masjid nabawi
masjid nabawi

Peristiwa Terbakarnya Masjid Nabawi di Bulan Ramadan

Tahun 654 H, tepat pada malam pertama bulan Ramadan, umat Islam di Madinah gempar. Kegemparan tersebut dipicu oleh peristiwa terbakarnya Masjid Nabawi. Masjid kebanggaan umat Islam tersebut, yang dibangun Rasulullah Saw., mengalami kebakaran hebat. Peristiwa tersebut membuat umat Islam saat itu panik. Sebab, tempat suci sekaligus simbol perjuangan umat Islam mengalami kebakaran hebat. Bagaimana kisahnya?

Sejarah Singkat

Sebagaimana diketahui, Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun oleh Rasulullah Saw., setibanya di Madinah. Sidi Gazalba mengatakan bahwa Masjid Nabawi dibangun di atas tanah milik dua orang anak dari Bani al-Najjar. Letaknya berdekatan dengan rumah Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Anshari.

Sebelum diperluas, setiap sisinya berukuran 45 meter. Selain itu, hanya ada dua pintu masuk untuk umum. Satu pintu berada di sisi utara dan satu pintu lagi ada di sisi barat. Pada saat kiblat umat Islam masih di Baitul Muqoddas, sisi utara tidak berpintu. Baru ketika kiblat umat Islam pindah ke Ka’bah, dibangunlah pintu di sisi utara sekaligus menutup pintu di sisi selatan atau yang mengarah ke Ka’bah.

Masjid Nabawi berlantai batu. Sejenis batu bata atau balok-balok tanah liat yang dikeringkan menjadi dindingnya. Tiang masjid terbuat dari batang kurma dan atapnya berasal dari pelepah dan daun kurma. Atapnya berbentuk bangsal yang kemudian ditambal dengan tanah liat. Hashem menyebut bahwa tanah liat di atap tersebut tidak terlalu padat. Sehingga, ketika hujan tiba, lantai masjid akan menjadi basah karena terkena tetesan air hujan.

Begitulah gambaran sederhana Masjid Nabawi saat dibangun pertama kali oleh Rasulullah Saw. Bertempat di masjid tersebut, Rasulullah Saw., mulai membangun peradaban Islam. Rasulullah Saw., bukan hanya menjadikan Masjid Nabawi sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat peradaban umat Islam. Gazalba menyebut, pada masa itu, masjid digunakan sebagai pengembangan pengetahuan, baitul mall, penginapan bagi musafir, pengumuman masalah sosial dan juga tempat menshalatkan orang meninggal.

Baca Juga:  DMI Usulkan Tarawih 2 Shift, Ini Tanggapan PBNU dan Muhammadiyah

Masjid Nabawi Terbakar

Peristiwa terbakarnya Masjid Nabawi di bulan Ramadan dicatat oleh Ibnu Imad dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab. Dr. Abdurrahman al-Bagdady yang mengutip catatan Ibnu Imad mengatakan bahwa peristiwa naas tersebut disebabkan oleh terbakarnya kasur milik Abu Bakar al-Maraghi, salah seorang pelayan masjid. Percikan api dari sumbu pelita masjid mengenai kasur tersebut yang akhirnya menyebabkan kebakaran besar. Si jago merah membakar seluruh atap masjid dan mengakibatkan beberapa tiang masjid roboh.

Versi lain dikisahkan oleh Samhudi, seorang sejarawan muslim yang menulis tentang Madinah. Peristiwa terbakarnya Masjid Nabawi disebabkan oleh api yang terdapat dalam lampu di masjid mengenai atap-atap masjid yang terbuat dari kayu. Sehingga api semakin membesar dan menyebabkan kebakaran yang sangat hebat. Zuhairi Misrawi dalam bukunya Madinah mengungkap bahwa kebakaran tersebut dapat diatasi setelah pemuka Madinah mengambil langkah inisiatif untuk memadamkan api. Sehingga, masjid warisan Rasulullah Saw., tersebut tidak habis dilalap si jago merah.

Pada tahun 655 H, proyek perbaikan Masjid Nabawi pasca kebakaran mulai dilakukan. Adalah Khalifah Dinasti Abbasiyah, al-Mu’tashim Billah yang mengawali proyek renovasi tersebut. Sayangnya, sang khalifah tidak menyelesaikan renovasi tersebut. Hal itu lantaran Dinasti Abbasiyah runtuh dan Kota Baghdad dikuasai oleh Bangsa Mongol.

Proyek renovasi Masjid Nabawi kemudian dilanjutkan oleh Sultan Mesir dan Yaman. Mereka mengembalikan atap Masjid Nabawi sebagaimana pada masa Dinasti Umayyah, yaitu terdiri dari dua lapis: lapis atas dan lapis bawah. Zuhairi menyebut bahwa sosok yang menonjol dalam renovasi tersebut adalah Sultan Dinasti Mamluk, al Malik az-Zahur Ruknuddin Baibars.

Selain itu, ada beberapa nama pemimpin umat Islam lainnya yang ikut berperan dalam merenovasi Masjid Nabawi saat itu. Mereka di antaranya adalah penguasa Mesir: al-Mansur Nuruddin Ali bin al-Muiz Ibuk As-Shalihi, penguasa Yaman: Muzhafar Syamsuddin Yusuf bin al-Manshur. Penguasa Mesir: Zahir Jamqamiq dan Sultan Qaytabay al-Jurkusi al-Mahmudi al-Ashrafi al-Dzahiri. Nama terakhir yang disebut dikenal sebagai sultan dari Dinasti Mamluk yang dermawan. Sebab, ia mengeluarkan biaya yang cukup berarti untuk mengembalikan keanggunan dan kemegahan Masjid Nabawi.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya …

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …