ratu elizabeth
ratu elizabeth

Ratu Elizabeth II Meninggal, Bolehkah Mendoakan dan Menghormati Jenazah Non Muslim?

Kepergian Ratu Elizabeth II menyisakan duka mendalam bagi rakyat Inggris. Jutaan rakyat Inggris larut dalam kesedihan dan terus berdoa untuk mengenang sang ratu yang memberikan sumbangan signifikan dalam plikasi sikap kerunanan umat beragama, toleransi agama, kebangsaan dan kemanusiaan.

Umat Islam juga ikut ambil bagian, jamaah di Masjid Pusat London menyanyikan lagu kebangsaan, God Save The King kali pertama sejak kematian Ratu. Momen itu digelar sebagai bentuk penghormatan umat Islam terhadap ratu, untuk menunjukkan simpati dan perasaan komunitas muslim di Inggris.

Ratu sangat dicintai semua orang karena capaian prestasi dan hal-hal baik tentangnya. Di antara capaian prestasi ratu yang mengagumkan adalah komitmennya terhadap multikulturalisme, pelayanan publik yang baik dan adil sehingga Inggris layak digelari oasis kebebasan.

Penghormatan yang diselenggarakan oleh komunitas muslim merupakan belasungkawa dan doa mereka bersama Raja dan keluarga kerajaan dalam situasi duka tersebut.

Fenomena umat Islam di Inggris ini di satu sisi menggembirakan karena mencerminkan identitas muslim moderat yang akrab dengan perbedaan dan bergaul serta bersahabat tanpa sekat agama. Namun, pada sisi yang lain akan menimbulkan perdebatan tentang penghormatan atau “mendoakan kebaikan” terhadap Ratu Elizabeth II.

Islam adalah agama sempurna, luas dan kasih sayang. Ia diturunkan untuk menyelamatkan semua manusia. Islam sejatinya hadir bukan hanya untuk umat Islam saja, namun untuk semua orang. Yang membedakan muslim dengan non muslim hanya tentang kesadaran untuk menerima kebenaran dalam Islam dan hidayah Tuhan.

Sebagai agama rahmat untuk semesta alam, Islam mengajarkan kasih sayang dan melarang untuk saling bermusuhan. Cita kedamaian dan persaudaraan sangat jelas dijelaskan dalam al Qur’an dan praktek hidup Baginda Nabi.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Legalitas Syariat Menafikan Tanggung Jawab

Paling mudah bisa kita lihat dalam kalimat “basmalah”. Tuhan adalah Maha Penyayang di dunia dan akhirat. Al rahman adalah sifat pengasih Tuhan di dunia untuk semua manusia. Dalam al Rahman, kasih sayang itu bersifat universal, tidak hanya terbatas untuk umat Islam.

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik tanpa dibatasi sekat agama dan kelompok, kepada siapa saja, dan kepada apa saja. Hal tersebut tidak berarti aktifitas menggadaikan akidah. Bukan untuk menyebarang dalam rangka membenarkan akidah lain.

Hukum Mendoakan Kebaikan Terhadap Non Muslim

Dari sahabat Anas bin Malik, suatu ketika Rasulullah kehausan, seorang laki-laki Yahudi memberikan air kepada beliau. Rasulullah membalasnya dengan doa “Jammakallah” (semoga mengelokkan dirimu)”. Karena doa Nabi tersebut, tidak ada satu uban pun yang tumbu di kepala Yahudi tersebut.

Imam Nawawi dalam kitabnya al Adzkar menjelaskan, berdasarkan hadits di atas ulama sepakat boleh mendoakan kafir dzimmi (non muslim yang hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam). Seperti doa semoga sehat badannya, kelancaran rezekinya, sukses pekerjaannya dan lain-lain.

Tetapi, lanjut Imam Nawawi, tidak boleh mendoakan Non muslim dengan doa ampunan. Hal ini tidak diperbolehkan karena ada perbedaan teologi antara muslim dan dzimmi. Doa untuk dzimmi hanya pada soal yang sifatnya duniawi. Seperti doa semoga mendapat hidayah, semoga sehat badannya, diberi kecukupan rezeki, dll.

Sedangkan doa memohon ampunan bagi dzimmi yang meninggal dunia hukumnya haram, demikian pula menshalatinya. “Dan jangan selamanya menshalati salah satu dari mereka yang mati”.

Akan tetapi kalau memintakan ampunan bagi non muslim yang masih hidup hukmnya ditafshil (diperinci); jika tujuannya supaya non muslim tersebut mendapat hidayah dan memeluk Islam, maka boleh. Namun jika tujuannya hanya mengharap non muslim diampuni dosa-dosanya, hukumnya haram.

Baca Juga:  Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber Gila? Inilah Perspektif Fikih Jinayat bagi Orang Gila

Penjelasan dalam al Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kemusyrikan”.

Sebagai kesimpulan, muslim yang baik adalah mereka yang meyakini agama Islam sebagai pedoman etika dan petunjuk hidup dengan sepenuh hati, namun tanpa menihilkan nilai-nilai kemanusiaan; respek dan rasa hormat kepada pemeluk agama lain. Dalam ranah sosial muslim harus bergaul secara luas, egaliter dan teguh pendirian.

Berbelasungkawa, menghadiri undangan non muslim, gotong-royong, saling berbagi adalah bentuk relasi sosial yang dianjurkan dalam agama Islam. Membina hubungan baik, saling menghormati, bahkan mendoakan mereka untuk kebaikan duniawi tidak larang.

Maka, apa yang dilakukan komunitas muslim Inggris saya kira tidak berlebihan, masih dalam batas bingkai syariat Islam. Tak lebih, hanya belasungkawa mengingat sang ratu berjasa besar terhadap umat Islam. Komitmennya terhadap multikulturalisme menjadi sumbangan berharga bagi muslim Inggris yang merupakan penduduk minoritas di negara tersebut.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

keragaman

Dalil Toleransi Beragama dalam Al Qur’an : Kemajemukan adalah Kehendak Ilahi

Hari ini masyarakat terkadang begitu alergi dengan perbedaan. Politisasi identitas semakin menguat dan mudah menggolongkan …

pendidikan agama

Panduan Fikih Cara Guru Mendidik dan Memberi Sanksi Murid

Insiden kekerasan fisik hingga menyebabkan kematian salah seorang santri di Ponpes Gontor Jawa Timur menjadi …