Pertanyaan yang Berujung Larangan

0
86
pertanyaan berujung larangan

Ada salah satu hadis yang ditulisakan dalam Shahih Al-Bukhori, mengutip dari riwayat Anas bin Malik yang mengisahkan bahwa saat Rasulullah sedang  menyapaikan khutbahnya, tiba-tiba ada beberapa sahabat yang mengajukan pertanyaan “gurauan.” Cerita Anas, mereka ada yang bertanya dimana ayahnya, ada juga yang bertanya kepada Rasulullah mengenai keberadaan untanya yang sedang tersesat.

Pada konteks yang sama, menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah juga memberikan keterangan bahwa saat Rasulullah membacakan wahyu perintah untuk melakukan haji dan umrah, tiba-tiba sebagian sahabat ada yang bertanya, “Apakah diwajibkan setiap tahun sekali?” Saat pertanyaan pertama diajukan, Rasulullah hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun.

Tetapi ketika pertanyaan yang sama itu diulang lagi sampai tiga kali, Rasulullah dengan tegas menjawab, “Seandainya aku jawab, ya, pasti akan dibawajibkan untuk kalian, dan itu berat.” Lalu turunlah ayat dalam surah Al-Maidah ayat 101, “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang kalau diberikan jawaban justru akan memberatkanmu. Namun jika hanya menanyakan Al-Qur’an yang sedang diturunkan, maka akan dijelaskan.

Turunnya ayat itu sebenarnya sebagai bentuk kemurahan yang diberikan oleh Allah kepada umat Muhammad, agar tidak ada perintah yang berat sebagaimana yang diberikan untuk umat-umat sebelumnya. Sekaligus sebagai upaya preventif dapat terhindar dari hukuman Allah yang amat pedih seperti yang terlukis dalam sejarah umat terdahulu.

Kurang sempurnanya umat nabi Shalih yang langsung terkabul saat meminta agar dikeluarkan unta yang subur dari batu di tempat yang sangat tandus dan gersang? Sama dengan umat nabi Isa yang dikabulkan saat minta agar ada makanan lezat yang turun dari langit. Dan sama juga dengan umat nabi Musa yang dikabulkan saat minta untuk dapat melihat Allah dengan jelas.

Baca Juga:  Uni Eropa: Israel Rusak Prospek Perdamaian Palestina

Namun semua itu justru mengantarkan mereka pada siksaan yang sangat berat dan menghinakan. Kaum nabi Isa yang semula disayang oleh Allah, akibat perbuatannya mereka terkena kutukan menjadi Babi dan Kera. Kaum nabi Musa diganjar dengan sembilan jenis bencana yang sangat mematikan. Begitu juga kaum nabi Shalih yang dihujani batu panas mengandung bara api neraka, sehingga mereka pun binasa.

Bagaimana umat Muhammad menyikapi itu? Hipotesa ini yang sepertinya penting untuk diajukan. Karena jika dilihat dari rekam sejarah, Al-Qur’an juga menceritakan banyak keajaiban yang mungkin mustahil didapatkan dari kalangan umat Muhammad. Seperti nabi Isa yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Nabi Musa yang mampu membelah lautan menjadi jalanan. Tapi bagaimana dengan Muhammad?

Satu-satunya jawaban yang tepat adalah dengan modal Al-Qur’an sebagai wahyu yang diwariskan oleh Muhammad kepada kita, keajaiban yang lebih menakjubkan (walau belum tentu sama) akan bisa terwujud. As-Suyuthi dalam Al-Itqan-nya mengungkapkan kemukjizatan Al-Qur’an justru lebih dahsyat dari semua itu. Bahkan tidak hanya menakjubkan dalam jangka waktu yang simultan, tetapi juga permanen. Oleh sebab itu, misi besar Al-Qur’an adalah relevan dimanapun dan kapanpun.

Terkait dengan fenomena “pertanyaan” umat Muhammad, seolah ingin menunjukkan adanya keringanan yang diberikan untuk umat ini tanpa mengurangi kualitas. Dalam Al-Qur’an disebut juga sebagai umat “washatan” yang berada di tengah-tengah. Tidak menerima keberatan sebagaimana umat Musa dan tidak menerima kelonggaran sebagaimana umat Isa.

Wallahu ‘alam

Khoirul Anwar Afa, Dosen PTIQ Jakarta

Tinggalkan Balasan