pesantren klasik
pesantren klasik

Pesantren, Kitab Epos Nusantara dan Kepemimpinan Indonesia

Di dalam kitab epos nusantara, diterangkan bahwa ada delapan unsur alam yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam menjalankan amanahnya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Pertama, Bumi, artinya  sikap pemimpin bangsa harus meniru watak bumi atau momot-mengku. Bagi orang Jawa, bumi adalah wadah untuk apa saja, baik ataupun buruk, yang diolahnya agak bisa berguna bagi kehidupan manusia.

Hal ini memiliki relevansi dengan pesantren sebagai lembaga yang berhasil menyemai generasi bangsa Indonesia menjadi generasi unggul dalam berbagai bidang. Pesantren mengedepankan humanisme. Ini merupakan cerminan yang nyata bahwa pesantren merupakan lahan subur bagi setiap generasi bangsa untuk menanamkan kebaikan dan budi luhur. Maka tidak ayal, jika pesantren tidak pernah memandang latar belakang seseorang dalam belajar. Dari anak konglomerat hingga anak orang miskin tetap bisa belajar di pesantren. Selain mengedepankan prinsip kesederhanaan, pesantren selalu memperlakukan santrinya sebagai manusia yang musti dimanusiakan.

Pesantren merupakan cerminan Indonesia raya yang sesungguhnya, karena di dalamnya didatangi oleh seorang penuntut ilmu dari berbagai daerah di seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri. Ini membuktikan bahwa pesantren menjadi inkubator generasi yang siap pakai di tengah-tengah tantangan masyarakat yang semakin kompleks. Apalagi ditopang dengan ciri khas dan karakter pesantren yang berbeda: ada pesantren yang berciri khas tradisional, modern hingga konvergensi.

Kedua, Air artinya jujur, bersih, berwibawa, obat dahaga, lahir maupun dahaga akan ilmu pengetahuan serta kesejahteraan. Pesantren telah mengajarkan generasi bangsa tidak hanya cakap dalam intelektual tetapi kaya dengan spiritual. Keseimbangan ini menjadi salah satu kunci pesantren hingga kini menjadi obat dahaga dari kekeringan dan krisis moral bangsa yang semakin mengikis generasi muda.

Baca Juga:  Semarak Ramadan : Memilah Tradisi dan Ajaran Syar’i

Ketiga, Api artinya seorang pemimpin haruslah pemberi semangat terhadap rakyatnya, pemberi kekuatan, serta penghukum yang adil dan tegas. Dalam dunia pesantren ada seperangkat aturan dan sistem yang harus ditaati bersama oleh generasi bangsa. Pengurus pesantren diajari bagaimana menjadi sosok yang memberikan semangat dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di pesantren. Jika ada yang melanggar, maka pengurus pesantren akan memberikan takzir (hukuman) sehingga dalam hal ini generasi muda telah diajari tentang ketegasan terhadap aturan yang telah disepakati bersama. Dengan adanya hukuman tersebut, maka generasi bangsa esensinya dipersiapkan mentalnya dalam menghadapi segala bentuk  tantangan masa depan yang menegangkan.

Keempat, Angin; artinya menghidupi dan menciptakan rasa sejuk bagi rakyatnya, selalu memperhatikan celah-celah di tempat serumit apapun. Bisa sangat lembut, bersahaja, dan luwes, tapi juga bisa keras melebihi batas dan selalu meladeni alam. Di dunia pesantren, ada beberapa aturan yang bisa ditoleransi dengan hukuman ringan. Akan tetapi, ada juga beberapa aturan yang jika dilanggar maka akan dikeluarkan dari pesantren secara tidak terhormat. Selain itu, beberapa ciri khas pesantren yang berbeda di negara Indonesia merupakan bentuk pandangan revolusioner pesantren dalam menghadapi tantangan zaman.

Kelima, surya artinya pemberi panas, pengatur waktu, serta penerang dan sebagai energi, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya surya atau matahari. Pesantren telah berhasil mencetak sosok sosok generasi bangsa yang disiplin sejak di pesantren. Energi kedisiplinan yang diajarkan di pesantren setidaknya menjadi  sinyal-sinyal kuat dalam membentuk generasi bangsa yang tangguh dan tidak mudah melakukan tindakan koruptor sekecil apapun. Jika menilik dalam sejarah, Indonesia sangat bersyukur memiliki pesantren dengan cahaya yang dipancarkan dalam usaha-usaha kemerdekaan melalui peran seorang kiai dan santri yang hingga kini jasanya tidak pernah dilupakan sebagai perjuangan membela tanah air.

Baca Juga:  Pesantren di Tengah Kondisi Covid-19

Keenam, Rembulan;  memiliki makna pemberi kedamaian dan kebahagiaan, penuh kasih sayang dan berwibawa, tapi juga cenderung mencekam dan seram : tidak mengancam tapi disegani. Streotip santri di tengah-tengah masyarakat masih dipercaya sebagai sosok yang multifungsi dalam mengatasi segala problema kehidupan. Iklim belajar di Pesantren menunjukkan kedamaian yang tidak terhingga. Syair-syair karangan para ulama yang disenandungkan setiap waktu begitu tentram dan mendamaikan hati orang yang mendengarnya. Dunia pesantren menjadi penerang arah bangsa dalam setiap kebijakan berbudaya, berbangsa dan bernegara.

Ketujuh, Lintang; berarti pemberi harapan baik kepada rakyatnya hingga setinggi bintang di langit, tapi rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri serta mengakui kelebihan-kelebihan orang lain. Santri-santri yang telah ditempa di pesantren diharapkan menjadi pemimpin yang berpengaruh di tengah masyarakatnya. Karena esensinya santri merupakan seorang yang berjihad dalam menegakkan agama Allah ketika akan pulang dari masyarakatnya. Santri adalah munzirul qaum yaitu sosok pemimpin yang bisa mengajak masyarakat ke arah yang lebih bermartabat melalui strategi dakwah wali songo yang senantiasa diwariskan hingga ke masuk ke pelosok-pelosok desa.

Kedelapan, Mendung; artinya pemberi perlindungan dan payung, tidak berpandangan sempit, banyak pengetahuan tentang hidup dan kehidupan, tidak mudah menerima laporan asal membuat senang. Dan suka memberi hadiah bagi yang berprestasi serta menghukum dengan adil bagi pelanggar hukum. Perlindungan kaum santri dalam menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk payung dalam menjaga keutuhan negara Indonesia. Keterlibatan para ulama dalam merumuskan sila pancasila juga menunjukkan bahwa orang-orang pesantren tidak berpandangan sempit, kuno dan lain sebagainya. Mengganti sila pertama dengan ketuhanan yang maha esa adalah sikap bijaksana orang-orang pesantren yang berpandangan luar dan memikirkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, tanpa adanya pertikaian, penuh dengan kesejukan dan toleransi.

Baca Juga:  Surau di Minangkabau: Sejarah dan Kontribusinya dalam Penyebaran Islam

Dari kedelapan unsur yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin bisa disemai dan dipupuk melalui pendidikan di Pesantren. Sudah selayaknya pemimpin bangsa hari ini adalah orang-orang yang paham terhadap pola hidup di pesantren yang sangat kental dengan nilai-nilai budaya dari para leluhur bangsa yang telah bersusah payah berjuang dan mempertahankan bangsa Indonesia dari gempuran orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Pesantren adalah warisan yang senantiasa harus dijaga selama nyawa masih dikandung badan. Karena melalui wadah ini, pemimpin yang sesungguhnya lahir dan direstui oleh alam Indonesia.

 

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Warist

Avatar of Abdul Warist
Penulis lepas, Mahasiswa Pascasarjana Studi Pendidikan Kepesantrenan, Instika,Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Check Also

mushalla

Membumikan Nilai-Nilai Moderasi dari Surau, Menolak Radikalisme Sejak Dini

Kuntowijoyo memberikan legitimasi bahwa Madura adalah pulau seribu pesantren. Tak ayal, jika Kuntowijoyo menyebut Madura …

menteri pendidikan khilafatul muslimin

Mewaspadai Infiltrasi ideologi Khilafah di Dunia Pendidikan

Kasus khilafah di negara Indonesia kembali mencuat ke permukaan hari ini. Tentu hal ini disebabkan …