Rokok Haram, Negara Paceklik: Solusi Fikih atas Persoalan Dilematis

0
540
hukum rokok

Perdebatan soal status hukum rokok memang tiada habisnya. Satu sisi ada yang melarang dengan status haram, tetapi juga ada yang membolehkan dengan status mubah. Persoalan ini memang mirip bagaimana negara bersikap. Kampanye bidang kesehatan tentu akan melarang rokok, tetapi hal itu juga tidak diikuti pelarangan di sektor perdagangan.

Labudda, sektor industri rokok menopang bisnis dan investasi di Indonesia. Fantastik, rokok menjadi lumbung utama pemasukan kas negara melalui cukai yang setiap tahun mencapai triliunan rupiah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif yang kian meroket dari tahun ke tahun. Sejak 2007 total penerimaan dari cukai sebesar Rp 44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp145,53 triliun pada 2016. Proporsi penerimaan cukai terhadap total penerimaan negara sebesar 6,31 persen pada 2007. Porsi ini meningkat menjadi 7,10 persen pada 2012 dengan total penerimaan cukai sebesar Rp 95,03 triliun. Pada 2015, proporsinya sebesar 9,59 persen dari total penerimaan negara sebesar Rp144,64 triliun. Bisa dibayangkan di tahun 2020 berapa triliun yang diraup Negara.

Bahaya merokok sudah terbukti secara medis menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti jantung koronerkanker paru, penyakit paru obstruktif dan stroke. Pada kenyataannya, penyakit-penyakit tersebut baru sebagian dari bahaya merokok bagi kesehatan. Pasalnya, ada banyak bahaya merokok lainnya yang tidak disadari seorang perokok. Misalnya penurunan daya tahan tubuh sehingga mereka lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Hal tersebut cenderung terjadi secara singkat dan mungkin menyebabkan dampak kesehatan pada kehidupan sehari-hari seorang perokok.

Namun, bahaya merokok ternyata mendapatkan sanggahan yang cukup pedas dari livescience.com Menurutnya,  ada 5 manfaat merokok untuk kesehatan selain berbagai bahaya yang mengintai. Pertama, manfaat Merokok menurunkan risiko operasi penggantian lutut. Kedua, merokok menurunkan risiko penyakit parkinson. Ketiga, merokok dapat menurunkan obesitas. Keempat, merokok menurunkan resiko kematian setelah beberapa kali serangan jantung. Kelima, merokok membantu clopidogrel, obat jantung bekerja lebih baik.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Metode Mencegah Kemudaratan

Konklusinya, antara bahaya rokok dan manfaat rokok, keduanya bersifat dhanni. Kebenaran keduanya relatif. Artinya, rokok bahaya bagi seseorang, namun bisa tidak bagi seorang lainnya. Seseorang yang memiliki rekam test kesehatan yang kurang baik, tentu rokok sangat berbahaya. Tetapi bagi yang memiliki riwayat test kesehatan yang tangguh, tentu rokok bukanlah hal yang mesti ditakutkan.

Dalam satu kondisi tertentu rokok bisa menghadirkan ide-ide inovatif yang bermanfaat. Dan dalam kondisi lainnya, justru rokoklah menjadi penyebab lumpuhnya ide-ide kreatif. Maka relativitas ini, selalu mengantarkan kebingungan.

Tentang distopnya rokok atau diharamkannya rokok dengan segala dimensi jenisnya, mutlak akan membuat Negara paceklik, kekurangan pemasukan kas pada Negara. Negara, sebagai pranata, saat mengalami paceklik, akan selalu berujung kemelut dalam kehidupan rakyat, dengan segala dimensinya.

Krisis Moneter akan kembali menhantui rakyat. Kulturisasi pun akan berantakan. Bila ini terjadi, tentunya, ini adalah masalah besar bagi Negara. Masalah besar  juga bagi rakyat.  Atau bahasa lainnya, ini akan menjadi masalah majemuk bagi Negara dan rakyat. Sementara, rokok hanya menjadi masalah personal dan individual.

Mana yang harus dipilih dan ditempuh. Mengingat keduanya, mengharamkan rokok dan menghalalkan rokok, atau menjaga stabilitas ekonomi Negara dan menjaga kesehatan umat adalah situasi tersulit untuk mengambil keputusan. Untuk mengahadapi situasi sulit ini fikih telah memberikan solusi.

Dalam kaidah fiqhiyyah ada suatu kaidah yang berbunyi

فاذا تعارض المفسدتان روعي اعظمهما ضررا بارتكاب اخفهما

Artinya : “Apabila terdapat dua resiko, maka yang mesti diperhatikan adalah resiko yang paling besar dampaknya dengan cara melakukan resiko yang lebih kecil dampaknya”. Dawr al-qawaid al-Kulliyyah, Najm al-Din, 1/34

Kaidah ini, sealur dengan komitmen Nabi yang mederat.

Baca Juga:  5 Tindakan yang Dilarang bagi Orang yang Sedang Junub

عن عائشة رضي الله تعالى عنها قالت ما خير بين أمرين إلا اختار أيسرهما ما لم يكن مأثما

Dari ‘Aisyah ra. “Nabi tidak pernah menjatuhkan pilihan pada dua pilihan, kecuali Beliau memilih hal yang lebih mudah (kecil dampaknya) selagi hal itu tidak dosa”. A’lam al-Nubuwwah, al-Mawardi, 1/104

Tetap bersikukuh mengharamkan rokok yang memiliki dampak besar pada Negara, adalah tindakan tidak arif. Sebab, tindakan ini sama halnya dengan mempertaruhkan keadaan Negara secara multi dimensial. Sosioekonomi, sosiokultur, sosiodemokrasi akan terancam vakum. Hanya karena lebih mementingkan kepentingan lokalistik, yaitu kesehatan individu. Maka, alangkah lebih bijaknya, bila rokok tidak diganggu gugat. Apalagi gugat cerai !

Namun, ini sekali lagi adalah persoalan ijtihadi yang meniscayakan ikhtilafiyah. Tentu ada penghormatan dan penghargaan atas jerih payah ijtihad yang dilakukan. Orang beriman sekaligus berakal akan mudah menerima dan mengambil suatu hukum dengan bijak.

Tinggalkan Balasan