Pakaian Islami
Pakaian Islami

Permasalahan Gaya Berpakaian “Islami” yang Tak Kunjung Usai

Islam adalah Agama universal dan moderat (ummatan wasthan). Islam juga dikenal dengan mengajarkan nilai-niali toleransi (tasamuh) yang menjadi salah satu ajaran inti Islam yang sejajar dengan ajaran lain seperti kasih (rahmat), kebijaksanaan (hikmat), dan keadilan (‘adl).  Al-Quran yang menegaskan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-‘Alamin) secara gamblang mengakui kemajemukan keyakinan dan agama.

Ratusan ayat secara eksplisit menyerukan sikap santun toleran terhadap umat agama lain. Tapi, aksi kekerasan dan tindak intoleransi masih kerapkali terjadi. Anehnya, itu diabsahkan dengan dalil ayat-ayat Alquran. Jika dibaca lebih cermat, Al-Quran adalah lumbung ajaran toleransi nan adiluhung. Ia mengajarkan perdamaian, kedamaian, dan ko-eksistensi. Dan sebaliknya, mengecam keras segala bentuk kekerasan dan permusuhan.

Perilaku kasar para laki-laki muslim yang berjanggut dan bergamis telah membentuk persepsi umum tentang siapapun yang berpenampilan semacam itu. Perdebatan soal isu ini pun mengemuka.

Perbedaan Pandangan Mengenai Gaya Berpakaian

Di kalangan Islamis pun terjadi perbedaan pendapat mengenai hal ini. Sebagian menilai penampilan sebagai pilihan pribadi yang dapat berubah seiring dengan perubahan waktu dan gaya. Sebagian lagi menilai penampilan sebagai kriteria penting untuk menilai kadar pemahaman dan perilaku Islam. Sebagian menganggap janggut dan gamis sebagai sunnah, tetapi itu bukan kriteria untuk menilai keberagaman seseorang. Sebagian lain mengaggap janggut sebagai wajib, sedangkan gamis sunnah.

Lawan kelompok Islamis juga memiliki spektrum pandangan berbeda mengenai isu ini. Sebagian mengaggap janggut dan gamis sebagai simbol keterbelakangan yang mesti ditinggalkan dalam rangka bergerak menuju modernitas. Yang lain menganggap penampilan sebagai ranah kebebasan pribadi. Sebagian menilai penampilan itu harus sejalan dengan sikap dan perilakunya. Yang lainnya menilai diskusi soal ini hanya buang-buang waktu.

Baca Juga:  Benarkah Ruh Orang Meninggal Menyambangi Rumahnya Setiap Malam Jum'at?

Kita mesti bersikap kritis terhadap kesalahan yang telah dilakukan. Tidak ada seorang pun yang sempurna dan kebal kritik. Namun, terlalu banyak perhatianmenyita untuk masalah ini dalam konteks membongkar kesalahan kaum Islamis. Ada beberapa komentar dan kritik di media sosial tentang bahasaatau perilaku-kasar orang-orang yang berjanggut dan bergamis.

Terkadang seseorang yang dianggap sebagai syaikh atau ulama “Islamis” telah bersikap tidak pantas. Gelar “Ulama” telah di klaim oleh mereka yang tidak layak menyandangnya. Yang diperlukan sekarang adalah orang-orang perlu bekerja bersama untuk mengambil Kembali gelar tersebut dan memberikannya kepada mereka yang berhak, dan bukan berhenti menggunakan gelar tersebut sama sekali, memang ada beberapa kalangan yang mengeksploitasi kecintaan dan penghormatan umat terkait cara-berbusana Nabi Muhammad Saw. Namun, hal ini tidak boleh menjustifikasi orang-orang untuk merendahkan cara berpakaian seperti ini dan menyerang Syariah.

Permasalahan di Balik Gaya Berpakaian

Secara alamiah, isunya melebar dari soal berpakaian ke ranah rivalitas politik, dan ini merupakan cermin dari nilai-nilai budaya. Di satu sisi sebagian kalangan mendukung kaum Islamis, sebagian mendukung sikap moderat, dan sebagian lagi mendukung sikap ekstrem. Mereka berhasil memanipulasi Agama untuk menghadapi musuh sekuler mereka, dengan cara yang serupa dengan kelompok pembunuh Khalifah ‘Utsman bin Affan demi kepentingan politik mereka. Mereka telah memobilisasi sebagian besar masyarakat di bawah panji “membela Syariah”.

Di sisi lain, ada kelompok yang menyarankan negara sipil, sebagian pendukungnya moderat dan sebagian lain lebih esktrem. Mereka menggunakan berbagai kesalahan musuh mereka untuk memperkuat seruan kepada kemajuan dan perkembangan budaya. Namun, tidaklah jelas apakah mereka bakal berhasil menyelesaikan masalah yang diciptakan oleh pemerintah islamis, atau apakah mereka bakal mengembangkan visi kebudayaan yang memperhitungkan identitas kita dan waktu kita hidup sekarang.

Baca Juga:  Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air, Keluarga Korban Baiknya Membaca Doa Ini

Suara-suara ekstrem sekarang terdengar dari kelompok-kelompok Islamis, yang disulut lebih lanjut oleh beberapa pihak. Kelompok provokator di balik panggung ini berharap mereka kelak bakal tampil di garda depan sebagai kelompok moderat, berdasarkan prinsip bahwa mereka dikenal oleh lawan-lawannya. Mereka sama sekali tidak menyadari fakta bahwa mereka yang mengeksploitasi Agama seperti ini selalu merasakan dampak buruknya.

Ada juga suara-suara ekstremis dikalangan sekuler, tetapi mereka belum bangkit sepenuhnya. Sering terjadi gagal-paham dalam membedakan antara Islam dan perilaku-kasar kelompok islamis. Kalangan sekularis mengekspos perilaku ini untuk mengambil posisi yang lebih ekstrem. Dalam jangka Panjang, hal ini juga akan sama merusaknya terhadap pergerakan mereka, sebagaimana kesalahan kaum islamis terhadap pergerakan mereka sendiri.

Kita katakan kepada kedua kubu untuk mencari-cari apa yang terbaik bagi masyarakat, yang mengalami kebingungan dan ketidakberdayaan. Sikap dan posisi ekstrem mungkin efektif secara politis dalam jangka panjang sungguh berbahaya dan merusak, berhati-hatilah.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar