manfaat membaca al-quran
al-quran

Potret Sejarah Masuknya Qira’at Hafs di Indonesia

Tulisan ini mengkaji tentang qira’at riwayat hafs. Pada mulanya Nabi saw mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada para sahabatnya, dan seperti itu pula diajarkan sahabat kepada tabi’in dan demikian seterusnya sampai kepada generasi-generasi berikutnya. Pada perkembangan selanjutnya, di sekitar abad ketiga hijriyah muncullah istilah tujuh versi qira’at yang dinisbahkan kepada tujuh imam qira’at. Yang kemudian dikenal dengan sebutan qira’at sab’ah yang sampai saat ini populer dan dilestarikan serta dinilai mutawatir.

Dari berbagai versi bacaan yang populer tersebut, satu bacaan yang paling banyak digunakan umat Islam termasuk di Indonesia, yaitu versi qira’at ‘Asim riwayat Hafs. Dan versi qira’at itu pula yang saat ini diformulasikan dalam kitab suci al-Quran yang beredar dan digunakan oleh umat Islam pada umumnya.

Pengertian Qira’at

Secara etimologi, kata qira’ah mempunyai beberapa pengertian sebagai berikut: Pertama, menghimpun atau mengumpulkan (al-jam’u wa al-dammu), yaitu menghimpun dan mengumpulkan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Dan secara terminologi terdapat beberapa definisi qira’at yang disampaikan oleh para ulama. Beragamnya definisi ini mengingat luasnya cakupan makna yang terkandung dalamqira’at, diantaranya definisi yang disampaikan oleh Manna’ Khalil al-Qattan bahwa qira’at adalah sistem pengucapan lafaz al-Qur’an yang dianut oleh seorang imam qira’at yang berbeda dengan sistem lainnya.

Senada dengan definisi al-Qattan, Muhammad ‘Ali al-Sabuni menyebutkan bahwa qira’at merupakan mazhab tentang pengucapan lafaz al-Qur’an yang dianut oleh seorang imam qira’at yang berbeda dengan mazhab lainnya dengan berlandaskan pada sanad. Sedangkan al-Zarkashi (w. 794 H) mendefinisikan qira’at dengan perbedaan beberapa lafaz wahyu (al-Qur’an) dalam hal penulisan huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut seperti takhfif (tipis), tafkhim (tebal), dan lainnya.

Biografi Imam Hafs

Nama lengkap beliau adalah Hafs bin Sulaiman bin Mughirah al-Asadi al-Bazzaz al-Ghadiri al-Kufi. Kunyahnya adalah Abu ‘Umar. Imam Hafs juga dikenal dengan nama Hufais. Beliau dibesarkan dan lahir di Kufah pada tahun 90 H, kemudian pindah ke Baghdad dan tinggal di Suwaiqah Nasr. Setelahnya dari Baghdad, beliau melanjutkan perjalanannya menuju Makkah dan menetap di sana dalam kurun waktu yang cukup lama untuk mengajarkan al-Qur’an.

Dari segi sanad, transmisi sanad yang dimiliki imam Syu’bah berbeda dengan sanad yang dimiliki imam Hafs, meskipun riwayat keduanya berasal dari guru yang sama, yaitu al-Najud. Transmisi sanad imam Syu’bah bermuara kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, sedangkan transmisi sanad yang dimiliki imam Ali bin Abi Talib.

Sebagai seorang ulama’ ahli qira’at yang masyhur, banyak sekali apresiasi yang disampaikan oleh para ulama’ kepada beliau atas dedikasinya terhadap al-Qur’an dan qira’atnya. Dalam suatu riwayat, al-Munawi menyatakan bahwa imam Hafs membaca al-Qur’an kepada imam ‘Abu al-Baghdadi, para ulama’ terdahulu menilai imam Hafs sebagai orang yang hafal qira’at melebihi imam Syu’bah, dan orang yang tepat dalam mengucapkan huruf yang diajarkan oleh imam ‘Abu Hisham al-Rifa’i juga menyatakan bahwa imam Hafs adalah murid imam Ashim yang paling mengerti qira’at imam Ashim.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Yahya bin Ma’in bahwa riwayat yang paling shahih dari qira’at imam ‘Ashim. Dalam kesempatan lain, Yahya bin Ma’in juga menyatakan bahwa Hafs bin Sulaiman dan Abu Bakr bin ‘Ayyash, keduanya adalah perawi yang paling menguasai qira’at imam ‘Ashim.

Begitu pula yang disampaikan oleh al-Dhahabi bahwa imam Hafs adalah imam qira’at Kufah yang tsiqqah (terpercaya), dan orang yang tepat (dhabt). Apresiasi tinggi yang disampaikan oleh para ulama’ terhadap riwayat imam Hafs di atas bukan berarti menafikan kredibilitas imam Syu’bah sebagai perawi qira’at. Keunggulan riwayat yang dimiliki imam Hafs dalam beberapa aspek sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh para ulama’ di atas, barangkali disebabkan karena imam Hafs belajar qira’at dengan sangat intens kepada imam ‘Ashim yang mana merupakan ayah tirinya.

Sejarah Masuknya Bacaan Al-Qur’an Riwayat Hafs ke Indonesia

Pada umumnya masyarakat Islam Indonesia saat ini membaca Al-Qur’an merujuk kepada bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah, walaupun hasil dari riset, mereka tidak mengetahui rujukan pasti bacaan tersebut. Memang tidak mudah untuk mengungkap secara pasti tentang masuknya bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah di Indonesia. Akan tetapi, kalau ditelusuri melalui matarantai sanad bacaan Al-Qur’an, maka dapat diketahui paling tidak pada generasi ulama Al-Qur’an yang mempunyai sanad bacaan Al-Qur’an tersebut yang bersambung sampai Rasulullah Muhammad Saw.

Dari matarantai sanad bacaan Al-Qur’an Muhsin Salim dapat diketahui bahwa beliau pada tahun 1972 belajar langsung kepada Syekh Abdul Qadir Abdul Azhim Abdul Barri dan Syekh Sa’id Sayyid Syarif keduanya dari Mesir di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Beliau belajar kepada guru besar tersebut, bukan hanya satu riwayat (Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah) saja, melainkan belajar ilmu qira’at tujuh dan sepuluh sekaligus sanadnya secara tertulis dan ilmu naghampada Syekh Abdul Qadir Abdul Azhim Abdul Barri dan ilmu qira’at tujuh dan ilmu nagham pada Syekh Sa’id Sayyid Syarif. Dan dari kedua syekh tersebut Muhsin Salim mendapat sanad qira’at tujuh dan sepuluh, baik thariq asy-Syathibiyyah, thariq asy-Syathibiyyah wa ad-Durah, serta thariq thayyibah an-Nashr.

Penjelasan ini memberikan informasi bahwa secara konperhensip beliau belajar langsung ilmu qira’at tujuh dan sepuluh pada tahun 1972 kepada guru besar yang mempunyai sanad bacaan Al-Qur’an yang berlangsung sampai Rasulullah Muhammad Saw, dan pada masa kecilnya beliau belajar Al-Qur’an langsung kepada ayahandanya, yaitu Tuan Guru Muahammad Salim mulai pada usia 4 tahun. Kemungkinan besar pada saat beliau masih kecil belajar Al-Qur’an kepada ayahandanya berdasarkan riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah, karena pada umumnya masyarakat Indonesia dari dulu sampai saat ini bacaan Al-Qur’annya merujuk kepada bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim, walaupun secara keilmuan pada umumnya masyarakat Indonesia belum memahami dengan baik, hanya terbatas pada para santri yang belajar di Pondok Pesantren Al-Qur’an.

Dari matarantai sanad bacaan Al-Qur’an, Ahmad Fathoni dapat diketahui bahwa ketika beliau lulus SMA tahun 1969, ia juga lulus MAAIN. Setamat SMA, bukan melanjutkan ke Perguruan Tinggi, akan tetapi berangkat ke Pesantren Krapyak Yogyakarta untuk menghafal AlQur’an pada Kiai Haji Ahmad Munawwir yang mempunyai sanad ke-30 dari Rasulullah Saw. Setelah selesai menghafal Al-Qur’an, beliau melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (1973 -1976) dan pada 1976 beliau melanjutkan kuliah pada Fakultas Al-Qur’an wa ad-Dirasah al-Islamiyah di Madinah Saudi Arabia.

Informasi ini memberikan penjelasan bahwa bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah melalui Ahmad Fathoni diketahui tahun 1969, yang berarti pula generasi sebelumnya, sudah mendapatkan riwayat tersebut. Pada tanggal 6 juni 1942 M, bertepatan dengan hari jum’at M. Munawwir menghembuskan nafas terakhir setelah lama menderita sakit, setelah selama 33 tahun M. Munawwir mengasuh dan mengajar santrinya dengan penuh kesabaran dan bertawakal kepada Allah Swt. Hal ini memberikan informasi bahwa sekitar tahun 1909 Munawwir sudah mulai merintis mengajarkan Al-Qur’an pada santrinya, yang secara langsung beliau juga termasuk yang membawa bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah ke Indonesia.

Embrio kelahiran Madrasatul Qur’an sebenarnya sudah ada sejak masa Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim punya keinginan besar untuk mendirikan lembaga pendidikan Al-Qur’an. Beliau sangat mencintai orang yang hafal Al-Qur’an (hafidz). Konon, pada Bulan Ramadhan tahun 1923, para santri Tebuireng telah secara bergiliran menjadi imam salat tarawih dengan bacaan Al-Qur’an bil-hifdzi (dihafalkan) sampai khatam. Sayangnya, sistem hafalan Al-Qur’an di Tebuireng saat itu belum terorganisasi dengan baik karena belum ada lembaga khusus yang menanganinya. Kondisi ini terus berlangsung sampai masa kepemimpinan Kiai Kholik Hasyim. Kemudian pada masa kepemimpinan Pak Ud, tepatnya tahun 1971, rencana pendirian lembaga pendidikan Al-Qur’an dimatangkan. Ada 9 orang kiai yang dilibatkan dalam rencana tersebut. Hasilnya, pada tanggal 27 Syawal 1319 H., atau 15 Desember 1971 M, lembaga itu secara resmi berdiri dengan nama Madrasatul Huffadz.

Informasi ini memberikan penjelasan bahwa masuknya bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah yang dibawa oleh Hasyim Asy‘ari jauh sebelum tahun 1923 M, karena beliau cukup lama belajar memperdalam ajaran Islam, termasuk belajar Al-Qur’an di Makkah al-Mukarramah. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad pada tanggal 15 November 1911 M mendirikan Pondok Pesantren Al-Munawwir yang bercirikan khas alQur’an. Yang berarti dalam penyebaran bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah lebih dulu dibandingkan dengan yang dikembangkan oleh Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang Jawa Timur. Demikian pula dengan Pondok Pesantren Al-Qur’an yang didirikan Arwani Qudus, karena hal ini ditemukan data bahwa silisilah sanad Arwani Qudus berasal dari Muahmmad Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Dan dalam silsilah sanad tersebut Muhammad Munawwir berasal dari Syekh Yusuf Hajar adDimyᾱthi yang belum diketahui secara pasti beliau berasal dari negeri mana, karena sulitnya mencari informasi. Akan tetapi, dengan adanya informasi ini berarti yang membawa dan menyebarkan bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah, Muhammad Munawwir yang pertama kali. Atau dengan bahasa lain, untuk semnetara wakru sambil mencari data, bahwa Pondok Pesantren Al-Qur’an yang tertua di Indonesia adalah Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Beberapa penjelasan di atas, memberikan keterangan bahwa kemungkin besar sejarah masuknya bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah ke Indonesia dibawa oleh para ulama Indonesia yang memperdalam ajaran Islam di Makkah al-Mukarrah khususnya. Akan tetapi, secara pastinya agak sulit mengetahuinya, karena belum ada literatur yang memberikan keterangan yang jelas, tentang masuknya bacaan Al-Qur’an riwayat Hafs ‘an ‘Ashim thariq asy-Syathibiyyah ke Indonesia.

 

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

self management

4 Solusi untuk Menghilangkan Kesedihan dalam Islam

Sedih merupakan bagian dari fitrah manusia. Tak satu pun manusia bisa lepas dari kesedihan, termasuk …

gus mus

Telaah Makna Puisi “Selamat Tahun Baru Kawan” Karya Mustofa Bisri

Nama KH. Mustofa Bisri bukan nama baru. Namanya sudah melanglang buana. Karyanya diakui karena sarat …

escortescort