densus
densus

Resmi Ditangkap Densus 88, Begini Jejak Zulkarnaen di JI

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti teror berhasil menangkap seorang DPO dari organisasi terorisme Jamaah Islamiyah yang pernah terlibat mendukung aksi teror Bom Bali I, 18 tahun lalu. Zulkarnaen (57) alias Aris Sumarsono, alias Daud, alias Zaenal Arifin, alias Abdulrahman ditangkap pada Kamis, (10/12) lalu di Gang Kolibri, Toto Harjo, Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Ia menjadi DPO selama 18 tahun, tepat setelah Bom Bali I berhasil meledak dan menewaskan ratusan korban jiwa.

Buronan kasus bom Bali I asal Kabupaten Sragen Jawa Tengah ini, menurut kesaksian Jumanto selaku Kepala Desa Gebang (daerah asal Zulkarnaen), telah menghilang selama 20 tahun terakhir. Pihaknya mengatakan, Zulkarnaen telah menikah dengan Rahayuningtyas dan dikaruniai lima anak. Ia juga mengatakan bahwa keluarga Zulkarnaen sejak dahulu sangat tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

“Keluarganya sangat tertutup. Saya sebagai pak lurah masuk ke rumahnya saja ndak bisa. Ibunya sangat tertutup tidak mau komunikasi dengan siapapun,” katanya, sebagaimana dikutip dari portal online merdeka[dot]com.

Sebelumnya, Zulkarnaen diduga terlibat dalam upaya menyembunyikan Upik Lawanga alias Taufik Bulaga alias Udin, yang berhasil ditangkap Densus 88 pada akhir November lalu. Upik alias Taufik, alias Udin merupakan terduga teroris ahli perakit bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Jakarta, beberapa tahun lalu. Melalui aksi terornya, ia telah menewaskan sebanyak 27 orang dan melukai setidaknya 92 orang pada 10 kali aksi terorisme.

Jejak Zulkarnaen di JI

Dikutip dari keterangan mantan Mantiqi III organisasi terorisme Jamaah Islamiyah sekaligus adik kandung Ali Ghufron alias Mukhlas yang merupakan aktor Bom Bali I, di laman Facebooknya, Nasir Abbas menyebut bahwa sosok Zulkarnaen merupakan seniornya di JI. Menurutnya, saat Bom Bali I terjadi, Zulkarnaen menjabat sebagai Dewan Askari Markaziyah (Sayap militer) di JI.

Baca Juga:  Walimatul Hamli, Bagaimana Komentar Fikih?

“Orangnya lembut, tidak suka becanda dan tidak banyak bicara. Saya ketemu beliau 5 hari setelah peristiwa Bom Bali 12 Oktober 2002 di kegiatan kumpul rutin pimpinan JI yang diadakan setiap 6 bulan sekali, yang kami sebut sebagai Rapat Markaziyah,” jelas Nasir.

Sejak awal, Nasir Abbas sudah menaruh curiga dengan beberapa anggota JI. Sebab sepengetahuan Nasir, hanya anggota JI lah yang memiliki keterampilan untuk merakit bom dengan daya ledak yang tinggi. Untuk mencari jawaban atas kecurigaan tersebut, pada sela rapat Markaziyah, Nasir mencoba memberanikan diri mendekati Zulkarnaen, ia bertanya kepadanya soal dalang aksi bom Bali I.

“Pak, siapa yg bikin Bom Bali?” tanya Nasir.

“Buat apa antum tau, dan apa untungnya kalau antum tau?” respons Zulkarnain.

Sampai di situ, Nasir sudah paham bahwa aksi ini memang dirancang oleh Mukhlas dan dusetujui oleh Zulkarnaen.

Diketahui, meski Zulkarnaen merupakan ketua dewan Askari Markaziyah, tetapi tugasnya bukan menjadi eksekutor lapangan, melainkan sebagai penanggungjawab aksi teror. Beberapa aksi yang ia dukung antara lain ialah bom di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2000, bom Bali I pada tahun 2002 yang menewaskan sebanyak 202 orang, Hotel JW Marriott pada tahun 2003, serta bom di Kedutaan Besar Australia, Jakarta pada September 2004.

Selain itu, Zulkarnaen juga pernah terlibat dan membentuk tim khos (tim khusus) untuk merespons konflik di Ambon dan Poso.  JI menganggap konflik di Ambon dan Poso adalah medan yang sah untuk berjihad. Sehingga terjadilah konflik besar-besaran dan beberapa aksi teror di daerah tersebut.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”