khilafah nubuwah
arti khalifah dan khilafah

Perbedaan Khilafah Nubuwah dan Khilafah Ijtihadiyah

Perbincangan tentang khilafah menjadi hangat kembali setelah peristiwa pawai kelompok Khilafatul Muslimin dengan propagandanya. Kendati mereka membantah bahwa gerakan tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk mendirikan negara Islam atau untuk merebut kekuasaan, bahwa mereka melakukan pawai dengan segala atribut khilafah dalam rangka syiar, dan syiar adalah ibadah, hal tersebut tetap menimbulkan kecemasan karena bisa menyebabkan terjadinya gesekan antar masyarakat.

Semangat beragama yang mereka miliki patut kita hargai. Semangat menggebu menjalankan syiar dan  ibadah. Sayangnya mereka belum bisa membedakan antara syiar Islam yang memang diperintahkan oleh agama dan syiar yang berbalut kepentingan. Dalam konteks khilafah, kawan-kawan Khilafatul Muslimin, demikian pula pengasong khilafah yang lain, belum bisa membedakan antara khilafah teologis yang dijanjikan Allah dalam nubuwah dan khilafah ijtihadiyah.

Khilafah ala Minhaj al Nubuwah

Kalimat khilafah ala Minhaj al Nubuwah (khilafah yang mengikuti jejak kenabian) ada dalam hadits riwayat Imam Ahmad.

Dari Hudzifah Rasulullah bersabda, “Di tengah-tengah kalian ada Kenabian dan akan berlangsung sekehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian dan berlangsung sekehendak-Nya. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian ada kerajaan otoriter berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian”. Kemudian beliau (Nabi) diam. (HR. Ahmad)

Mengenai status hadits ini ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama ahli hadits mengatakan shahih, yang lain berpendapat statusnya hasan, dan ada pula yang mengatakan dhaif.

Pada hadits yang lain Nabi bersabda, “Khalifah di tengah umatku hanya 30 tahun, kemudian setelah itu diganti kerajaan” (HR. Turmudzi dan Ahmad)

Masa 30 tahun itu adalah Khalifah Abu Bakar 2 tahun, Khalifah Umar bin Khattab 10 tahun, Khalifah Utsman bin Affan 12 tahun dan Khalifah Ali bin Abi Thalib 6 tahun. Persis 30 tahun.

Ibnu Arabi dalam Ahkam al Qur’an membuat perincian berbeda. Masa 30 tahun tersebut dihitung dari masa Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Khalifah Hasan. Persis 30 tahun. Seharipun tidak lebih, juga tidak kurang.

Inilah hadits prediksi Nabi tentang khilafah. Hadis pertama dipertegas (bayan) oleh hadits yang kedua. Tegas beliau mengatakan bahwa khilafah yang kemudian masyhur dengan istilah “Khilafah ala Minhaj al Nubuwah” hanya berlangsung selama 30 tahun. Setelah itu tidak ada lagi khilafah meski rajanya bergelar Khalifah.

Jadi sudah jelas bahwa khilafah teologis yang dijanjikan oleh Allah dalam nibuwah hanya berlangsung selama 30 tahun. Maka, kalau seandainya ada gagasan tentang khilafah seperti yang diusung oleh Khilafatul Muslimin, HTI, dll. adalah khilafah ijtihadiyah sebagai model sebuah institusi politik atau bentuk pemerintahan biasa. Khilafah ijtihadiyah ini sama dengan kerajaan, republik, monarki dll.

Khilafah yang diikhtiarkan oleh kawan-kawan Khilafatul Muslimin secara substantif berbeda dengan Khilafah ala Minhaj al Nubuwah yang disebut dalam hadits di atas.

Bukankah Nabi menyebut 12 Khalifah?

“Agama ini akan selalu tegak sampai sampai ada bagi kalian 12 khalifah. Mereka semua disepakati oleh umat”. (HR. Abi Daud)

Para ulama berbeda pendapat apakah 12 khalifah tersebut sudah berlalu atau masih ada yang belum memerintah.

Pendapat yang mengatakan bahwa 12 khalifah telah terjadi dan telah selesai dihitung mulai dari 4 khulafaur rasyidin, Hasan, Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz, serta beberapa khalifah dari Bani Umayyah dan Abbasiyah. 12 Khalifah dalam hadits Nabi tersebut telah selesai dan tidak ada lagi.

Ulama yang berpendapat bahwa 12 khalifah masih ada yang belum terjadi dijelaskan oleh Al Hafidz Jalaluddin al Suyuthi dalam kitabnya Tarikh al Khulafa.

12 khalifah telah ada 8 orang. Khulafaur rasyidin 4 orang (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Hasan, Muawiyah, Abdullah bin Zubair dan Umar bin Abdul Aziz. Jumlah ini masih mungkin bertambah dengan Al Muhtadi dari Bani Abbasiyah dan Al Zahir karena keadilannya. Dengan demikian hanya tersisa 2 khalifah yang salah satunya adalah al Mahdi dari ahli bait Nabi.

Kalau begitu, berpijak pada pendapat yang kedua maka masih ada kemungkinan khilafah nubuwah?

Hamami Zada dalam Meluruskan Pemahaman Keagamaan Kaum Jihadis mengatakan, terlepas dari pendapat ulama tentang status hadis khilafah ala Minhaj al Nubuwah, tidak boleh mengartikannya secara sederhana dan literal, bahwa akan ada khilafah ala Minhaj al Nubuwah pada saatnya nanti.

Maksudnya bukan seperti itu, khilafah disini adalah bentuk pemerintahan yang dipraktikkan oleh umat Islam; imamah, imarah, mamlakah (kerajaan) dan Syura (republik).

Maka jelas khilafah disini tidak berarti Daulah Islamiyah atau mendirikan negara Islam, namun hanya sebagai bentuk pemerintahan atau institusi politik. Hal ini terbukti dari pembentukan negara Madinah oleh Nabi. Nabi tidak membentuk negara Islam dengan al Qur’an maupun hadist sebagai pedoman hukum secara formal, namun membentuk negara Madinah dengan Piagam Madinah sebagai undang-undangnya.

Maka, sekali lagi, Khilafah yang dijanjikan berdasarkan Nubuwah berbeda dengan Khilafah Ijtihadiyah yang diikhtiarkan oleh kawan-kawan Khilafatul Muslimin, HTI, dll. Keduanya berbeda meskipun namanya sama. Juga, andaipun memang benar pendapat yang mengatakan 12 Khalifah masih ada yang belum terjadi, tetap saja berbeda antara khilafah Nubuwah dengan Khilafah yang diikhtiarkan oleh Khilafatul Muslimin dkk. Sebab, khilafah dalam konteks hadist Nabi tersebut adalah bentuk dan sistem pemerintahan, bukan negara Islam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim

Menistakan Alquran, Sama Saja Merendahkan dan Menghina Allah SWT

Jakarta  – Aksi dua tokoh anti-Islam Rasmus Paludan yang membakar Alquran di Swedia dan Edwin …

Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin

Ini Lembaga Lembaga Amil Zakat yang Berizin dan Tidak Berizin yang Diliris Kemenag RI

Jakarta –  Kasus penyelewengan dana sumbangan termasuk zakat yang dilakukan Aksi Cepat Tanggap (ACT) membuat …

escortescort