lingkungan hidup dalam al quran
lingkungan hidup dalam al quran

Prinsip Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Al-Qur’an

Kelestarian lingkungan dalam hidup umat manusia memiliki peran yang besar bagi kelangsungan hidupnya, karena itulah alam dan manusia saling membutuhkan. Kebutuhan sandang, papan, dan pangan berasal dari alam sekitar. Manusia juga, sebagai makhluk-Nya, bergantung pada bahan-bahan yang disediakan dan tersedia dalam ekosistem kehidupan. Maka, ketika perilaku destruktif umat manusia dibiarkan merajalela di abad teknologis dan modernis seperti sekarang ini, kelestarian alam akan terancam sehingga diperlukan upaya pencegahan (preventif). Oleh karena itu, dakwah lingkungan berwawasan Qur’ani yang secara konseptual diambil dengan metode pendekatan instinbath penulis pikir perlu dikaji untuk memperkaya khazanah teoritis dakwah berwawasan lingkungan (perspektif ekologis).

Al-Qur’an, sebagai kitab petunjuk (hudan li alnaas), diturunkan Allah ke muka bumi untuk menanggulangi kesengkarutan tatanan kehidupan umat manusia. Pelestarian, pemeliharaan, dan pengelolaan lingkungan hidup dari segala bentuk pengrusakan merupakan pesan dakwah yang disampaikan Tuhan melalui sejumlah ayat Al-Quran. Dengan demikian, ketika berhadapan dengan persoalan kerusakan lingkungan di muka bumi, Al-Qur’an dapat dijadikan rujukan merancang bagaimana seharusnya umat manusia memperlakukan lingkungan sesuai substansi yang tersirat maupun tersurat dalam ayat qauliyah maupun ayat kauniyah yang diturunkan Allah Swt.

Paradigma Lingkungan Hidup dalam Al-Qur’an

Pandangan manusia terhadap lingkungan (ekosistem) dapat dibedakan pada dua cara pandang, yakni pandangan yang bersifat imanen (holistik) dan pandangan bersifat transenden. Dalam perspektif imanen atau holistik, posisi alam meskipun terpisah dengan manusia, namun memiliki relasi fungsional dengan faktor biofisik (hewan, tumbuhan, sungai, laut dan gunung) sehingga membentuk kesatuan sosiobiofisik. Sedangkan bagi manusia yang berpandangan transenden, menempatkan lingkungan berada pada posisi yang jauh, meskipun menyadari bahwa alam dan manusia berhubungan erat, sehingga manusia merasa terpisah dari lingkungannya. Bagi manusia seperti ini, lingkungan atau alam sekitar hanya dianggap sebagai sumber daya alam yang bebas dieksploitasi demi kepentingan umat manusia.

Jika kita amati, dewasa ini projek pembangunan telah tertutupi gagasan-gagasan kultural, sainstifik, dan teknologi yang membahayakan lingkungan. Hal ini akibat penjamahan ilmu pengetahuan modern yang parahnya dibangun atas dasar kekuasaan dan dominasi manusia atas alam, dan teknologi yang mencabik dunia alam tanpa mempertimbangkan hak keseimbangan alam.

Dalam visi perenialisme Sayyed Hossein Nasr, krisis lingkungan adalah refleksi krisis spiritual paling dalam umat manusia. Karena kemenangan humanisme yang memutlakkan si manusia bumi, alam, dan lingkungan dijamah atas nama hak-hak manusia. Baginya jika pandangan tradisional Islam tentang alam dan lingkungan tidak ditegaskan kembali, krisis mengerikan ini tidak mungkin teratasi. Allah Swt. mengenalkan diri-Nya kepada manusia melalui ayat-ayat-Nya, baik ayat yang tersurat yakni al-Qur`an (ayat al-qur`aniyah), maupun melalui ayat yang tersirat yakni alam jagat raya (ayat al-kauniyah).

Baca Juga:  Kenapa Urusan Toa Masjid Mesti Diatur? Lihat Negara Muslim Lainya

Melalui ayat-ayat al-Qur`an, Allah Swt. memaparkan sifat-sifat-Nya, dimulai dengan sifat al-Rahman al-Rahim sampai sifat al-Malik, al-‘Aziz, al-Jabbar, dan seterusnya yang kemudian dikenal dengan sebutan al-asma` al-husna. sifat atau nama-nama yang agung nan indah. Sedangkan melaui apa yang tanpak (mawjudat) dengan segala penomena yang terjadi dalam keserasian dan keseimbangan alam jagat raya ini manusia oleh al-Qur`an diajak untuk merenung, tafakkur, dan tadabbur serta meriset dan menelitinya melalui potensi akal dan daya nalarnya, agar menyadari adanya sesuatu yang Maha Muthlaq, Khaliq sebagai Pengatur dan Pengurus alam semesta ini, dan kepada Dia lah segalanya tempat Kembali.

Di dalam Al-Qur’an sangat jelas berbicara tentang hal tersebut. Sikap ramah lingkungan yang diajarkan agama Islam kepada manusia yang dipesankan al-Quran, di antaranya dapat dilihat sebagai berikut,

Pertama, Agar Manusia Menjadi Pelaku Aktif Mengelola Lingkungan

Allah berfirman dalam al-Quran Surah Ar-Ruum: 9:

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. Ar-Ruum: 9).

Kedua, Agar Manusia Tidak Berbuat Kerusakan Terhadap Lingkungan

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Baca Juga:  Benarkah Ulama yang Dekat Penguasa Ulama Su’u?

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashshash: 77).

Ketiga, Agar Manusia Selalu Membiasakan Diri Bersikap Ramah Terhadap Lingkungan

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Huud: 117).

 

Prinsip-Prinsip  Menjaga Lingkungan Hidup

Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaanNya. Karena itu, Nabi Muhammad Saw. melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad Saw. juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun tidak bernyawa.

Al-Qur’an tidak mengenal istilah “penaklukan alam” karena secara tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa yang menaklukan alam untuk manusia adalah Allah. Secara tegas pula seorang muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali dengan penundukan Allah. Prinsip-prinsip lingkungan hidup berupaya menyadarkan manusia yang beriman supaya menginsafi bahwa masalah lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab manusia yang beriman dan amanat yang diembannyauntuk memelihara dan melindungi alam yang dikaruniakan Sang Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang sebagai hunian tempat manusia dalam menjalani hidup di bumi ini.

Landasan prinsip dasar kehidupan manusia, yang menjadi landasan kemaslahatan bagi manusia itu (alkulliyat al-khams) di antaranya adalah menyangkut pangkal dan penyebab kehidupan manusia itu sendiri, yaitu perlindungan jiwa, raga, dan kehormatan manusia atau hifdh al-nafs. Empat prinsip dasar yang lain adalah hifdh al-aql (perlindungan akal), hifdh al-mal (perlindungan harta kekayaan), hifdh al-nasb (perlindungan keturunan), dan hifdh al-din (perlindungan agama). Kelima prinsip hidup tersebut dapat terlaksana sesuai harapan apabila setiap manusia menjaga dan memelihara alam sekitar. Karena kalau tidak, segala efek samping yang bersifat negatif akan menimpa manusia akibat kerusakan lingkungan.

Baca Juga:  Gagal Paham Masjid Ditutup karena PPKM Darurat, Ini Dalilnya

Melampaui “takaran” ketika mengelola alam sekitar, berarti mengambil lebih dari yang semestinya, atau dalam bahasa lain mengeksploitasi secara berlebihan. Kalau hal ini terjadi, mengindikasikan kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia, ketamakan, kerasukan, keserakahan, dan hal itulah yang akan mendatangkan bencana di muka bumi disebabkan kerusakan ekosistem karena tidak berjalan seimbang (equilibrium).

Agar mempunyai wawasan tentang pemahaman Islam sebagai sistem nilai, diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang memadai ikhwal keyakinan dan pandangan dasar al-Qur`an mengenai pandangan terhadap alam sekitar. Tujuan utama diturunkannya alQur`an untuk mempengaruhi, mengarahkan dan memberi pedoman bagi tingkah laku manusia, penjelasan serta mempertegas antara haq atau kebenaran yang perlu ditempuh dan ke-bathil-an yang harus dihindari. Khithab utama al-Qur`an adalah manusia, sehingga tema sentral yang dibicarakannya secara garis besarnya menyangkut tiga dimensi hubungan manusia, yakni:  Allah atau Tuhan (Khaliq sebagai hubungan vertikalnya), manusia dan alam semesta (sebagai sesama makhluq dan hubungan horizontalnya). Oleh karena itu, merusak alam berarti merusak salah satu bentuk hubungan dengan Allah (hablu minallah) karena merusak “ukuran-ukuran” yang ditetapkan-Nya. Hal itu mengindikasikan secara ekologis, dakwah lingkungan mesti diarahkan pada pelestarian lingkungan oleh siapapun dan kapanpun.

Pelestarian lingkungan tidak boleh tidak harus dilakukan oleh manusia. Secara spiritual fiqhiyah, Allah Swt. memiliki kepedulian ekologis yang paripurna karena alam merupakan ciptaan-Nya juga. Paling tidak hal ini memberikan keseimbangan pola pikir bahwa lingkungan yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikanAllah Swt. pada manusia tidak akan lestari dan pulih apabila tidak ada campur tangan manusia. Di dalam al-Qur’an Allah Swt. berfirman sebagai berikut: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah san kesucian-Nya.” (Q.S. al-Hadid [57]: 4).

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

ka'bah

Makna Filosofis Ritual Haji (1)

Salah satu pengamalan ajaran Islam yang menarik untuk dikaji adalah ibadah haji. Ibadah yang setiap …

permasalahan haji di Indonesia

Permasalahan Haji di Indonesia, Inilah Solusinya!

Ibadah haji yang dilakukan Nabi ternyata berbeda dengan yang dipahami oleh umat Islam saat ini, …