Upacara Dugderan
Tradisi Dugderan di Semarang

Masuknya Islam di Jawa tidak membentuk komunitas baru yang berbeda dari masyarakat sebelumnya. Islam justru masuk ke dalam struktur budaya Jawa dan mengadakan infiltrasi ajaran-ajaran kejawen dengan nuansa islami.

Contohnya dalam pementasan wayang, yang sering disimbolkan dengan perjalanan hidup manusia dalam menghadapi Tuhannya. Lakon-lakon yang ditampilkan merupakan ajaran-ajaran Islam untuk membawa penonton dalam nuansa religius. Oleh karena itu wayang dianggap sebagai bagian dari acara religius untuk mengajarkan ajaran-ajaran Ilahi. Seorang dalang dipersonifikasikan sebagai Tuhan yang dapat memainkan peran dan nasib orang (wayang). Pelukisan ini ditafsirkan secara ortodoks sebagai diskripsi puitis mengenai takdir.

Karakteristik yang menonjol dari budaya Jawa adalah keraton sentris yang masih lengket dengan tradisi animisme-dinamisme. Ciri yang menonjol lain dari budaya Jawa adalah penuh dengan simbol-simbol atau lambang sebagai bentuk ungkapan dari ide yang abstrak sehingga menjadi konkrit. Karena yang ada hanya bahasa simbolik, maka segala sesuatunya tidak jelas sebab pemaknaan simbol-simbol tersebut bersifat interpretatif. Di samping itu, tampilan keagamaan yang tampak dipermukaan adalah pemahaman keagamaan yang bercorak mistis.

Lahirnya berbagai ritual yang memiliki nilai produk budaya lokal namun memiliki muatan material yang bernuansa religius Islam adalah sesuatu yang wajar dan sah. Syaratnya, akulturasi tersebut tidak menghilangkan nilai fundamental dari ajaran agama. Islam sebagai salah satu agama yang hadir di Jawa juga terlibat dalam pergumulan dengan budaya lokal Jawa, oleh karenanya tampilan Islam di Jawa memiliki tampilan yang berbeda dengan tampilan di daerah lain (Sutiyono, 2014).

Dua pendekatan

Dalam proses penyebaran Islam di Jawa menggunakan dua pendekatan, yaitu Islamisasi kultur Jawa dan jawanisasi Islam. Islamisasi kultur Jawa yaitu proses pemasukan unsur-unsur Islam dalam budaya Jawa baik secara formal maupun substansial. Pendekatan yang kedua yaitu jawanisasi Islam. Jawanisasi Islam yaitu pemasukkan nilai-nilai budaya Jawa ke dalam ajaran-ajaran Islam.

Melalui pendekatan yang pertama atau Islamisasi jawa, budaya Jawa diupayakan agar tampak bercorak Islam, baik secara formal maupun substansial. Hal ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah Islam, nama-nama Islam, pengambilan peran tokoh Islam pada berbagai cerita lama, sampai pada penerapan hukum-hukum, norma-norma Islam dalam berbagai aspek kehidupan (Amin, 2000).

Sebagai contoh yaitu upacara dugderan yang diadakan masyarakat Semarang. Upacara ini merupakan upacara bernuansa Islami yang diadakan setiap satu hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Kata “dugder” diambil dari perpaduan bunyi bedug “dug” dan bunyi meriam “der”. Acara ini berlangsung di sekitar masjid kauman. Ciri khas dalam upacara ini yaitu ditampilkannya warak ngendok, sejenis binatang rekaan bertubuh kambing dan berkepala naga, berkulit seperti bersisik dan dibuat dari kertas warna-warni.

Sedangkan dalam pendekatan yang kedua merupakan upaya penginternalisasian nilai-nilai Islam melalui cara penyusupan ke dalam budaya Jawa. Melalui cara pertama, Islamisasi dimulai dari aspek formal terlebih dahulu sehingga simbol keIslaman nampak secara nyata dalam budaya Jawa. Sedangkan pada cara kedua, meskipun istilah-istilah dan nama-nama Jawa tetap dipakai, tetapi nilai yang dikandungnya adalah nilai-nilai Islam sehingga Islam men-Jawa.

Bodo Kupat merupakan salah satu ibtida’ jawanisasi Islam. Bodo kupat merupakan wujud kesadaran manusia yang memiliki banyak dosa. Dalam bodo kupat makanan berbentuk kupat dan lepet. Kupat berasal dari kata kulo lepat (aku bersalah) dan lepet berarti lepat nutup rapet (menutup kesalahan dengan sungguh-sungguh). Dua makanan itu dibungkus dengan janur/ja’a nurun (telah datang cahaya Islam) yang di rebus lama (Chamami, 2015). Demikian sebagai wujud bahwa orang bersalah itu harus dipanasi lama agar matang dan hilang dosanya.