talqin
talqin

Pentingnya Talqin untuk Orang yang Sedang Sakaratul Maut

Terlalu sering penulis sendiri saksikan, saat menjenguk orang sakit parah, saat sakaratul maut, ketika nyawa telah dikerongkongan, justru sanak kerabatnya lebih asyik bermain dan berselancar di dunia maya dengan androidnya. Sebagian lagi terlena dengan obrolan duniawi.

Sangat sedikit diantara mereka yang membaca al Qur’an, surat Yasin, tahlil dan lebih-lebih mentalqin ia yang akan menjemput ajal. Padahal, Nabi telah mengajarkan sesuatu yang sangat penting saat ada salah satu keluarga, teman atau sanak kadang yang sedang sakaratul maut. Beliau memerintahkan kepada umatnya supaya membaca talqin untuk orang akan meninggal dunia.

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tuntunlah orang yang hampir mati di antara kamu sekalian dengan kalimat tahlil (La Ilaha Illallah)”. (HR. Muslim dan imam empat).

Talqin (menuntun kalimat tahlil) kepada seseorang yang sedang sakaratul maut adalah cara untuk mengingatkannya akan kalimat tauhid. Sebab orang yang membaca “La Ilaha Illallah” dipenghujung hidupnya dipastikan akan masuk surga atau mati dalam keadaan iman dan Islam.

Allah berfirman, “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang beriman”. (QS. Al Dzariyat: 55)

Mengenai hukum talqin, konsensus ulama menyatakan hukumnya sunnah. Anjuran kepada semua umat Islam untuk melakukan hal tersebut terhadap saudaranya yang sedang naza’ (sakaratul maut). Anjuran ini hanya berlaku bagi satu atau dua orang supaya orang yang akan meninggal tetap tenang dan konsentrasi. Bila terlalu ramai sampai mengganggu hukumnya makruh. Maka yang lain cukup membaca doa bagi saudaranya yang akan meninggal supaya mati dalam keadaan husnul khatimah.

Adapun talqin setelah mayit dikuburkan ulama beda pendapat. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal tidak disyariatkan. Sedangkan menurut Imam Malik hukumnya makruh sebab tidak ada fatwa dari ahli fikih Madinah. Namun menurut Imam Syafi’i dan Abu Hanifah hukumnya sunnah berdasar pada hadis dhaif tentang masalah ini. Salah satunya adalah hadis riwayat Abu Umamah.

Baca Juga:  Fikih Menghukumi Para Pemberontak

Bagi generasi saat ini, hendaklah selalu memperhatikan masalah talqin ini. Bila sedang menjenguk atau ada keluarga yang sedang sakaratul maut hendaklah ada diantara mereka yang mentalqin orang tersebut. Dan yang lain membaca doa atau membaca al Qur’an.

Akan tetapi, umat Islam tidak boleh mentalqin non muslim. Harus ditawari dulu untuk memeluk aga Islam. Jika ia memeluk Islam baru kemudian diajarkan kepadanya kalimat tauhid, La Ilaha Illallah. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah.

 

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …