makna khilafah

Ragam Makna dan Bentuk Kata Khalifah dan Khilafah

Diskursus khalifah dan khilafah semakin tajam karena diiringi dengan semakin geliatnya aktivitas atau kelompok pengusung khilafah di ruang-ruang publik. Orang awam yang tadinya asing dengan kedua istilah tersebut, kini mereka pelan-pelan mulai mencari-cari tentang dua istilah tersebut melalui berbagai sumber.

Secara historis, istilah khilafah bisa dilacak pasca Rasulullah Saw wafat. Pada waktu itu, muncul berbagai persoalan di kalangan umat Islam, salah satunya mengenai kekuasaan politik—siapa yang akan mengganti beliau sebagai pemimpin umat Islam—dan bagaimana bentuk sistem negara yang akan diterapkan (Lihat Munawir Sjadzali, 1993: 1-10).

Alquran dan hadis sebagai panduan umat Islam, tidak memberikan informasi yang spesifik mengenai siapa yang berhak menggantikan Rasulullah. Pada saat itu pula muncul sebuah pertanyaan mendasar di kalangan para sahabat, yakni bagaimana sistem atau bentuk pemerintahan yang digunakan (Lihat Jufri Suyuthi Pulungan, 1985:  ix). Pertanyaan atau realitas tersebut menyebabkan lahirnya beragam penafsiran, bahkan perbedaan ini berjalan hingga abad modern ini (Maryam Jameelah, 1982: 200-215). Berbagai kelompok pun muncul dengan sudut pandang sendiri-sendiri dalam melihat konsep negara Islam yang mereka inginkan (Ali Abdur Raziq, 1985 dan Syamsuddin Ramadhan, 2003).

Dari persoalan di atas, muncullah konsep khalifah (pemimpin) dan pemerintahan (khilafah) dalam Islam (Zallum, 2002). Dengan demikian, munculnya konsep khilafah dalam Islam erat kaitannya dengan ayat-ayat tentang khalifah sebagai pemimimpin. Kepemimpinan lazimnya membutuhkan sistem atau lembaga sebagai aktualisasi tujuan atau cita-cita bersama (pemimpin dan yang dipimpin). Dari sinilah muncul istilah khilafah.

Sebelum mengulas pengertian khalifah secara bahasa dan istilah, penulis akan merujuk terlebih dahulu pada petunjuk yang terdapat di dalam Alquran mengenai kata khalafah yang tersebar dalam beberapa ayat. Berdasarkan hasil pemetaraan derivasi kata khalifah dalam Alquran, ditemukan 127 kata khalifah dalam Alquran dengan beragam redaksi dan derivasi (Muhammad Shodiq dan Mauidlotun Nisa, 2019: 249-250). Meskipun demikian, kata khalifah yang secara langsung disebutkan dengan bentuk nomina berpola khalîfah, hanya ada 9 kali, sebagaimana disebutkan di bawah ini (Al-Raghib al-Isfahani, 1416 H: 123):

a). Bentuk tunggal: khalîfah

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ.

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ.

Artinya: “(Allah berfirman): “ Hai Daud! Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (QS. Shâd [38]: 26).

Baca Juga:  Mengangkat Khalifah melalui Mekanisme Demokrasi

b).  Bentuk jama’: khulafâ

وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا وَتَنۡحِتُونَ ٱلۡجِبَالَ بُيُوتٗاۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ.

Artinya: “ Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. Al-A’raf [7]: 74).

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ.

Artinya: “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat”. (QS. An-Naml [27]: 62).

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكُمۡ خَلَٰٓئِفَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لِنَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ.

Artinya: “Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” (QS. Yûnus [10]: 14).

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ خَلَٰٓئِفَ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَاۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ.

Artinya: “Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yûnus [10]: 73).

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ فَمَن كَفَرَ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۥۖ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ إِلَّا مَقۡتٗاۖ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ.

Artinya: “ Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (QS. Al-Fâtir [35]: 39).

وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ.

Artinya: “ Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am [6]: 165).

أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ.

Artinya: “Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-A’raf [7]: 69).

Baca Juga:  Hikmah Isra dan Miraj Nabi Muhammad Saw

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ خَلَٰٓئِفَ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ ب َايَٰتِنَاۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ.

Artinya: “Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (QS. Yûnus [10]: 73).

Berdasarkan pengklasifikasian ayat-ayat tentang kata khalifah di atas, dapat dirumuskan beberapa pemahaman sebagai berikut: pertama, kata khalîfah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30 dan QS. Shâd [38]: 29, bermakna sebagai wakil Allah di muka bumi ini. Dan dua ayat ini yang menyebutkan kata khalîfah secara langsung.

Mutawalli Asy-Sya’rawi memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arti khalifah. Bahwa yang menggantikan itu boleh jadi menyangkut waktu ataupun tempat (Mutawalli asy-Sya’rawi, 1997: 10-15). Artinya, pergantian yang dimaksud adalah antara sesama makhluk manusia dalam kehidupan ini, tetapi juga dapat berarti kekhalifahan manusia yang diterima dari Allah. Sementara menurut al-Maraghi, khalifah berarti jenis lain dari makhluk sebelumnya, disamping itu juga bisa diartikan sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-nya terhadap manusia (Ahmad Musthafa al-Maraghi, 1993: 134).

Muhammad Jamal al-Qasini menafsirkan ayat di atas dengan makna “menjadikan suatu kaum menggantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, suatu generasi sesudah generasi sesudah generasi sebelumnya. Pendapat ini juga didasarkan keterangan pada ayat lain, yakni QS al-An’am [6]: 165 (al-Qasimi, 1957: 94).

Kedua, QS. Shâd yang berbicara mengenai Nabi Daud, makna khalîfatullah bersifat universal, yaitu berlaku untuk setiap manusia (M. Din Syamsudin,  2001: 80). Sedangkan kata khulafa’ dalam QS. Al-A’raf [7]: 74 dan An-Naml [27]: 62, turun dalam konteks pembicaraan terhadap orang-orang kafir. Lain halnya dengan kata khalâif sebagaimana tersurat dalam QS. Al-An’am [6]: 165, QS. Yûnus [10]: 12 dan 73 serta QS. Fâtir [35]: 35, digunakan dalam konteks pemimpin umat manusia (penduduk bumi) pada umumnya dan orang beriman pada khususnya.

Semua padanan kata khilafah—yang seakar dengan kata khalifah (mufrad) dan khalâif (jama’)—berasal dari kata dasar (fi’il madi) khalafa. Kata khilâfah dalam bahasa Arab merupakan bentuk kata benda verbal yang membutuhkan subjek yang kemudian disebut sebagai khalîfah. Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa khilâfah menunjuk kepada serangkaian tindakan atau sistem yang dijalankan oleh khalîfah itu sendiri. Dengan demikian, khilâfah membutuhkan khalîfah. Dengan kata lain, tidak akan terwujud suatu khilâfah tanpa kehadiran khalîfah (Ade Shitu Agbetola, 1991:  25).

Selain dalam Alquran, kata khalifah juga banyak disebutkan dalam hadis. Dalam hadis, makna khalifah lebih mengarah pada arti kepemimpinan, diantaranya terekam dalam hadis-hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِينَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ.

Baca Juga:  Berperang di Bulan Muharram

Artinya: “Dari Abu Hazim dia berkata: “Saya pernah duduk (menjadi murid) Abu Hurairah selama lima tahun, saya pernah mendengar dia menceritakan dari Rasulullah, beliau bersabda: ‘Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap Nabi meningal, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain sesudahnya. Dan sungguh, tidk akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan) yang mereka akan banyak berbuat dosa.’ Para sahabat bertanya, “Apa yang Anda perintahkan untuk kami jika itu terjadi? Beliau menjawab: “Tepatilah baiat yang pertama, kemudian yang sesudah itu. Dan penuhilah hak mereka, karena Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka tentang pemerintahan mereka.(HR. Muslim, Bukhari, dan Imam Ahmad).

عَنْ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.

Artinya: “Dari Hudzaifah, Rasulullah bersabda: “Di tengah-tengah kalian ada kenabian dan akan berlangsung sekehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah berdasar manhaj kenanian dan berlangsung sekehendak-Nya. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian akan ada kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada khilafah berbasar manhaj kenabian. Kemudian Nabi Saw. diam.” ( HR. Imam Ahmad).

 

DAFTAR REFERENSI

Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: UI-Press, 1993.

 

Jufri Suyuthi Pulungan. Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1985.

 

Maryam Jameelah. Islam dan Modernisme, terj. A. Jainuri dan Syafiq Mughni. Surabaya: Usaha Nasional, 1982.

Ali Abdur Raziq. Khilafah dan Pemerintahan dalam Islam, terj. Afif Mohammad. Bandung: Pustaka, 1985.

Abdul Qadim Zallum. Nidzam al-Hukm fi al-Islam. Dar al-Ummah, 2002.

Muhammad Shodiq dan Mauidlotun Nisa. “Integrasi Interpretasi makna Kkata Khaligah: Respon terhadap Gerakan Hizbut Tahrir Indonesia.” Al-Turas, vol. 25, No. 2, 2019.

Al-Raghib al-Isfahani. Mu’jam Mufradat Alfazh Alqurani. Damaskus: Dar al-Qalam, 1416 H.

Quraish Shihab, Wawasan Alquran. Bandung: Mizan, 1996.

Mutawalli asy-Sya’rawi. Tafsir asy-Sya’rawi. Beirut: Mathabi Akhbar, 1997.

Ahmad Musthafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi, terj. Anshori Umar Sitanggal, dkk. Toha Putra, 1993).

Muhammad Jamal al-Din al-Qasimi. Tafsir al-Qasimi al-Musamma Mahasin al-Ta’wil. Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957

  1. Din Syamsudin. Etika Beragama dalam Membangun Masyarakat Madani. Jakarta: Logos, 2001

Ade Shitu Agbetola. “Theory of al-Khilafah in The Religio-Political View of Sayyid Quthb”, dalam Hamdard Islamicus: Quartely Journal of Studies anda Research in Islam, vol. XIV, No. 2, Summer, 1991.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir