Sunan Kalijaga

Perjalanan Spiritual Sunan Kalijaga dan Falsafah Islam Jawa

Raden Sahid atau lebih populer dengan Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Walisongo yang berhasil menyebarkan agam Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 M. Beliau merupakan anak dari Bupati Tuban yakni Tumenggung Wilatika.

Kakek Sunan Kalijaga adalah Arya Teja, seorang ulama yang behasil mengIslamkan Raja Tuban, Arya Dikara, dan menikahi putri Raja Tuban tersebut. Raden Sahid mengalami tiga fase pemerintahan: yang pertama, masa akhir Majapahit (runtuh 1478 M.), zaman kesultanan Demak (1481-1546 M.), dan kesultanan Pajang (runtuh 1568 M.)

Diusia mudanya, Raden Sahid ternyata pernah menjadi seorang preman yang suka merampas harta orang-orang kaya yang kemudian diberikan kepada fakir miskin. Namun, sikap kepedulian besar terhadap kaum fakir miskin membuatnya tidak tahan melihat penderitaan orang-orang tertindas serta sengsara hidupnya.

Lama-kelamaan tidakan Raden Sahid diketahui oleh ayahnya hingga memancing kemarahan beliau. Maka Raden Sahidpun diusir keluar dari Kadipaten Tuban.

Sampai suatu ketika ditengah perjalanannya, Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang, dan merampas tongkatnya yang berdaun emas. Melihat perilaku Raden sahid membuat Sunan Bonang justru terharu, karena tindakan yang dilakukannya tidak dapat dibenarkan oleh semua pihak.

Akhirnya Sunan Bonangpun menasehati Raden Sahid  tentang tindakan yang dilakukannya. Sunan Bonang mengetahui bahwasanya niat dari Raden Sahit sebenarnya mulia, namun dilakukan dengan cara yang kotor. Ibarat “berwudlu menggunakan air kencing”, ungkap Sunan Bonang.

Raden Sahid akhirnya memutuskan untuk berguru denga Sunan Bonang. Berbekal jiwa yang tangguh, Raden Sahid akhirnya mempelajari banyak ilmu dari Sunan Bonang. Seperti kesenian, kebudayaan masyarakat lokal, yang membuatnya memahami dan menguasai kesusastraan Jawa, pengetahuan falak, serta ilmu pranatamangsa (pembacaan cuaca).

Baca Juga:  Kenapa Allah Memerintah Nabi Musa Berguru kepada Nabi Khidir

Dalam mempelajari ilmu, Beliau tidak menunjukkan sikap antipati terhadap semua aliran atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan Islam, tetapi justru bersikap bijak dan toleran terhadap aliran-aliran kepercayaan tersebut. Sunan Kalijaga merupakan satu-satunya wali yang paham dan mendalami aliran kepercayaan yang ada dalam masyarakat.

Falsafah Jawa dalam Sinar Islam

Dengan sikap tolerannya tersebut, mempermudah Sunan Kalijaga memahami ilmu-ilmu ruhaniah dalam ajaran Islam, sehingga beliaupun diangkat menjadi wali di Tanah Jawa.  Adapun beberapa Falsafah yang banyak diajarkan oleh Sunan Kalijaga yakni:

Pertama, “Urip Iku Urup” atau bisa diartikan dengan Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

Nilai keluhuran dalam falsafah ini menjadi sebuah ajaran yang mendorong kita untuk menjadi manusia sejati. Menjadi manusia yang hidup seutuhnya dan selaras dengan fitrah penciptaannya. Hidup yang seperti ini sangatlah berkaitan erat dengan capaian kebahagiaan dan kedamaian diri kita sendiri.

Kedua,  “Suro Diyo Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti” memiliki arti Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

Dalam berperilaku sebagai insan manusia hendaknya kita mampu mengontrol sifat-sifat negatif seperti yang kita miliki. Karena disadari bahwa sifat tersebut tentunya akan merugikan diri sendiri dan orang lain yang ada di sekitar kita.

Dalam mengontrol sifat-sifat negatif, kita harus terus belajar untuk menyikapi hal-hal dan masalah secara bijak. Menahan hawa nafsu dan bersikap sabar dalam segala hal. Manusia harus menyadari bahwa manusia membutuhkan keselamatan bukan hanya di dunia namun juga diakhirat.

Ketiga, “Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadoyan Lan Kemareman” yang artinya Jangan terobsesi atau terkurung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan kebendaan dan kepuasan duniawi.

Baca Juga:  Fitrah Manusia Pelupa dan Rasul Sang Pengingat

Sebagian manusia pastinya menginginkan jabatan yang tinggi, ingin di segani dan di hormati di berbagai kalangan serta dapat memiliki apapun yang kita inginkan. Namun kita perlu juga sadari bahwa hidup memang tidak hanya persoalan duniawi, masih banyak hal penting yang harus kita jaga. Yaitu hati nurani dan jiwa raga yang mestinya kita siram supaya tidak ternodai oleh nasfu duniawi.

Keempat, “Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman” yang berarti  Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut-kejut, jangan mudah kolokan atau manja.

Ojo Gumunan maksudnya sebagai manusia janganlah kita gampang heran atau gampang kagum akan sesuatu yang baru. Orang yang mudah kagum akan gampang ketipu oleh penampilan luar, mulut manis, dan rayuan gombal.

Ojo Getunan memiliki makna jadi manusia itu jangan mudah menyesal atas kejadian atau kesialan yang menimpa. Karena orang yang mudah menyesal akan cepat murung, mudah tersinggung. Supaya tidak mudak menyesal maka lepaskan dan lupakan yang telah terjadi dan ambil hikmahnya untuk dijadikan pelajaran.

Ojo Kagetan maksudnya jangan gampang terkejutatau gampang stress. Jangan bersikap reaktif atau gegabah dalam menyikapi segala hal yang sensitif yang terjadi di sekeliling kita. Karena jika kita menyelesaikannya dengan sikap reaktif, maka kemungkinan besar kita bertindak berdasarkan emosional dan gegabah.

Ojo Aleman maksudnya jadi manusia itu jangan manja, kolokan dan cengeng. Kita tahu bahwa, tidak ada juara sejati yang bermental cengeng. Belajar menyimpan kesulitan, beban atau kesedihan hidup untuk diri sendiri, bertekad hidup mandiri dan tidak mudah bergantung pada orang lain, selain itu mencoba terima kenyataan apa adanya.

 

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar