nabi ibrahim dibakar
nabi ibrahim dibakar

Pertarungan Binatang dalam Kisah Dibakarnya Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim merupakan seorang utusan Allah yang mendapat mukjizat tidak mempan ketika dibakar api. Peristiwa ini bermula kala Nabi Ibrahim pantang menyerah berdakwah di tengah rezim Raja Namrud yang kejam.

Raja Namrud yang kala itu mengaku dirinya sebagai tuhan merasa risau terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Akhirnya, Raja Namrud dan penduduk Urfa merencanakan akan membunuh Nabi Ibrahim, maka penduduk Urfa mengumpulkan kayu bakar dan hal itu berlangsung sangat lama.

Mereka terlebih dahulu membuat sebuah lubang besar, lantas menaruh kayu di dalamnya. Setelah itu Raja Namrud menangkap Nabi Ibrahim dan menceburkannya ke dalam kobaran api yang besar. Atas izin Allah, Nabi Ibrahim diselamatkan dari api yang berkobar besar tersebut, dan membuat api yang membara tersebut berubah menjadi dingin seketika.

Kisah Nabi Ibrahim terabadikan dalam surat Al Anbiyaa ayat 68-69. “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”.

Diriwayatkan dari Minhal bin Amr, Ibrahim tinggal atau berada dalam kobaran api itu selama 40 atau 50 hari. Ternyata di balik kejadian tersebut, ada beberapa spesies hewan yang ikut terlibat di dalamnya. Mereka ialah cicak, semut dan juga burung.

Ternyata di antara hewan-hewan itu ada yang berpihak pada Nabi Ibrahim dan ada juga yang berpihak pada Raja Namrud. Pertama ialah binatang semut dan burung, meski semut tahu bahwa setetes air yang akan dibawanya tidak akan mampu memadamkan api yang telah membakar Nabi Ibrahim dan banyak mendapatkan cacian dari burung gagak, namun cacian itu tak meluluhkan tekad para semut tersebut. Dengan jiwa pantang menyerah mereka terus membawa air tersebut, dan berusaha sebisa mereka untuk membantu.

Baca Juga:  Sambut Tahun Baru Hijriyah 1442 H dengan Puasa Sunnah, Ini Dalilnya

Semut misalnya, ia dengan susah payah berlari ke sana ke mari membawa butiran air dengan mulutnya untuk memadamkan api yang mulai menyelimuti tubuh Nabi Ibrahim. Melihat usaha semut tersebut, seekor burung justru nyinyir dan meragukan apa yang dilakukan semut.

Dengan apa yang dilakukan semut tersebut, Semut itu ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah makhluk yang beriman di hadapan Allah dengan membantu kekasih Allah, yakni Nabi Ibrahim. Si semut ingin melakukan kebaikan sesuai kemampuannya. Tak peduli meski ada yang mencemoohnya, si semut melakukan kebaikan dengan niat tulus karena ingin dinilai Allah bukan oleh makhluknya. Oleh sebab itu si semut tak mundur meski dicemooh oleh si burung gagak.

Kedua, cicak yang ternyata dengan gamblang berada di pihak Raja Namrud dan berusaha membuat api yang membakar Nabi Ibrahim semakin membesar. Apa yang dilakukan cicak ini dikatakan dalam sebuah hadist, “Dahulu, cicaklah yang meniup dan memperbesar kobaran api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muslim).

Dilihat dari hadist tersebut memperlihatkan bahwa cicak merupakan hewan yang fasik. Atas tindakan tidak terpuji dari cicak tersebut, maka kalangan para ulama menyatakan bahwa membunuh cicak hukumnya adalah sunah.

Ternyata selain tindakan tidak terpuji tersebut, cicak juga dianggap merugikan karena membawa banyak bakteri berbahaya dalam tubuhnya. Imam Nawawi menyebutkan bahwa cicak tergolong hewan yang fasiq karena ia merupakan hewan yang memberikan dampak negatif dan termasuk hewan yang mengganggu.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang membunuh seekor cicak dengan satu pukulan dicatat baginya seratus kebaikan, dalam dua pukulan pahalanya kurang dari itu, dalam tiga pukulan pahalanya kurang dari itu.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa anjuran membunuh jenis cicak dalam hadits di atas karena sang cicak mampu menularkan penyakit. Maka, Rasulullahpun akhirnya memberikan anjuran untuk membunuh cicak hanya dengan satu pukulan, karena semakin cepat dibunuh, maka akan semakin membuat diri kita aman dari penyakit.

Baca Juga:  Fenomena Tarawih Kilat, Bagaimana Sebenarnya Tarawih Rasulullah

Disebutkan Badruddin Al-Aini dalam Umdatul Qari, “Cicak tersebut terdapat zat yang dapat menimbulkan penyakit kusta,” (Lihat Badruddin Al-Aini, Umdatul Qari Syarah Sahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya Turats, tanpa tahun, juz XV, halaman 250).

Dalam keterangan di atas terlihat bahwa cicak membawa penyakit kusta yang terdapat dalam tubuhnya. Jika meninjau segi alasannya, harusnya kontruksi yang dibangun untuk membunuh cicak adalah karena hewan itu membahayakan kita, bukan karena yang lain, apalagi karena dendam atas Nabi Ibrahim. Alasan ini sungguh tidak nyambung dan tidak logis.

Bagikan Artikel ini:

About Ernawati

Avatar of Ernawati

Check Also

jangan biasakan berbohong

Jangan Biasakan Berbohong dari Hal Kecil

Salah satu sikap yang tidak terpuji yang menjadi penyebab kerusakan adalah berbohong. Berbohong merupakan pangkal …

niat senin kamis

Rahasia Puasa Senin Kamis yang Perlu Anda Ketahui

 “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku …