan teknologi. Manusia sekarang tidak perlu lagi keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari makan, ia bisa delivery order, bekerja juga ia bisa lakukan dirumah dengan aplikasi jejaring yang ia punya dan sampai kepada belajar ilmu pun kita sekarang bisa lakukan di rumah bahkan sambil rebahan sekalipun.

Perilaku digital tersebut agaknya sudah mewabah menjadi sebuah kebiasaan, khususnya di masyarakat perkotaan. Dalam hal pesan makanan online dan bekerja di rumah ini sangat bisa dimaklumi, karena memang hal tersebut dapat membantu keseharian kita agar lebih efisien dan memudahkan manusia dalam mencapai keinginannya.

Namun kalau belajar khususnya ilmu agama di rumah lewat social media misalnya, agaknya harus kita hindari. Karena belajar ilmu agama dituntut harus serius, detail dan dengan bimbingan guru. Maka salah satu cara terbaik dalam belajar ilmu agama yakni mendatangi majelis taklim.

Kiranya kita tidak bisa serius dan konsentrasi ketika belajar agama lewat handphone di rumah atau dimanapun. Karena akan banyak sekali kendala dan godaan yang akan dihadapi. Semisal belajar agama sambil bermain game, mengerjakan sesuatu hal lain, ataupun hal-hal yang dapat merusak keseriusan dan konsentrasi dalam belajar agama. Namun ketika kita serius dan konsentrasi belajar agama di majelis taklim, maka otomatis pandangan kita akan langsung tertuju kepada guru kita. Kita juga akan mendengarkan dengan seksama tanpa ada penghalang atau godaan apapun.

Belajar agamapun harus secara detail  supaya pemahaman kita terhadap agama lebih bagus dan komrehensif. Jika kita belajar lewat handphone, maka sangat sulit kita belajar secara detail. Karena dikhawatirkan ketika kita sedang menonton video, terkadang suara dari narasumber itu tidak terdengar atau terdengar kurang jelas yang itu bias mengaburkan pemahaman suatu hal. Ataupun kita mencari artikel di google untuk memperdalam ilmu agama.

Hal ini juga agaknya rentan terhadap kesalahpahaman, karena terkadang tulisan itu yang menulis siapa kita tidak tahu atau ada beberapa yang sebenarnya itu salah namun dibenarkan oleh si penulis artikel dan kemudian diamini oleh pembaca. Kondisi seperti itu bias saja terjadi karena kita tidak mendapat bimbingan dari guru secara langsung.

Salah satu usaha agar kita mendapat bimbingan langsung dari guru untuk belajar agama adalah mendatangi majelis taklimnya. Jika kita memang benar-benar niat belajar agama maka langka pertama dan yang paling utama adalah belajar dengan guru atau dalam hal ini ulama. Ulama yang dimaksud disini adalah ulama yang mempunyai pertalian sanad keilmuan yang jelas dengan gurunya sampai kepada Rasulullah SAW.

Mendatangi ulama adalah bukti kecintaan kita kepada ilmu dan ulama. Ada banyak sekali faedah ketika kita belajar langsung di majelis taklimnya ulama. Di antaranya adalah langkah kaki kita belajar di majelis taklim dinilai pahala oleh Allah, mempererat silaturahim antar umat Islam dan belajar agama kita pun hasilnya akan lebih baik karena kita bisa bertanya langsung kepada ulama jika ada ketidakpahaman dalam beberapa hal di bawah ini ada beberapa hal keutamaan belajar di majelis taklim. Di antaranya tertulis dalam kitab Annawa’dir, karya As-Syeikh Shihabuddin Ahmad bin Salamah Al-Misri Al-Kalyubi Asy-Syafi’i. Diriwayatkan bahwa Allah menghisab seorang hamba, ternyata keburukannya lebih berat. Maka dia diperintahkan untuk dibawa ke neraka.

Ketika dia telah dibawa, Allah berfirman kepada Malaikat Jibril :”Susullah hamba-Ku dan tanyalah, apakah dia pernah duduk di majelis orang alim ketika di dunia, agar Aku dapat mengampuninya dengan syafa’atnya?”

Maka Jibril bertanya kepada hamba itu, lalu dia menjawab, “Tidak pernah.” Maka berkatalah Jibril. “Yaa Roob, Engkau lebih mengetahui keadaan hamba-Mu.”

Lalu Allah berfirman : “Tanyakanlah, apakah dia mencintai seorang alim?”

Maka Jibril pun bertanya kepadanya, lalu dia menjawab, “Tidak.”

Allah berfirman lagi : “Wahai Jibril tanyakanlah, apakah dia pernah duduk satu meja dengan orang alim?”

Jibril pun bertanya kepadanya, tetapi dia menjawab, “Tidak.”

Lalu Allah berfirman lagi : “Wahai Jibril, tanyakanlah nama dan nasabnya.

Jika namanya sama dengan nama seorang alim, maka dia akan kuampuni.

Maka Jibril bertanya kepadanya, tetapi ternyata tidak sama.

Kemudian Allah berfirman kepada Jibril : “Peganglah tangannya dan masukkan dia ke dalam surga, KARENA DIA MENCINTAI SESEORANG YANG ORANG ITU MENCINTAI ORANG ‘ALIM “

Lalu orang tersebut diampuni oleh ALLAH berkat mencintai orang yang mencintai orang alim.

Dalam kitab Al-Targhib wa Al-Tarhib, Ibn Abbas meriwayatkan: “Rasulullah telah ditanya oleh salah seorang sahabatnya perihal siapa teman duduk yang paling baik. Rasulullah menjawab, ‘Orang yang bila kamu lihat, dapat mengingatkanmu kepada Allah, menambahkan ilmumu dalam pembicaraannya, dan mengingatkanmu kepada akhirat dari amal-amalnya.’”

Hampir setiap kitab hadis menyebutkan tentang pentingnya duduk bersama ulama yang dimaksudkan di atas. Bahkan, Nabi menyebut keutamaan menghadiri majelis ilmu, tempat dimana ulama berkumpul dan duduk sebagai ‘taman-taman surga’.

Dalam hadis yang diriwayatkan al-Thabrani, dalam kitab al Mu’jam al-Kabir, disebutkan bahwa Rasulullah bersabda : “Apabila melewati taman surga, hendaklah kamu duduk di situ; istirahatlah di situ.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa taman surga itu?”

Nabi SAW menjawab, “Majelis-majelis ilmu.”

Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa yang duduk bersama ulama, maka dia duduk bersamaku. Dan barangsiapa yang duduk bersamaku, seakan-akan dia duduk bersama Allah.”

Dalam hadis yang diterima dari Abu Umamah, yang diriwayatkan oleh Al-Thabrani, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Lukman pernah menasehati anaknya: ‘Hai anaku, hendaklah engkau sering duduk bersama ulama dan mendengarkan pembicaraan para ahli hikmah. Karena, sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah; seperti Allah menghidupkan bumi yang mati dengan limpahan air hujan.’